
Reyyan si anak jujur.
"Weva!" panggil Laila membuat Weva mengangkat pandangannya menatap Laila yang terlihat begitu tersenyum.
Wajah cantik berparas ke ibuan itu membuat Weva berhasil diam sejenak. Ken beruntung mempunyai Mama seperti Laila. Dia selalu tersenyum kepadanya dengan senyum yang begitu sangat tulus.
Jujur Weva tak pernah mendapatkan senyum setulus itu dari kedua orang tuanya, apalagi kepada Mommy yang cueknya minta ampun.
Weva tak mengerti sebenarnya mengapa Mommy sangat berbeda seperti Mommy-mommy yang lain, contohnya seperti Mommy dari Wiwi dan Ken.
"Weva!"
"Iya, Tante?"
"Kok, bengong, sih kamu? Dari tadi Tante manggil kamu, loh."
Weva tersenyum sambil menyisir rambutnya yang telah rapi itu dengan jari-jari tangannya.
"Yuk makan!"
"Ah? We-we-weva bisa makan?" tanya Weva sambil menunjuk ke arah makanan yang kini ada di hadapannya.
"Loh, iya, dong. Masa nggak boleh, sih? Tante ini udah masak enak, loh. Ayo makan!"
"Iya tante. Makasih, Tante. Weva bakalan makan, kok," ujar Weva lalu tersenyum penuh licik menatap Ken yang nampak menatapnya seperti tatapan yang begitu mengancam.
"Makan yang banyak, yah, Wev!"
"Siap, Tante. Weva pasti makan yang banyak kok," ujar Weva lalu kembali menatap Ken yang sedari tadi masih melotot penuh peringatan.
Huh, rasanya hati Weva berbunga-bunga di waktu ini. Kali ini ia benar-benar siap untuk menyantap makanan yang Laila hidangkan untuk dirinya. Lagi pula Weva yakin jika Ken tak akan menegurnya dengan kalimat super sinis seperti apa yang selalu ia dapatkan dari Ken di hadapan Mamanya itu.
Weva bangkit dan menarik tempat nasi dengan tatapannya yang nampak mengejek Ken yang mulai terbakar amarah di sana, terlebih lagi ketika weva meletakkan nasi putih yang nampak menggunung di permukaan piringnya. Hah, rasanya Weva sangat bahagia melihat Ken yang mulai resah di sana.
Tangan Weva kini bergerak berusaha meraih piring berisi daging ayam dengan tatapannya yang terlihat mengejek Ken lagi dan lagi.
"Jangan!" bisik Ken dengan gerakan bibirnya yang nyaris tak bergerak sembari membulatkan kedua matanya.
Ken berusaha untuk melarang Weva dengan cara berbisik agar Laila tak mendengar suaranya.
"Apa Ken?" tanya Weva dengan sengaja membesarkan nada suaranya agar Laila mendengar ujarannya.
Ken tersentak kaget dan menoleh menatap Laila yang nampaknya ikut menatap ke arah Ken.
"Aa? Kenapa?" tanya Ken dengan wajahnya yang sok polos.
"Emm, kayaknya tadi Ken mau ngomong, ya?"
"Ngomong? Hahaha, Nggak! Gue nggak ngomong apa-apa, kok," jawab Ken sambil tertawa dan memakan apel yang telah ia kupas itu.
"Weva boleh makan, kan?" Tanya Weva sembari tersenyum penuh jahil.
__ADS_1
"Oh, Kok lo malah nanya gue, sih?"
Ken tersenyum kaku. Ia melirik menatap Laila sejenak dan kembali menatap Weva.
"Ya-ya Iya bo-boleh. Lo ma-?akan aja! Lo nggak usah nanya ke gue kali," jawab Ken berbohong padahal di dalam hatinya ia sudah berniat untuk mencekik leher Weva jika ia berani memakan makanan yang menutur Ken akan menambah berat badan Weva.
Weva bersorak keras di dalam hati. Sekarang ia sudah tahu apa kelemahan pria pembully itu. Yah, kelemahannya ada pada Laila, Mama dari Ken
"Makasih, Ken," jawab Weva yang tersenyum bahagia.
Ken melirik menatap Laila lagi yang terlihat masih menatapnya dan tak berselang lama ia kembali menatap Weva.
Ken tersenyum paksa lalu ia mengangguk.
"Jeng?"
Laila menoleh menatap Tante Sari.
"Sini dulu, dong! Ini barangnya yang mau dibungkus buat pengiriman yang mana?"
"Ada di situ di pojok?"
"Aduh, pusing saya, jeng. Udah lah sini bantu cari. Nanti salah bungkus malah jadi masalah."
"Yah, udah tunggu, yah, jeng! Weva!"
Weva mendongak. "Iya Tante?"
"Iya, Tante."
"Ingat! Nggak usah malu di rumah Tante. Makan yang banyak, ya!" ujarnya sambil melangkah pergi.
"Iya, Tante. Makasih, Tante!!!" teriak Weva sambil menatap kepergian Laila yang sudah tak terlihat lagi.
"Heh!" bentak Ken sembari memukul permukaan meja membuat Weva yang sejak tadi asyik menatap kepergian Laila langsung dibuat tersentak kaget.
Weva menoleh menatap Ken yang kini menatapnya dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Lo ngambil kesempatan dalam kesempitan, yah?"
"Yah iya lah, lagi pula Weva itu lapar banget dari tadi dan ingat, yah Ken! Weva itu sudah resmi menjadi tamu di sini jadi-"
"Diem lo, Endut!" Tunjuk Ken membuat Weva langsung terdiam.
Kedua biji mata Weva kini menatap ke arah jari telunjuk Ken yang bisa saja menusuknya di detik ini juga.
"Heh, Endut! Lo jangan macam-macam, yah sama gue!"
"Ken, macam-macam gimana, sih?"
__ADS_1
"Yah, itu! Lo mau makan? Lo kan tahu kalau gue udah ngelarang lo buat makan!"
"Yah masa Ken ngelarang Weva makan?"
"Yah emang."
"Terus makanan ini gimana? Masa Weva nolak pemberian mamanya Ken?"
"Terserah! Gue nggak mau tau pokoknya lo nggak usah makan! Apa lagi kalau lo makan ayam ini!" ancam Ken.
"Kok, bisik-bisik, sih?" tanya Laila yang kembali duduk di samping Ken.
"Itu Tante tadi Ken-"
"Nggak, kok, Ma," potong Ken cepat.
Ken kembali melotot membuat Weva yang mendapati tatapan ancaman itu segera tersenyum licik dan menoleh menatap Laila di sana.
"Tante."
"Iya Weva?"
"Weva ambil dua, yah Tante," ujar Weva sembari meraihnya potongan daging ayam yang ditumis dengan kecap dan meletakkannya di permukaan piring.
Ken terdiam tak menyangka dengan mulutnya yang menganga menatap dua potongan ayam yang mendarat di permukaan piring milik Weva.
"Wah, Tante malah seneng, loh kalau kamu ambil dua."
"Weva makan, yah, Tante."
"Iya silahkan!"
Weva tersenyum kegirangan mendegar ujaran Laila walau sebenarnya senyum kegirangan ini merupakan senyum ejekan untuk Ken yang sedari tadi menatapnya tajam.
"Aaaaaaaaaa," ujar Weva sembari menatap Ken yang menatapnya tajam ketika potongan ayam itu bergerak ke arah mulut Weva.
"Jangan!"
"Awas lo kalau lo berani makan!"
Weva tersenyum. Kedua bibirnya masih terbuka seakan telah siap untuk menerima potongan daging ayam itu.
"Gue bakalan marah! Awas lo!" ancamnya sambil menggerutu kesal membuat rahangnya menegang.
Weva tak peduli dengan hal itu. Sepotong ayam itu sekarang sudah masuk ke dalam rongga mulut Weva.
"Aemmmm."
Bodoh! Yah, Ken mengacak-acak rambutnya kesal dengan Weva yang telah berhasil menyuapi mulutnya itu dengan potongan ayam.
__ADS_1
"Makan, yah Wev! Tante udah masak, banyak loh, ini sebenarnya khusus untuk anak kesayangan Mama, tapi karena Weva untuk pertama kalinya datang ke rumah kami, jadi makanan ini juga spesial untuk Weva."
Kunyahan mulut Weva terhenti. Anak kesayangan?