Princess Endut

Princess Endut
191. Butuh Perjuangan


__ADS_3

Brilyan dengan cepat menekan bel membuat Weva tersentak kaget. Sejak tadi ia sibuk mencari Ken hingga tak sadar jika pertanyaan sudah dimulai.


"Yah, Tim Cendrawasih Internasional Scholl, silahkan!"


"Rengasdengklok."


"Benar! Satu poin untuk Tim Cendrawasih Internasional Scholl!!!"


"Yeeee!!!" teriak pak Walio yang langsung berdiri membuat semua orang tersentak kaget.


Semua para pendukung Cendrawasih Internasional School memberikan tepuk tangan sementara para pendukung lain terlihat khawatir. Dan juga para peserta yang lain mereka juga terlihat khawatir. Mereka semua tau siapa sosok Brilyan yang tidak asin lagi dalam dunia perlombaan dan namanya tidak pernah alfa dalam daftar nama pemenang.


"Soal selajutnya, serangga yang memiliki rasa solidaritas tinggi adalah?"


Driiing!!!


Brilyan menoleh menatap peserta yang ada di sampingnya yang lebih dulu menekan bel.


"Yap, SMA Jaya Abadi, silahkan!"


"Jawabannya adalah semut."


"Yah betul, SMA Jaya Abadi selamat mendapat satu poin!!!"


Brilyan meneguk salivanya. Kedua matanya menatap ke arah Johan yang memandanginya dengan begitu tajam. Brilyan takut, benar-benar takut jika lomba ini ia kalah.


Pak Ahmad yang memperhatikan wajah cemas Brilyan melirik menatap ke arah kursi penonton hingga dari sini ia bisa melihat sosok Johan yang masih menatap ke arah Brilyan.


"Klorin!"


Weva menoleh menatap Brilyan yang menatap ke arahnya.


"Kamu kenapa? Kamu harus fokus! Kita nggak boleh kalah!"


Weva mengangguk pelan. Ia berusaha untuk tersenyum tapi itu tidaklah mudah. Ini begitu sukar untuk dilakukan. Dan sekali lagi ia kembali menatap ke arah bangku penonton berusaha untuk mencari sosok Ken.


Wiwi bangkit dari bangku penonton. Ia sudah tidak bisa tinggal diam melihat Weva yang terlihat tidak fokus. Sudah sejak tadi dia terlihat seakan sedang mencari dan menanti seseorang.


Wiwi meletakkan handphone yang sedang menghubungi Ken itu ke pipinya. Ia terlihat cemas, mengigit ujung kukunya sambil melangkah mondar-mandir menanti Ken mengangkat telpon.


...***...


Ken melirik menatap layar handphonenya yang terdengar berdering diiringi nama Wiwi yang tertera di sana. Ken menghela nafas seiring tangannya yang meraih handphone itu.


"Halo."


"Ken!"


"Apa, sih lo teriak-teriak melulu? Nggak di telpon, nggak di dunia nyata selalu aja teriak."


"Lo dimana?"

__ADS_1


"Di rumah."


"Lo nggak ke sini?"


"Ngapain?"


"Ngeliat Weva lomba. Lo nggak mau ngeliat atau ngedukung Weva?"


"Kenapa harus gue? Kan si kurus kering itu udah ada. Kalau dia udah ada, Ken itu udah jadi nggak penting."


Wiwi meremas kepalanya yang terasa pening itu.


"Gila, ya lo. Disaat-saat kayak gini lo malah baper. Lo nggak tau aja kalau dari tadi itu Weva nyariin lo. Dia nggak fokus karena lo nggak ada di sini."


"Ken! Lo dengerin gue. Weva kayaknya itu juga suka sama lo cuman dia tahan karena dia tau Brilyan adalah anak cowok yang udah nolongin dia waktu kecil."


"Lo nggak boleh, dong biarin dia berjuang sendiri. Dia itu butuh lo, Ken!"


"Brilyan nggak ngaruh buat dia. Weva butuh Ken, bukan Brilyan!"


Sambungan terputus membuat wajah Ken terlihat menjadi datar tanpa ekspresi. Layar handphone itu bergeser di permukaan pipi Ken yang masih diam.


Weva butuh Ken!


Ken tersenyum bahagia. Ia dengan capet meraih jaket hitam pada gantungan baju dan berlari sambil memasang jaketnya menuruni anakan tangga.


Ken menghentikan larinya. Ia menepuk jidat setelah mengingat jika Mamanya telah menyimpan kunci rumah di atas meja. Ken kembali berlari menaiki tangga, masuk ke dalam kamar dan meraih kunci rumah.


"Ada polisi di depan!"


Ken menghentikan laju motornya. Ia menoleh menatap salah satu kendaraan bermotor yang baru saja berbalik arah. Ken menggerakkan kepalanya menatap polisi yang terlihat menilang salah satu pengendara ibu-ibu yang terlihat tidak mengunakan helm.


Ken meraba kepalanya dengan kedua mata yang membulat.


"Aduh, kenapa gue harus lupa pakai helm, sih," kesalnya.


...****************...


"Soal penjumlahan."


Mendengar hal tersebut membuat Brilyan dengan cepat meraih pulpen yang siap untuk membuat cakaran hasil.


"Nilai minimum fungsi f(x) \= 3x2 + 6x - 24 adalah?"


Triiing!!!


Brilyan menghentikan gerakan pulpennya saat Weva lebih dulu menekan bel.


"Yah, Internasional Cendrawasih Internasional Scholl?"


"6," jawab Weva membuat Brilyan menatap dengan wajahnya yang tidak menyangka.

__ADS_1


"Salah!"


"Klorin! Kok 6, sih jawabnya? Harusnya itu jawabannya -27."


"Kok -27?"


Triing!!!


"Yap, SMA Jaya Abadi, silahkan!"


"-27."


"Benar, satu poin untuk SMA Jaya Abadi."


Brilyan mendecakkan bibirnya kesal. Poin itu seharusnya menjadi miliknya.


"Kok, jawabannya -27 bukannya soalnya itu 3×2, ya?"


"Kamu mikirin apa, sih, Klorin? Soalnya itu f(x) \= 3x2 + 6x - 24 bukan 3×2," ocehnya yang terlihat begitu kesal.


Weva kini tertunduk. Ia menyentuh keningnya yang sejak tadi berkeringat. Weva terlalu memikirkan Ken sehingga ia tak bisa fokus.


...***...


Ken yang masih duduk di atas jok motor sambil menatap ke arah polisi itu beralih menggerakkan kepalanya menatap gang sempit membuat Ken terdiam sejenak lalu tersenyum. Tak ada kata menyerah!


Ken melajukan motor vespanya memasuki gang sempit dan yang dihimpit oleh dinding tinggi toko bangunan. Tak berselang lama ia membanting stir melewati rumah-rumah warga yang menghentikan aktifitasnya hanya untuk melihat Ken yang melajukan motornya di jalan sempit.


Ken menghentikan laju motornya mendapati gerombolan pengantar pengantin yang berada di depan sana dan terlihat melangkah ke arahnya. Ken mendengus kesal. Mengapa banyak sekali halangan untuk dirinya yang akan pergi ke acara lomba.


Tak ada cara lain. Ken harus menerobos!


Piiiip!!!


Ken menekan klakson motor, ia menerobos gerombolan pengantin yang menjerit dan berhasil membukakan jalan untuknya.


"Misi! Misi saya mau lewat!!!" teriak Ken yang masih melajukan motornya.


"Aaaa!!!" teriak salah satu pria tua yang langsung melompat dari jalan saat nyaris ditabrak oleh Ken membuatnya menyingkir dan terhempas ke pinggir jalan yang dipenuhi sampah.


Ken menghentikan laju motornya. Ia menoleh menatap pria tua yang terlihat dikerumuni oleh rombongan pengantin yang lain.


"Heh! Anak kurang ajar ente!!!"


"Maaf, pak Haji! Saya nggak sengaja!!!" teriak Ken yang kembali menancapkan gas meninggalkan tempat membuat gerombolan pengantar pengantin itu semakin berteriak di belakang sana.


Ken membanting stir saat ia telah keluar dari gang. Ia tersenyum kemenangan setelah melihat dari kaca spion motornya polisi yang berada di belakang sana.


Selamat! Ken selamat dari kata tilang!


Ken semakin melajukan kecepatan motor vespanya yang telah mengeluarkan asap hitam pada lobang kanlpot. Ken tak mengerti apa yang akan terjadi pada motornya jika ia terlalu memaksanya untuk melaju kencang, yang Ken inginkan adalah ia harus tiba di sana.

__ADS_1


__ADS_2