Princess Endut

Princess Endut
205. Dobrak!


__ADS_3

Suasana meja makan begitu sangat tenang. Suara dentingan sendok terdengar menghiasi ruangan yang hanya dihuni oleh Johan dan beberapa pelayan yang sesekali menuangkan air ke dalam gelas.


Johan menghentikan kunyahannya. Ia menelan makanan yang telah halus di dalam mulutnya. Ia menggerakkan bola matanya menatap ke arah anakan tangga dan tak berselang lama ia menatap ke arah jam yang ada pada tangannya.


"Baru kali ini anak itu belum turun juga untuk sarapan, biasanya anak itu sudah turun kalau jam seperti ini untuk sarapan pagi."


"Bi!"


"Iya, pak," sahut pelayan itu cepat, mendekat ke arah majikannya dan merendahkan tubuhnya sedikit.


"Panggil Brilyan! Katakan kepadanya kalau aku memanggilnya untuk sarapan pagi!"


Pelayan itu mengiyakan. Ia melangkah menaiki anakan tangga untuk mendatangi kamar anak majikannya itu. Baru kali ini ia harus membangunkan Brilyan, biasanya anak itu selalu datang sendiri tanpa harus dicari.


Ketukan pintu terdengar disaat ia sedang mengetuk permukaan pintu beberapa kali dan kemudian ia terdiam. Tak ada sahutan dari dalam sana.


"Tuan Brilyan!"


Tok!!!


Tok!!!


"Tuan Brilyan! Tuan dipanggil Pak Johan katanya disuruh turun ke bawah!"


Tetap saja, tak ada jawaban ataupun sahutan dari dalam. Sunyi dan sepi seakan telah menjadi jawaban bagi pelayan yang kini menghela nafas panjang.


"Tuan Brilyan!" panggilnya sekali lagi dan tetap saja tak ada jawaban membuat ia memutuskan untuk melangkah pergi.


Pelayan itu menghampiri Johan yang langsung menghentikan kunyahannya. Ia menyatukan dua belah jemari tangannya yang ia letakkan di atas meja.


"Dimana Brilyan?"


"Maaf, pak tapi Tuan Brilyan tidak membuka pintu."


Johan mendengus kesal.

__ADS_1


"Apa dia tidur?"


"Maaf pak tapi sepertinya tidak mungkin kalau tuan Brilyan masih tidur di jam seperti ini."


"Yah, benar juga. Ada apa dengan anak itu," bisiknya pelan lalu tak berselang lama ia bangkit dari kursi. "Ikut aku!"


Pelayan itu mengangguk, ia melangkah mengikuti kemana perginya majikannya itu yang terlihat berjalan begitu santai menaiki anakan tangan menuju lantai dua.


Sesampainya Johan langsung mengetuk pintu dan berteriak tetap dengan nada berwibawanya.


"Brilyan! Cepat buka pintu!


"Brilyan!"


"Jangan menguji kesabaran aku, Brilyan!"


Tetap saja tak ada jawaban dari dalam.


"Brilyan! Kalau kau tidak mau membuka pintu maka kau akan Papa hukum dengan belajar selama 24 jam tanpa ada kata istirahat ataupun tidur!"


"Jangan mengira jika kelulusan kau itu sudah menjadi akhir dari kata belajar! Kau akan kuliah dan kau harus kembali berjuang untuk membuat Papa bangga!"


Johan mendengus kesal. Ia menopang pinggang dengan wajahnya yang kini mulai tak nyaman.


Johan berpikir sejenak. Ia merendahkan tubuhnya untuk mengintip ke celah di bagian bawah pintu kamar hingga kedua matanya yang mengintip itu terbelalak kaget menatap sosok putranya yang terlihat berbaring di atas lantai dengan cairan merah di sana.


"Brilyan!!!" teriak Johan.


Johan langsung bangkit dari lantai, menghentak-hentakkan ganggang pintu dan sesekali mendobraknya berusaha untuk membuka pintu.


"Astagfirullah, pak! Tuan Brilyan sepertinya bunuh diri!!!" teriak pelayan itu begitu histeris setelah ikut mengintip ke bawah celah pintu.


Ia menutup bibirnya yang gemetar tak tertahankan sementara Johan masih berkerja keras untuk membuka pintu yang terkunci dari dalam itu.


"Cepat cari kunci kamar candangan!" teriaknya membuat pelayan itu kocar-kacir ke sana kemari mencari kunci. Kepanikan ini membuatnya lupa dimana ia menyimpan kunci itu.

__ADS_1


"Cepat!"


"Iya, pak."


Johan kembali menabrakkan tubuhnya ke permukaan pintu beberapa kali berusaha untuk membuka namun tak kunjung berhasil.


"Ini tuan kuncinya," ujar pelayan itu sambil menjulurkan sebuah kunci.


Tanpa sepatah kata Johan meraih kunci kamar itu dan memasukkannya ke dalam lubang kunci lalu memutarnya begitu cepat. Sejujurnya Johan tak pernah sepanik ini di dalam hidupnya. Penampakan yang ia lihat di celah pintu seakan masih terbayang di pikirannya.


Johan membuka pintu menghasilkan suara hempasan di sana. Dengan tubuhnya yang tiba-tiba saja terasa terkunci disaat ia melihat sosok pria yang sedang terbaring di atas lantai dengan limpahan darah.


Johan berlari mendekati Brilyan yang kini telah tidak sadarkan diri lagi. Johan berlutut mendekati putranya dan kedua matanya menatap setiap sisi putranya yang masih terbaring itu.


Ia ingin menyentuh tubuh putranya namun ia begitu sangat takut, tubuhnya gemetar hebat dengan wajahnya yang kini menjadi pias dan detak jantungnya yang seakan berhenti untuk berdetak.


Pikirannya seakan melayang entah ke mana, ia tak mengerti lagi dengan apa yang sedang terjadi pada saat ini terlebih lagi saat menatap darah yang bersimpah memenuhi lantai membuatnya tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Aaaaaa!!!"


Pelayan itu menjerit membuat Johan dengan cepat menatap ke arah pelayan yang ada di sampingnya.


"Kenapa kau berteriak?"


"Tu-tu-uan! Lihat pergelangan tangan tuan Brilyan! Sepertinya pergelangan tangan itu telah terluka!" Tunjuk pelayan itu membuat kedua mata Johan menoleh ke arah tunjuk.


"Kita harus membawanya cepat ke rumah sakit," ujar Johan yang begitu gelagapan.


"Cepat Panggil penjaga! Suruh dia ke sini!" pinta Johan membuat pelayan itu mengangguk dan berlari keluar dari kamar.


Johan menyentuh kepalanya rasanya ia tak menyangka jika kejadian ini akan terjadi kepada putranya itu.


Apakah putranya itu telah berniat untuk menghilangkan nyawanya?


Apakah putranya ini telah mati?

__ADS_1


Ada banyak darah di sini! Dan apakah mungkin putranya ini masih hidup?


Apakah rasa kebanggaannya yang diberikan kepada orang-orang juga akan lenyap jika putranya ini meninggal? Yah, itu semua yang ada di pikiran di pikiran Johan setelah melihat pikirannya kembali memikirkan masa depannya.


__ADS_2