Princess Endut

Princess Endut
141. Cinta Pertama Weva


__ADS_3

"Apa?"


15 Menit Kemudian....


"Cepetan Wev!" pinta Ken.


Weva mengerang penuh kekuatan untuk mendorong motor vespa yang kini dengan santainya Ken tunggangi. Bukan hanya Weva yang menderita di sini, tapi juga boneka panda yang Weva jepit di ketiak nampaknya juga ikut tersiksa.


"Cepetan! Nanti keburu tambah malem."


"Masih jauh nggak, sih?"


"Udah deket, kok."


"Da-dari tadi ngomong de-deket mulu, tapi nggak sampai-sampai," ujarnya ngos-ngosan.


"Ini beneran, kok udah mau sampai."


Weva menghentikan langkahnya yang penuh lelah itu. Ia mendongak menatap ke langit berusaha untuk mengumpulkan udara malam. Weva begitu sesak nafasnya hingga sulit untuk bernafas.


Rasanya ini lebih melelahkan dibandingkan harus lari-larian keliling lapangan.


"Loh, kok lo berhenti, sih?" tanya Ken.


Weva yang sedang menopang pinggang itu melirik menatap Ken yang masih duduk di atas jok motornya.


"Weva capek."


"Udah. Urusan capek belakangan, yang penting dorong dulu. Lo mau di sini sampai pagi."


"Nggak ngerti banget, sih. Weva itu capek. Ini semua gara-gara Ken yang ngasih ide jelek ke Weva."


"Ide jelek maksud lo? Masih untung gue ngasih ide, dari pada nggak ada ide sama sekali."


"Lagian, nih, ya. Motor rusak itu gara-gara lo juga!" lanjut Ken membuat Weva membulat kedua matanya.


Lihat! Ken kembali menyalahkannya.


"Eh, nggak usah ngomong sembarangan, ya!" Tunjuk Weva sambil melangkah mendekati Ken.


"Oh, jadi maksud lo, gue yang salah gitu?" tanya Ken yang juga ikut melangkah turun dari motornya.


Weva meneguk salivanya saat Ken menunduk untuk menatapnya dengan tatapan tajam. Tuhan, tajam sekali dan sadis sekali kedua mata Ken ini. Ini bahkan lebih tajam dari pada mata elang.


Weva mendengus kesal. Ia menatap ke arah lain sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Ken juga ikut terdiam. Rasanya selama ia bersama Weva, ia jadi suka marah-marah. Ken merasa tak nyaman jika tak membuat gadis gendut ini marah-marah dan tak ingin melihat Weva hanya diam saja.


"Sekarang gimana? Kita mau tetap di sini aja?" ujar Ken yang akhirnya bicara setelah terdiam beberapa menit.


"Weva mau pulang. Weva ngantuk."


"Ya, udah lanjut dorong!"


Weva diam. Ia menatap Ken yang kembali duduk di atas jok motornya.


"Loh? Ken nggak ikut dorong?"


Ken menoleh menatap Weva yang kembali memasang wajah kesal.


"Nggak," ketus Ken.


"Nggak adil banget, sih. Ken juga harus ikut dorong, dong, itu baru namanya kerja sama."


"Nggak!"

__ADS_1


"Ya, udah," putus Weva lalu melangkah pergi meninggalkan Ken yang melongo saat Weva melintasinya.


"Weva! Mau kemana lo?!!"


"Pulang!!!"


"Terus motor ini gimana?"


"Ken dorong aja sendiri!"


"Lo nggak bisa, dong biarin gue dorong motor sendiri!!!"


"Terserah."


Ken mendengus kesal melihat Weva yang tak kunjung menghentikan langkahnya. Ken melangkah turun dari motor dan mendorongnya mengikuti langkah Weva.


...****************...


   


Suasana kini menjadi sunyi hanya ada suara roda motor Ken yang berputar serta langkah kaki Weva dan Ken yang beriringan. Ada beberapa kendaraan yang berlalu-lalang tapi kali ini tak banyak seperti tadi.


  


Kali ini Weva ikut mendorong bagian motor belakang setelah ia melihat Ken yang cukup kesusahan. Weva juga tak tega jika melihat Ken yang mendorong motor sendiri.


Ken seperti ini juga karenanya. Kalau saja ia tak pergi jalan-jalan, mungkin kejadian dorong motor ini tak akan terjadi.


Sudah sejak tadi mereka mendorong motor sambil sesekali memantau pinggiran jalan yang mungkin saja ada penjual bensin. Tapi mana ada penjual bensin di jam seperti ini.


"Wev!"


"Apa?"


"Gue boleh nanya?"


"Em, lo suka banget, yah sama si kurus kering itu?"


"Brilyan?"


"Ya, iya. Siapa lagi coba orang yang kurus kering selain dia?"


Weva melirik tak suka.


"Ih, enak aja. Brilyan itu nggak kurus kering, ya!"


"Terus alasan lo suka sama dia apa?"


Weva terdiam sejenak. Ia tersenyum malu setelah kembali memikirkan Brilyan.


"Brilyan itu gimana, yah? Susah dijelasin."


"Kayak soal matematika aja lo susah dijelasin," celetuk Ken lalu tertawa tapi dengan perlahan ia menghentikan tawanya setelah ia menyadari Weva tak ikut tertawa.


"Soalnya gimana, ya? Brilyan itu udah jadi cintanya Weva. Mau Brilyan ngomong kasar pun Weva tetap bakalan suka sama Brilyan."


"Kenapa kayak gitu?"


"Karena Weva udah jatuh cinta sama Brilyan."


Ken mengangguk.


"Sejak kapan?"


"Hem?"

__ADS_1


"Sejak kapan lo suka sama Brilyan?"


"Sejak kecil. Waktu itu Weva pertama kali ngeliat Brilyan dan juga pertama kali Brilyan nolongin Weva pas di taman."


"Taman?"


Weva terdiam sembari tersenyum penuh kebahagiaan mengingat Brilyan sejak pertama kali bertemu di sebuah taman disaat mereka masih baru berusia 9 tahun.


Pada saat itu anak-anak lain membully Weva dan mengatakannya gendut, tapi anak laki-laki itu datang dan menolong Weva.


Dan kisah itu dimulai


7 Tahun yang lalu....


Weva menutup kedua telinganya dengan erat agar tak mendengar teriakan anak-anak sebayanya yang sedari tadi mengejek dan menertawainya.


"Gendut! Gendut! Gendut!!!"


Teriakan itu begitu sangat jelas terdengar di telinga Weva membuat gadis kecil bertubuh gendut itu hanya mampu duduk menangis diiringi anak-anak lain yang mengelilinginya sambil berteriak.


Weva kecil itu menutup teliganya rapat-rapat, ia tak ingin mendengar suara mereka semua. Sejak tadi ia juga menutup kedua matanya, is tak mau melihat mereka semua.


Weva sejak tadi telah menyuruh mereka agar berhenti untuk meneriakinya tapi itu tak membuat mereka berhenti atau pun pergi meninggalkannya.


"Pergi!"


Suara teriakan bocah laki-laki terdengar membuat Weva menghentikan tangisannya.  


"Pergi! Jangan ganggu dia!"


Itu yang Weva dengar. Tak lama suara teriakan anak-anak yang telah membullynya lenyap. Namun, tetap saja Weva takut. Ia masih menunduk dan memeluk lututnya.


"Hai!" Sapa bocah pria itu.


Weva mengerakkan bola matanya menatap langkah kaki dengan celana jeans dan sepatu hitam mendekatinya.


"Jangan nangis, yah. Mereka sudah pergi."


Tak ada jawaban. Weva masih sesegukan.


"Kamu tenang saja! Aku akan selalu melindungi kamu."


Weva tak mau menjawab, ia masih diam.


Anak kecil itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu.


"Ini," ujar anak laki-laki itu sambil menjulurkan sebuah gelang merah di tangannya.


Weva mampu melihat jelas gelang yang berada di telapak tangan yang terlihat putih dan bersih, tapi Weva takut untuk mengambilnya.


"Ini buat kamu."


Gelang itu jatuh di rerumputan ketika bocah kecil itu melepasnya.


"Jangan menangis lagi, ya!"


Anak laki-laki itu mengacak-acak rambut Weva dengan lembut lalu berlari pergi meninggalkan Weva.


Weva terdiam dan meraih gelang merah itu dengan hati-hati lalu ia tersenyum. Weva yang penasaran segera berlari mencari sosok bocah dengan celana jeans itu yang telah lenyap entah kemana.


Hampir ke seluruh taman ia telusuri, tapi Weva tak menemukannya. Hingga pada akhirnya Weva menemukan anak laki-laki yang mengenakan sepatu hitam dan celana jeans persis yang ia lihat. Ia sangat senang telah menemukannya bahkan Weva sampai mengikutinya pulang ke rumah.


Itu sebabnya sampai sekarang Weva sangat suka dengan pria bernama Brilyan itu. Itu juga yang menyebabkannya selalu mengejar Brilyan bahkan sampai masuk ke sekolah yang Brilyan tempati, tak peduli apakah sekolah itu jauh dari rumah atau tidak yang penting ia bisa melihat Brilyan.


Weva ingin memberitahu Brilyan kalau dia adalah gadis gendut yang telah ia selamatkan waktu kecil dan yang telah ia berikan gelang merah yang tak pernah Weva lepas sedikit pun.

__ADS_1


Andai saja Brilyan tahu mungkin Brilyan akan senang, tapi sikap Brilyan kecil dan yang sekarang sangat berbeda.


Itu cinta pertama bagi Weva, sebuah kisah indah yang tak pernah Weva lupakan.


__ADS_2