
Ken menoleh menatap Weva dan tersenyum bahagia.
"Brilyan udah sadar."
Weva dan Ken kini berlari sambil saling berpegangan tangan melewati lorong rumah sakit menuju ruangan ICU, tempat dimana Brilyan ada di sana.
Langkah keduanya terhenti mendapati ruangan ICU yang benar-benar telah kosong, tak ada Brilyan di dalam sana.
"Suster!" panggil Ken yang berlari menghampiri wanita berpakaian putih itu.
"Iya ada yang bisa saya bantu?"
"Pasien atas nama Brilyan yang ada di ruangan ICU dimana, ya?"
"Oh yang kritis itu? Dia sudah siuman dari tadi dan sekarang dia sudah dipindahkan ke ruangan rawat di kamar 1D."
"Kamar 1D?"
"Iya, dek. Saya permisi dulu."
Ken mengangguk sambil tersenyum. Ia menatap Weva berapa saat hingga akhirnya kembali berlari menuju ruangan 1D setelah beberapa kali bertanya kepada perawat yang ia jumpai.
"Di sini Ken!" ujar Weva yang menarik pergelangan tangan Ken membuat langkahnya terhenti.
Ken mendorong pintu ruangan mendapati sosok Brilyan yang nampak dipeluk oleh Laila dan pak Ahmad secara bersamaan sambil menangis. Dari sini Ken telah sadar jika Brilyan, pria yang beberapa hari ini telah ia ketahui sebagai saudara kandungnya telah mengetahui semuanya.
Kini Brilyan tak seperti dulu lagi. Wajah Brilyan pucat, tubuhnya mengurus dengan kepalanya yang telah membotak karena telah menjalani kemoterapi setelah melewati operasi pengangkatan tumor otak.
"Weva," bisik Brilyan membuat Laila dan pak Ahmad melepaskan pelukannya.
Mereka menoleh menatap sosok Ken yang masih terpatung di bibir pintu. Melihat hal tersebut membuat Laila berlari kecil menghampiri Ken dan memeluknya membuat Weva dengan perlahan melepaskan pegangan tangannya tetapi Ken menahannya.
"Ken, Brilyan sudah tau semuanya."
Laila melepaskan pelukannya, ia tersenyum menatap sang Mama yang terlihat begitu sangat bahagia.
"Weva."
"Iya, Mama Laila?"
"Brilyan dari tadi nyariin kamu? Brilyan mau ketemu."
Mendengar hal itu membuat Weva tersenyum gugup, ia mendongak menatap Ken yang terlihat diam. Weva tak tau apa yang dipikirkan oleh Ken sekarang.
"Ayo! Brilyan mau ketemu," ajak Laila yang menarik pergelangan tangan Weva.
Kaki Weva melangkah membuat tangan Weva terbentang dengan tangan Ken. Ken menghela nafas panjang dan akhirnya dengan perlahan melepas pergelangan tangan Weva.
Menyadari hal itu membuat Weva langsung menoleh menatap sosok Ken yang tersenyum perlahan membuat Weva akhirnya tersenyum kecil walau sejujurnya Weva ingin tetap berpegang tangan dengan Ken.
Setibanya Brilyan langsung memeluk tubuh Weva yang terpatung mendapatkan pelukan yang tak pernah ia sangka-sangka dari sosok Brilyan. Nafas Weva seketika tertahan. Ia menoleh menatap Ken yang dengan cepat mengalihkan pandangannya seakan berpura-pura jika ia tak melihat hal tersebut.
__ADS_1
Suara isakan Brilyan terdengar membuat Weva sadar jika pria yang masih memeluknya itu sedang menangis.
"Aku minta maaf Weva. Aku minta maaf, tolong maafkan aku!"
"Aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu."
"Aku tidak tau kalau selama ini kamu mengejar aku karena kamu mengira aku adalah anak laki-laki itu."
"Brilyan!" ujar Weva yang mendorong tubuh Brilyan pelan membuat pelukan itu merenggang.
Weva duduk di kursi tepat di samping Brilyan yang masih menggenggam jemari tangannya dengan lembut.
"Weva udah maafin Brilyan jadi Brilyan nggak usah minta maaf sama Weva."
"Di sini bukan Brilyan yang salah tapi Weva, Weva yang udah salah orang dan mengira kalau anak laki-laki yang udah nolongin Weva adalah Brilyan," jelas Weva dengan nada yang lemah lembut.
"Tapi kamu tidak marah kan sama aku sama aku?"
kening Weva mengernyit, menatap bingung pada apa yang telah Brilyan ujarkan.
"Marah? Untuk apa Weva marah? Weva kan udah bilang kalau di sini bukan Brilyan yang salah tapi Weva yang salah."
Di satu sisi Ken berusaha untuk mencoba mengerti dengan keadaan. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia tak boleh melibatkan perasaan cemburu dalam situasi yang seperti ini.
"Hei, kurus kering!" panggil Ken membuat Brilyan dan yang lainnya menoleh menatap ke arah Ken yang kini melangkah mendekati sosok Brilyan.
"Lo udah tau, kan kalau kita ini adalah saudara kembar?"
Ken menarik nafas dan akhirnya ia kembali bicara, "Oh iya ngomong-ngomong lo nggak ada niatan mau meluk gue gitu?"
"Gue rindu tau mau meluk lo."
Mendengar hal itu membuat Laila menutup bibirnya yang begitu bahagia setelah mendengar kalimat tersebut. Ia tak menyangka jika Ken akan mengatakan hal manis ini kepada Brilyan.
Ken menaik turunkan kedua alisnya membuat Brilyan tersenyum.n
"Sebenarnya aku juga udah tau."
Mendengar hal itu membuat kening Ken mengeryit. Ia tak mengerti dengan apa yang telah Brilyanan katakan.
"Maksud lo?"
"Iya sebenarnya aku juga bingung. Ini mimpi atau bukan, aku juga tidak tau tapi aku pernah mendengar kalau Ken bilang seperti itu kan?"
"Ken ingin meluk aku, iya kan?"
Ken tertawa kecil. Ia mengganggu mengiyakan apa yang Brilyan katakan dan tak berselang lama Brilyan mengangkat kedua tangannya mempersilahkankan untuk memeluknya.
"Mau peluk aku sekarang atau besok?" tanya Brilyan.
Ken tersenyum simpul. Ia menggerakkan bola matanya ke kiri dan kanan menggambarkan jika ia sedang berpikir."
__ADS_1
"Besok aja, deh."
"Kok besok?"
"Emang kenapa?"
"Ya mau-mau gue lah."
"Kalau besok nanti keburu nggak ada waktu. Gue maunya sekarang aja."
Mendengar hal itu membuat Ken tertawa. Ia duduk di pinggir ranjang dan memeluk tubuh Brilyan membuat pak Ahmad, Johan, Weva tersenyum bahagia terlebih lagi kepada Laila, sosok wanita yang telah melahirkan dua putra yang kini telah dipertemukan dan berpelukan tepat di hadapannya melihat momen yang cukup begitu membahagiakan bagi sosok ibu sepertinya.
Jika ada hal yang paling membahagiakan maka hal inilah yang paling membahagiakan baginya.
...****...
Suasana ruangan rawat Brilyan kini menjadi sunyi yang hanya dihuni oleh sosok Brilyan yang bersandar di sandaran tempat tidur sementara Weva berada di kursi tepat di samping ranjang Brilyan sementara Ken baru saja keluar dari ruangan untuk mengantar pak Ahmad dan Laila pulang ke rumah.
Brilyan diam, menatap Weva begitu serius sedang mengupas buah apel berwarna merah itu dengan pisau.
"Sekarang aku jelek banget, kan?"
Weva yang sejak tadi diam dibuat terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Brilyan. Ia menoleh menatap Brilyan yang masih menatapnya.
"Jelek?"
Brilyan mengangguk.
"Nggak, siapa yang bilang kalau Brilyan jelek?"
"Aku, aku yang bilang soalnya aku sudah tidak punya rambut lagi. Aku sudah jelek, kurus dan tidak seperti dulu lagi."
"Brilyan nggak jelek kok."
"Terus kalau aku nggak jelek kenapa kamu nggak mau sama aku?"
Mendengar hal itu membuat Weva dibuat tercengang. Rasanya detak jantungnya berhenti berdetak di detik ini juga.
Setelah mendengar hal tersebut Weva meneguk salivanya, gerakan tangannya yang mengupas kulit apel itu juga ikut terhenti dan tak berselang lama ia kembali menggerakkan pisau itu dengan gugup, pertanyaan itu benar-benar membuatnya tak mampu untuk berpikir jernih.
Brilyan menghembuskan nafas cukup panjang lalu menggerakkan jari tangannya dan menyentuh tangan Weva yang tersentak kaget. Kedua matanya menatap serius kedua mata Brilyan yang begitu tulus.
"Sebenarnya aku sudah mencintai kamu, Weva."
"Wajah kamu membuat aku teringat dengan sosok almarhum mama aku. Setiap aku melihat kamu aku merasa jika mama aku ada di samping aku."
"ku merasa nyaman jika kamu berada di samping aku. Sekarang aku cuman mau tanya satu hal sama kamu."
"A-apa?"
Brilyan mengatur nafasnya baik-baik hingga akhirnya kembali bicara.
__ADS_1
"Kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Brilyan.