Princess Endut

Princess Endut
178. Membongkar


__ADS_3

"Lo nggak sengaja tapi mukulnya kayak orang kesurupan."


"Yah, sorry Wi kan Weva udah lama mau mukul si geng Sangmut itu dan sekarang impian Weva akhirnya terwujud."


"Weva udah lama banget mau mukul mereka tapi nggak bisa dan sekarang tangan Weva akhirnya udah bisa mukul-"


"Sampai harus dibawa ke rumah sakit kayak tadi?" potong Wiwi membuat Weva menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


Wiwi menggeleng sembari tersenyum sembari menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Weva.


"Aaaaaaa!!! Gue seneng banget, Wev bisa ketemu sama lo lagi!!!" jerit Wiwi penuh kegirangan sembari memeluk tubuh langsing Weva yang ikut membalas pelukan Wiwi.


"Hust!" Tegurnya sembari meletakkan jari telunjuknya di depan ujung bibir setelah melepas pelukannya berusaha memperingati Wiwi untuk tidak banyak bicara dan berteriak.


"Kenapa?"


"Nanti didengar sama orang?" bisiknya membuat Wiwi mengangguk.


"Emmm, tapi gue beneran seneng banget, Wev. Lo nggak makan di Korea, yah jadi badan lo langsung langsing kayak gini?"


"Enak aja, mati dong Weva."


Weva tertawa membuat Wiwi juga ikut tertawa lalu kembali saling berpelukan.


...****************...


"Ternyata sepupu lo si A-Yeong itu baik juga, ya? Dia mau bantuin lo."


Weva mengangguk.


"Dia baik banget. Ternyata apa yang selama ini Weva pikirin tentang dia itu salah. Bahkan dia yang bantuin Weva dan dukung Weva sampai bisa langsing kayak gini."


"Wev!"


"Em?"


"Jujur, sih selama lo nggak ada di sini, gue jadi kesepian, Wev," ujarnya memberitahu.


Weva tersenyum sembari menganggukkan kepalanya yang kini berjalan bersisian bersama Wiwi di belakang sekolah yang sepi. Tak ada orang di sini kecuali Weva dan Wiwi.


"Wev!"


"Em," sahutnya menghentikan langkah dan menatap Wiwi yang terdiam menatapnya.


"Bukan cuman gue yang nunggu lo tapi Ken."

__ADS_1


"Ken?"


"Iya, Wev. Ken kayaknya kesepian banget pas lo nggak ada di sekolah dan hilang tanpa ada kabar selama setahun," jelasnya.


"Yah, namanya juga sahabat, yah pasti Ken akan merasa kesepian sama juga kayak Wiwi."


"Tapi, Wev yang gue rasain beda, gue ngrasa-"


"Wi!" potong Weva membuat Wiwi terdiam.


"Lo ngerasa apa?"


"Lo ngerasa kalau Ken suka sama Weva?" tanya Weva.


Wiwi yang terdiam sejenak itu akhirnya mengangguk pelan membuat Weva tersenyum dengan suara tawa yang terdengar samar-samar. 


"Wi, dulu gue cuman perempuan gendut dan jelek yang nggak akan pernah disukai sama cowok manapun bahkan orang gila aja nggak bakalan tertarik sama Weva," jelasnya.  


"Tapi, Wev-"


"Wi! Udahlah tujuan Weva langsing itu dari dulu buat Brilyan bukan buat Ken!"


Weva melangkahkan kakinya meninggalkan Wiwi yang terdiam di belakang sana. Tatapannya seakan tak terima dengan apa yang Weva katakan.


"Terus kenapa lo tadi meluk Ken di dalam kelas, Wev?!!" teriak Wiwi membuat langkah Weva terhenti.


"Kenapa, Wev?"


Weva menoleh menatap sahabatnya itu yang kini masih terdiam di sana. Weva menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.


"Weva, enggak tau, Wi."


Weva terdiam sejenak dan memilih untuk menyandarkan tubuhnya ke dinding membiarkan Wiwi menatapnya seperti orang bodoh.  


Wiwi melangkah mendekati Weva yang masih terdiam. Ia terlihat bingung.


"Weva! Lo harus tanya sama hati lo sendiri!"


"Lo suka sama Brilyan atau Ken?"


"Gue tau niat lo dari dulu itu adalah Brilyan tapi yang gue liat sekarang beda. Nggak ada Brilyan di mata lo, Wev! Nggak ada."


"Lo nggak bisa nutupin semua ini dari gue!"


"Coba lah lo tanya dulu sama hati lo!"

__ADS_1


Weva terdiam. Ia melirik menatap Wiwi yang saat ini masih menatapnya dengan serius. Apa mungkin yang dikatakan oleh Wiwi itu ada benarnya?


"Wiwi!!!" teriak seseorang membuat Wiwi dan Weva menoleh secara bersamaan menatap pria yang melangkah ke arahnya.


Yap, dia Ken.


"Wi!" Tarik Ken pada pergelangan tangan Wiwi dan membawanya menjauh dari Weva.


"Ken?" Tatap Wiwi tak menyangka. Ia tak menyangka jika Ken bisa mengetahui kalau dia ada di sini.


"Lo ngapain berduaan sama dia?" bisiknya setelah menatap Weva yang diam berdiri agak jauh darinya.


"Emang kenapa?"


"Yah, Lo ngapain berduaan sama dia? Lo mau dipukul kayak cewek kecentilan itu sampai di bawa ke rumah sakit?"  tanyanya mengingatkan Wiwi pada geng Sangmut.


"Gila lo. Yah kali dia mau mukul gue."


"Heh, mata lo buta? Lo nggak liat pas dia ninju mukanya Fhina? Lo mau dipukul kayak gitu? Mau lo?" bisiknya dengan nada kesal berpaut emosi dari kedua sorot matanya yang sesekali menoleh ke belakang menatap Weva.


"Tapi, Ken-" 


"Udah! Bisa nggak sih lo dengerin gue? Lo ikut gue sekarang!"


Ken menarik pergelangan tangan Wiwi yang berusaha untuk melepaskan pegangan tangannya yang seakan mencengkram pergelangan tangan Wiwi.


Wiwi menoleh menatap Weva dari belakang yang terlihat menatapnya dengan raut wajah sedih. Ini salah dan benar-benar salah. Ken harus tau siapa gadis yang bernama Klorin sekarang.


"Ken!!!" teriak Wiwi sembari menghempas keras pergelangan tangan Ken yang seketika menghentikan langkahnya.


Ken terdiam menatap bingung pada Wiwi yang nampak berusaha untuk memberi isyarat kepada Weva dengan gerakan tubuhnya sementara Weva hanya mampu menggeleng setelah mengetahui jika Wiwi berniat untuk membongkar rahasia ini semua.


"Heh! Lo berdua kenapa, sih?" kesal Ken yang melihat kedua gadis di hadapannya yang saling memberi kode sementara ia seperti orang bodoh yang menjadi penonton.


Wiwi mendecapkan bibirnya dan menoleh menatap Ken dengan penuh serius.


"Ken, Lo dengerin gue!"


Wiwi menarik nafas pajang dan menghembuskannya dengan perlahan. Wiwi tak kuasa untuk harus menahannya lagi.


Di satu sisi kini Ken terdiam dengan raut wajahnya yang terlihat kebingungan.


"Dia!" Tunjuknya ke arah Weva membuat Weva menutup wajahnya seakan takut untuk mendengar apa yang akan Wiwi katakan kepada Ken.


Ken melirik menatap Weva sejenak dan kembali menatap Wiwi yang terlihat pucat memberanikan dirinya untuk bicara.

__ADS_1


"Dia kenapa?" tanya Ken yang begitu penasaran.


"Dia Weva," jawabnya terus teran.


__ADS_2