
"Gimana Wev? Lo mau, kan nurunin berat badan lo lagi?" tanya Wiwi sembari menggerakkan naik turun kedua alisnya.
Weva hanya mampu terdiam. Kedua matanya menatap Wiwi. Weva menghela nafas panjang dan membaringkan kepalanya ke atas permukaan meja.
"Hah, ayo lah, Wev! Lo jangan nyerah gitu, dong! Masa lo mau nyerah, sih?"
"Lo harus bisa!"
Weva melirik menatap Wiwi yang memasang wajah penuh hasut.
"Masalahnya Wiwi nggak tahu Ken itu kayak gimana. Ken itu mulutnya pedes tahu nggak, nyebelin."
"Haduh, pusing deh gue. Yah lo nggak usah mikirin tentang omongan dia. Yang perlu lo pikiran itu adalah gimana caranya badan lo ini bisa langsing. Ngerti lo?"
Weva hanya terdiam. Kini ia berpikir keras.
"Tapi-"
"Haaah, lama-lama bukan Ken yang nyebelin, Wev, tapi lo," kesal Wiwi.
...****************...
Langkah pelan Weva kini berlalu menyusuri koridor menuju ruangan toilet sekolah yang berada di lantai satu, tak terlalu jauh dari kelasnya hanya saja butuh lima menit untuk sampai ke toilet sekolah.
Weva melangkah masuk dan menatap satu persatu jejeran pintu WC berusaha untuk mencari pintu WC yang tak terpakai.
Weva kembali melangkah dan menyentuh salah satu pintu yang tertutup dan mengetuknya pelan.
"Ada orang nggak?!!" teriak Weva ketika ia mengetuk permukaan pintu WC.
"Ada!!!"
Teriakan seorang gadis terdengar dari dalam membuat weva kembali melangkah.
Weva yang berhasil menatap salah satu pintu WC yang nampak terbuka sedikit membuatnya melangkah menghampiri pintu itu dan mendorongnya pelan.
__ADS_1
"Heh!!! Gue lagi berak!!!" teriak seorang gadis sembari munutup pintu WC membuat Weva dengan cepat melangkah mundur.
Weva menatap bingung. Bagaimana bisa ada orang yang tak menutup pintu WC dengan rapat saat ia sedang buang air besar di dalam. Memangnya dia tidak takut ada yang membuka pintu WC itu?
Weva menghela nafas dan segera melangkah lagi mencari WC yang tak digunakan. Weva menghentikan langkahnya yang kini berhadapan dengan pintu WC yang terlihat sedikit terbuka.
Weva mengetuk pelan dan tak ada jawaban dari dalam membuatnya segera masuk dan duduk di atas closed yang nampak tertutup rapat.
Weva menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan, merasakan setiap sisi udara yang berhasil keluar dari hidungnya. Rasanya Weva bingung kali ini. Ia tak mungkin meminta Ken kembali untuk membantunya menurunkan berat badannya terlebih lagi ia sempat marah besar dan berteriak kepada Ken secara tak sopan.
"Ah, gimana, dong?" Keluh Weva sembari mengelus wajahnya.
"Weva nggak mungkin minta bantuan lagi ke Ken. lagian kan Ken itu harusnya minta maaf ke Weva karena udah maksa Weva lari sementara kaki Weva keseleo."
"Aaah, ini juga karena pak Walio, sih yang ngurut kaki weva segala, jadinya sembuh kan. Kalau kayak gini pasti Ken nggak percaya kalau kemarin itu kaki Weva beneran sakit."
"Tapi yang Wiwi bilang itu semuanya ada bener ya juga sih tapi, kan masa Weva harus minta bantuan Ken lagi?"
"Kan malu, Aaaaa."
"Di sini kan tang salah itu Ken, bukan Weva, jadi Ken, dong yang harus minta maaf, bukanya Weva."
"Kalau Weva yang minta maaf pasti Ken bakalan besar kepala terus ngetawain Weva. Ih, kan malu."
"Mau ditaruh mana muka Weva?"
Bruk bruk bruk
Ocehan Weva terhenti setelah mendengar suara pukulan yang menghantam permukaan pintu WC.
Weva mendecakkan bibirnya kesal karena ujarannya yang terpotong karena suara berisik dari luar.
Weva beruuaaha untuk mengabaikannya. Ocehnya ini belum selesai.
"Masa Weva-"
__ADS_1
Bruk Bruk bruk!!!
Pintu WC kembali dipukul dengan keras membuat Weva mendecapkan bibirnya kesal, ini yang kedua kalinya ujarannya itu terpotong oleh pintu WC yang dipukul dari luar dan entah siapa pelakunya.
Weva mendongak dengan wajah lelahnya.
"Tuhan, di luar sana Weva udah sering diganggu dan sekarang di dalam WC aja Weva masih tetap ada yang ganggu."
"Siapa?!!" teriak Weva.
"Heh! Lu di dalem berak apa tidur lu, lama amat lu!!!"
Weva mendecakkan bibirnya lebih kesal lagi dan segera bangkit dari closed. Niatnya untuk menenangkan pikiran dan memikirkan hal apa yang akan Weva putuskan kini malah terganggu oleh orang yang kini masih mengomel diluar pintu.
Pintu terbuka membuat Weva berhasil menatap gadis yang kini meringis sambil memegang perutnya.
"Lama amat lu di dalem? Rapat DPR lu lama amat?"
Weva terdiam dengan tatapannya yang menatap serius ke arah siswi itu.
Pruuut?!!
Weva tersentak kaget setelah mendengar suara kentut yang membuat siswi itu kembali meremas perutnya.
"Aduh! Nih gue mau boker, minggir lu!" cerocos siswi itu lalu segera melangkah masuk setelah mendorong tubuh Weva yang menghalangi jalannya.
Weva melangkah keluar dari toilet dan seketika langkahnya terhenti mendapati sosok pria yang melangkah ke arahnya dan pria itu menghentikan langkahnya lalu berdiri tepat di hadapan Weva.
Seketika kedua mata Weva terbelalak kaget dengan apa yang ia lihat sekarang membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat.
Weva tak menyangka pria ini bisa ada di depannya dan apa yang ia lakukan di sini? Apa ia ingin menemui Weva.
Rasanya ia ingin menampar wajahnya hanya untuk memastikan apa ini adalah mimpi atau ini adalah kenyataan.
"Br-br-brilyan?" ujar Weva yang begitu gugup.
__ADS_1