Princess Endut

Princess Endut
170. Masuk Ke Dalam Kelas


__ADS_3

"Wadduh, cepetan bawa ke UKS!"


"Fhimut nggak apa-apa, kan?" tanya Firda lagi yang masih khawatir.


Fhina memonyongkan bibirnya dengan ekspresi wajah yang menahan tangisan. Ia menarik kerah seragam baju ke arah hidungnya dan mengendus.


"Iyyuuuw. Ih, bau banget badan Fhimut!!!" jeritnya lalu menangis.


"Oh may goad!!? Fhimut tadi ketiban si jelek itu," tambah Harni yang masih mengarahkan kameranya ke arah Fhina.


"Parfum! Parfum!" panik Firda membuat Harni dengan cepat merogoh saku bajunya


Fhina meraih botol parfum yang Harni julurkan lalu menyemprotkannya ke seluruh tubuhnya.


"Yang banyak, Mut! Biar bau si jelek itu nggak ada lagi di tubuh lo!"


Fhina tak menghiraukan ujaran Firda. Ia tetap fokus pada parfum dan lalu setelahnya ia kembali mencium ujung kerah bajunya.


"Ih, ini semua karena ulah murid baru itu," kesal Fhina yang mengibaskan rambutnya ke belakang membuat Firda mengangguk sementara Harni masih sibuk pada kameranya.


"Liat aja! Gue nggak bakalan lepasin si murid baru itu. Semua masalah ini gara-gara dia."


"Betul tuh," tambah Firda.


"Guysmut! Kita harus kasi pelajaran si murid baru itu. Menurut lo gimana?"


"Gue setuju," jawab Firda.


Firda dan Fhina menoleh dengan kompak menatap Harni yang kini masih tersenyum menatap ke arah kamera.


"Ni, Lo masih live di Instagram?" tanya Fhina.

__ADS_1


"Iya, nih gue masih live. Sapa dulu, dong!"


Kedua mata Fhina membulat kaget. Ia menoleh menatap Firda yang juga menoleh menatapnya memasang wajah syok.


"Harmut! Jangan bilang lo ngelive pas gue jatuh!" Tunjuk Fhina membuat kedua mata Harni membulat.


Harni tak sengaja mengarahkan kameranya itu ke arah Fhina saat dia terjatuh bersama dengan siswa pria itu.


...****************...


Pelajaran kini mulai berlangsung dengan aman. Setelah kejadian siswa yang kejang-kejang itu tak ada lagi yang berkerumun di depan kantor kepala sekolah.


Suara ambulance terdengar membuat siswa dan siswi saling bertatapan. Itu ambulance yang datang dari rumah sakit dan ingin menjemput pasien yang tak lain adalah siswa yang kejang-kejang itu.


Sungguh miris.       


Gadis berparas cantik itu melangkah bak model melewati koridor yang kini dihuni oleh beberapa siswa dan siswi. Siswa dan siswi itu menganga setelah melihat wajah paras cantik milik murid baru yang saat ini masih melintas dengan anggun.


Gadis berparas cantik itu mengerakkan kepalanya menatap ke arah pria berkacamata yang sedang membawa setumpuk buku sambil ikut menatap ke arah sang gadis.


Buku berhamburan ke atas lantai disaat tanpa sengaja menabrak tiang yang ada di depannya. Gadis cantik itu tertawa kecil membuat pria berkacamata itu tersenyum lebar dengan wajah yang nyaris pingsan.


Gadis itu ikut menghentikan langkahnya ketika pak Ahmad menghentikan langkah tepat di depan pintu ruangan kelas.


"Gadis cantik tunggu sini, yah!"  pinta pak Ahmad membuat gadis itu mengangguk dengan senyum manis.


Pak Ahmad sedikit terkejut saat melihat gadis itu tersenyum. Sangat cantik, entah bagaimana bisa ada gadis secantik ini. Pak Ahmad melangkah masuk ke dalam ruangan kelas membuat semua siswa dan siswi menoleh.


"Bapak?" bisik Ken menatap heran mengenai kehadiran pak Ahmad yang melangkah masuk ke dalam ruangan kelas dan membisikkan sesuatu pada guru yang saat ini sedang mengajar. Yap, siapa lagi jika, bukan Bu Yungmi.


Entah mengapa setiap pelajaran seni budaya haruslah guru super berisik itu yang mengajar di kelas Ken. Menyanyi saja suaranya sangat jelek.

__ADS_1


"Murid baru?" Tatap Bu Yungmi dengan pandangan yang meminta jawaban.


Semua murid-murid kini saling berbisik setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Yungmi.


"Apa murid baru yang di maksud ibu Yungmi itu adalah siswi yang katanya cantik?" bisik siswi paling depan sembari menoleh menatap siswi lainnya.


"Wah, mungkin iya."


"Wah, beruntung banget kita bisa satu kelas sama murid baru itu," tambah yang satu lagi.


Ken mendecapkan bibirnya kesal setelah mendengar suara bisikan yang membuatnya tak nyaman. Kini di hadapannya semua orang tengah berbisik membuat Bu Yungmi berteriak di depan sana menyuruh semuanya untuk diam.


Pak Ahmad melangkah keluar dari kelas membuat semua kepala siswa dan siswi bergerak mengikuti arah langkah pak Ahmad.


Ken hanya menggeleng menyaksikan hal yang menurutnya tak penting. Ken kembali menunduk dan fokus ke arah layar handphonenya.


"Gadis cantik, apakah kamu menunggu lama?"


Gadis itu menggeleng, masih tetap dengan senyumnya.


"Ayo masuk!" ajak pak Ahmad membuat gadis itu mengangguk.


Gadis itu dengan perlahan melangkahkan kakinya ke arah ruangan pintu masuk. Suara ketukan sepatunya yang berbunyi itu berhasil menyita perhatian semua siswa dan siswi.


Lagi dan lagi gadis itu membuat semua orang terdiam beberapa saat untuk menanti kehadiran gadis itu. 


Tuk


Tuk


Tuk

__ADS_1


Suara ketukan sepatu itu semakin dekat dan jelas terdengar hingga langkah kaki murid baru dengan betis putih serta mulus itu terlihat melangkah masuk bak model ke dalam ruangan kelas.


Ken menkerutkan alisnya setelah perasaan aneh terlintas di hatinya. Ken mengangkat padangannya menatap ke arah pintu dimana murid baru itu masih melangkah.


__ADS_2