
"Hasyu!!!"
Ken mengusap hidungnya yang terasa tersumbat. Kepalanya terasa berat serta badannya yang terasa lemas.
"Aduh, anak kesayangan Mama sama Bapak," resah Tante Laila yang memegang kepala Ken yang teraba hangat.
Ken yang tengah duduk di kursi makan itu mendongak menatap Mamanya yang begitu sangat terlihat khawatir. Sudah sejak tadi wanita kesayangan Ken berlarian ke sana kemari mempersiapkan apa yang Ken butuhkan.
Ia memijat kepala Ken, mengompres kening Ken dengan kompres instan yang biasa digunakan pada anak-anak. Tante Laila menarik pengukur suhu pada mulut Ken yang telah ia diamkan selama semenit.
Kedua mata Mamanya itu membulat menatap kaget pada hasil pengukuran suhu.
"Astagfirullah, anak kesayangan Mama sama Bapak panas banget!!!"
"Kenapa, Ma?" tanya pak Ahmad yang lari menghampiri.
"Liat, Pak! Panas banget si Keken. 29 Celcius, Pak."
"Ya ampun, Ken bisa kejang-kejang!" tambah pak Ahmad yang membuat istrinya itu semakin panik sementara Ken hanya diam menatap Mama dan Bapaknya secara bergantian.
Pak Ahmad berlari lagi. Ia meraih telpon rumah dan menekan beberapa tombol di sana sebelum mendekatkan telpon itu ke pipinya sambil mengigit ujung jari tangannya dengan gelisah.
"Halo, dokter!"
Mata Ken menatap kaget ke arah Bapaknya. Hanya karena ia demam, Bapaknya sampai menghubungi dokter.
"Anak saya sekarat, dokter!!!"
"Pak! Ken nggak sekarat, kok, pak," bantah Ken.
Ken ingin bangkit dari kursi, tetapi Mamanya malah menahannya agar tak pergi kemana-mana.
"Jangan kemana-kemana, sayang. Keken dalam bahaya."
"Bahaya apanya, sih, Ma? Ken cuman demam."
"Itu udah sekarat! Ken nggak lama lagi bakalan kritis."
"Hah?" Tatap Ken tak menyangka.
"Ma, ambulance udah jalan ke sini," ujar pak Ahmad membuat kedua mata Ken kembali membulat.
"What?"
...****************...
Pria berkacamata serta berpakaian putih itu menjauhkan stetoskop dari dada Ken yang terbaring di atas kasur tempat tidurnya. Ia tersenyum membuat Ken merasa malu.
Pasalnya Ken merasa kalau dia tidak apa-apa. Kejadian ini bukan terjadi hanya sekali saja tapi sudah puluhan kali. Untung saja pak dokter yang sering Ken panggil Om Jen ini adalah orang baik sehingga mampu memaklumi. Kalau tidak mungkin dokter sudah marah besar karena telah sudah payah datang terburu-buru bersama ambulance, para tim medis hanya karena hal sepele ini.
"Bagaimana, dokter?" tanya Tante Laila.
__ADS_1
"Ken tidak apa-apa. Suhunya juga tidak terlalu tinggi seperti tadi. Minum air putih dan istirahat yang cukup maka Ken akan sembuh."
Kedua orang tua itu mengangguk tanda mengerti. Walau ujaran dokter itu telah positif, tapi tetap saja tak membuat mereka berhenti untuk gelisah.
"Ken!"
"Iya dokter?"
"Jangan main-main air lagi, ya!"
Ken mengernyitkan dahinya bingung. Bagaimana bisa Om Jen tahu.
"Kok, om Jen-"
"Kamu hujan-hujanan, ya?"
Pertanyaan Om Jen itu membuat Ken bernafas lega. Ken pikir kalau Om Jen melihatnya semalam.
"Semalam tidak hujan, tapi kenapa kamu bisa demam?"
"Em, Ken juga tahu," jawab Ken sambil tersenyum malu. Kejadian semalam membuatnya merasa salah tingkah.
...****************...
Hasyu!!!
"Aduh, kok bisa, sih lo sakit?"
Weva menatap sahabatnya dengan tatapan berat. Menoleh saja rasanya sangat melelahkan.
"Weva juga nggak, hasyu!!!"
Wiwi menjauhkan wajahnya lalu kembali mendekat saat Weva membaringkan kepalanya di atas tas.
"Lo kenapa, sih? Emang lo semalam ngapain sampai bersin-bersin gini?"
"Terus badan lo juga panas banget lagi," tambah Wiwi setelah meletakkan telapak tangannya di kening Weva.
"Wev! Duh, malam diem aja lagi."
...****************...
Ken melangkah turun dari mobil setelah pak Ahmad membuka pintu mobil. Ken merapikan syal yang Mamanya itu kenakan dan melilit lehernya, ini cukup menganggu.
"Bapak antar sampai ke kelas, ya."
"Nggak usah, pak!"
"Bapak mau antar Keken. Nanti Ken pingsan gimana?" ujar pak Ahmad yang melebih-lebihkan.
Sebenarnya Tante Laila dan pak Ahmad telah berulang kali melarang Ken untuk sementara tidak berangkat sekolah, tapi Ken tetap menolak dan bersikeras untuk tetap pergi.
__ADS_1
Awalnya mereka tetap tak setuju hingga memutuskan untuk mengizinkan Ken dengan satu syarat yakni diantar dan tidak menggunakan motor vespa seperti biasanya.
"Nggak, pak. Ken juga udah agak baikan, kok."
Pak Ahmad itu terdiam menatap Ken yang sudah melangkah pergi. Wajah khawatirnya itu tak kunjung lenyap.
Ken yang masih melangkah ke arah kelas dibuat menoleh setelah mendengar suara langkah yang mengendap-ngendapenguktinya.
Ken menghela nafas menatap Bapaknya itu yang dengan cepat-cepat bersembunyi di balik tiang. Pak Ahmad mengintip membuatnya kembali bersembunyi setelah ia melihat Ken yang menatapnya dari kejauhan.
"Bapak ngapain, sih? Ken itu udah nggak apa-apa."
Setelah mengatakan hal itu Ken melangkah pergi menuju ke arah kelasnya membuat pak Ahmad melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.
Ken menghentikan langkahnya setelah kakinya nyaris memasuki ruangan kelas. Ia menatap syal yang ada di lehernya hingga memutuskan untuk melepasnya, ini sepertinya agak berlebihan bukan.
Weva dan Wiwi menoleh secara bersamaan menatap Ken yang baru kali ini datang cepat ke sekolah.
Ken mengalihkan pandangannya. Ia menolak untuk menatap Weva yang juga terlihat tertunduk seakan begitu gugup.
Weva tak akan pernah lupa kejadian dimana Ken mencium keningnya sementara Ken juga tidak akan lupa bahwa dia telah mencium kening Weva tanpa seisin Weva.
Ken duduk di kursinya tanpa pernah bicara sedikit pun atau menyapa Weva yang memilih untuk tetap membaringkan kepalanya.
Wiwi menatap secara bergantian dua orang yang hari ini kembali membuatnya bingung.
"Lo sama Ken berantem lagi?"
"Nggak."
"Terus kenapa diem-dieman kayak gitu?"
"Weva, hasyu!!!"
Ken seketika menoleh menatap ke arah Weva yang terlihat mengusap hidungnya dengan tisu. Apa gadis gendut itu juga sakit? Sama seperti dirinya saat ini.
Ken menghela nafas pendek. Ini pasti karena air mancur itu sehingga keduanya jadi sakit secara bersamaan. Ken tertunduk, semoga saja Weva tidak apa-apa.
Lima belas menit kemudian...
Proses belajar mengajar kini tengah berlangsung memperlihatkan pak Ahmad yang kini sedang menjelaskan materinya pada slide. Pak Ahmad bersyukur hari ini adalah jam mengajarnya sehingga ia bisa memantau sekaligus menjaga Ken.
Tapi hal itu adalah masalah bagi Ken. Sudah beberapa kali Bapaknya itu menghampiri dan menyentuh keningnya memastikan Ken sudah tidak demam lagi membuat teman-teman satu kelasnya itu menatap bingung ke arah Ken.
Hasyu!!!
Hasyu!!!
Para penghuni kelas itu dengan serentak menoleh menatap Ken dan Weva yang masih bersin-bersin secara bergantian.
Mereka semua kebingungan mengapa dua orang ini yang bisa sakit dan bersin-bersin secara bersamaan.
__ADS_1