Princess Endut

Princess Endut
142. Tentang Dia


__ADS_3

Ken mengernyitkan dahinya bingung menatap Weva yang sejak tadi terdiam sambil tersenyum. Sudah dari tadi Weva tersenyum sampai-sampai kedua pipinya terlihat memerah.


"Woy! Tidur lo, yah?!!" teriak Ken membuat Weva terpelonjak kaget.


"Apa sih? Bikin kaget aja," kesal Weva.


"Lo, tuh. Ngapain lo senyum-senyum segala? Kek orang gila tau nggak."


"Apaan, sih? Ken tuh yang gila."


"Terus lo ngapain senyum-senyum segala?"


Weva tak menjawab.


"Lo pasti senyum-senyum kayak gini karena Brilyan, ya?"


"Ya, iya lah. Ya kali Weva senyum gara-gara mikirin Ken, yang ada bikin Weva pingin marah."


"Lah, kok marah?"


"Ya, iya lah. Ken itu kalau nggak marahin Weva, yah paling ngajak berantem."


"Sotoy lu."


"Emang itu fakta."


Weva hanya melirik kesal dan kembali tersenyum setelah ia memikirkan Brilyan dan kenangan masa kecilnya. Andai saja dulu ia melihat wajah Brilyan saat Brilyan kecil memberikannya gelang merah ini, mungkin saja kenangan indah itu akan jauh lebih indah.


"Wev!"


"Em?"


"Lo belum jawab."


"Jawab apa?"


"Lo kenapa bisa suka sama si kurus kering itu?"


"Emang kenapa?"


"Yah, gue cuman tanya aja. Soalnya, kan di dunia ini itu ada banyak cowok selain dia dan yang pastinya lebih ganteng," jelas Ken lalu mengusap rambutnya agar Weva tahu jika yang Ken maksud cowok yang lebih tampan itu adalah dirinya sendiri.


Weva tersenyum dan menghembuskan nafas panjang. Masih tetap sambil mendorong motor. Jika seperti ini tak ada rasa lelah yang ia rasakan.


"Brilyan itu ketemu sama Weva udah dari kecil, waktu itu kejadiannya ada di taman. Brilyan yang udah nyelamatin Weva dari anak-anak nakal yang ngejek Weva."


"Dan setelah itu Brilyan ngasih gelang merah buat Weva. Dari hari itu Weva mutusin buat ngejer Brilyan."


Ken terlihat diam seakan memikirkan sesuatu dan tak berselang lama ia mengangguk tanda mengerti.


"Jadi gara-gara itu lo suka sama dia?"


Weva mengangguk cepat seperti anak kecil diiringi dengan senyum yang tak pernah sirna dari bibirnya yang indah.


"Brilyan itu seperti pangerannya Weva."


"Dan Weva yakin Weva bakalan jadi princess buat Brilyan."

__ADS_1


"Hari ini memang belum bisa, tapi nanti Weva yakin Weva bisa."


"Brilyan itu cinta pertama bagi Weva dan sampai kapan pun Brilyan nggak akan pernah terganti. Siapa pun orangnya Weva akan tetap suka sama Brilyan."


Ken hanya diam, ia bahkan tak pernah bicara setelah Weva menceritakan Brilyan.


"Brilyan itu ibarat bulan bagi Weva yang datang memberikan ketenangan dan kedamaian."


"Brilyan itu sudah menjadi detak jantung Weva yang berarti Brilyan itu udah jadi bagian dari Weva."


"Weva nggak bisa kalau sehari aja nggak ngeliat Brilyan. Kayaknya Weva nggak bisa ngapa-ngapain."


"Brilyan itu-"


"Brilyan, Brilyan, Brilyan. Terus kalau gue gimana?" potong Ken yang sudah tidak tahan.


Sudah lelah ia mendengar ujaran Weva yang sudah lebih lima menit ini hanya membahas tentang Brilyan saja.


Weva mendecapkkan bibirnya kesal setelah mendengar hal tersebut. Membuat Weva kini tersenyum licik, rasanya ia kembali menemukan ide untuk mengerjai Ken.


Sudah cukup hanya Ken yang selalu mengerjainya. Sekali-kali Weva juga ingin mengerjai pria menyebalkan itu.


"Ken itu seperti anjing."


"Hah?" Kedua mata Ken membulat diringi kepalanya yang langsung menoleh menatap Weva.


"Yang selalu marah-marah, ngomel nggak jelas dan cuman bisa buat orang jadi sakit hati."


"Sukanya ngomel kayak emak-emak kompleks."


"Ken itu seperti monyet."


"Hah?" Kaget Ken.


"Yang suka manjat tower tangki air belakang sekolah," jelasnya lagi


"Heh! Lo ini ngomongin gue atau ngehina gue, sih?"


Weva menghentikan dorongannya dan menatap Ken yang juga ikut berhenti mendorong motor. Dari sini Weva bisa melihat wajah Ken yang terlihat syok. 


Wajah Ken itu sangat lucu jika sedang marah seperti ini.


"Yah, emang itu fakta." 


"Fakta apaan kayak gitu?"


"Yah, emang itu kenyataan apa kayak gitu? Masa si kurus kering itu lo jelasin yang baik-baik, tapi giliran gue, kok malah yang jelek-jelek? Ini kan nggak adil."


Weva hanya terdiam membiarkan Ken mengoceh lagi.


"Harusnya itu lo juga jelasin yang baik-baik tentang gue, bukan yang jelek-jeleknya aja."


"Suka-suka Weva, dong."


"Ya, tapi itu, kan nggak adil."


"Emang kenapa, sih? Nggak ngaruh juga kan Sama Ken?"

__ADS_1


"Bodoh amat, gue nggak peduli!"


"Bensin, Dek?"


Ken dan Weva dengan serentak menoleh menatap pria tua dengan botol bensin di tangannya.


Ken menatap bingung, begitu juga dengan Weva. Bagaimana bisa ada penjual bensin di tengah malam seperti ini.


Dua Menit Kemudian...


Ken yang sedang asik menuangkan bensin ke dalam tangki motornya itu membuat Weva menoleh ke kiri dan kanan melihat suasana kota yang cukup sepi. Jika tadi ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang maka sekarang sudah tak ada lagi.


Gerakan mata Weva terhenti ketika ia melihat sesuatu membuatnya melangkah pergi meninggalkan Ken yang nampaknya belum sadar akan kepergian Weva.


Ken menutup tangki motor dan menurunkan jok motor.


"Nih, gara-gara lo motornya jadi kehabisan bensin. Kalau nggak ada bapak ini mungkin kita nggak akan pulang tau nggak," oceh Ken lalu menjulurkan uang kepada pria tua yang kini menatap bingung ke arah Ken.


"Ngomong sama siapa, Nak?"


"Ngomong sama teman saya, pak."


Pria itu menatap ke bagian belakang Ken dan sekitarnya lalu kembali menatap Ken yang sibuk menyalakan motornya.


"Teman siapa?"


"Nih, yang gendut. Bapak nggak ngeliat teman saya?"


Pria tua itu kembali menatap mencari teman yang Ken maksud lalu menggeleng.


"Bapak nggak liat teman saya? Mana mungkin Bapak nggak ngeliat teman saya, orang teman saya itu gendut, kok."


"Emang tidak ada siapa-siapa, kok."


"Nah ini tem-" Ken menghentikan ujarannya setelah ia menoleh menatap Weva yang sudah lenyap di belakangnya.


Ken menatap heran. Seingat Ken tadi Weva ada di belakangnya, tapi sekarang gadis gendut itu sudah lenyap.


"Loh, tapi tadi teman saya-" ujaran Ken kembali terhenti setelah mendapati pria tua yang sudah tak berada lagi di depannya.


Ken meneguk salivanya. Pria tua itu juga ikut lenyap seperti Weva. Ken beralih menatap ke segala arah. Apa tempat ini berhantu hingga orang-orang jadi hilang? Hah, kenapa jadi horor begini.


Ken mengusap belakang lehernya yang tiba-tiba saja jadi merinding seperti ini.


Suara tawa terdengar membuat Ken menoleh menatap gadis gendut yang terlihat sedang menendang genangan air pada wadah kolam yang tidak terlalu dalam.


Ken baru sadar jika wadah kolam lebar itu adalah tempat air mancur yang berada di taman.


"Oh, jadi di situ tuh anak."


Ken mendengus kesal membuatnya beralih untuk menopang pinggang menatap ke arah Weva yang terlihat tertawa sendiri seperti anak kecil yang baru melihat genangan air.


"Tuh, anak nyusahin banget, sih."


"Awas aja, ya lo. Weva!!! Dasar gendut," lanjut Ken yang menggerutu kesal.


Ken melangkah menghampiri Weva yang masih melompat-lompat di genangan air membuat air itu berhasil membasahi celana bahkan sampai ke baju yang Weva kenakan.

__ADS_1


__ADS_2