Princess Endut

Princess Endut
31. Beno Dan Tes


__ADS_3

Weva tertawa dengan raut wajahnya yang begitu bahagia mendengar kalimat penyemangat dari sahabatnya itu.


"Gue yakin banget kalau kali ini lo bisa ikut lomba itu."


"Ingat, Wev! Apapun yang terjadi gue tetap akan ada di samping lo-"


"Uuuuuuu, uuu," potong Beno yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Wiwi yang langsung tersentak kaget.


Dasar pria ini, selalu saja membuat orang terkejut.


"Beno! Lo apa-apaan, sih?" kesalnya dengan kedua mata melotot.


Beno nampak tersenyum. Ia nampak tak terlalu peduli pada kekesalan yang baru saja tergambar di wajah Wiwi.


Beno terlihat tertawa sambil memperlihatkan sebuah kertas yang berhasil membuat kedua


bibir Wiwi terbuka.


Apa ini nyata?


Aku mencintaimu, itu yang Wiwi lihat dan tulisan itu berhasil membuat Wiwi melongo.


Weva tertawa kecil sambil menutup mulutnya seakan menertawai Wiwi yang langsung menoleh menatap Weva.


"Cie, ternyata Beno suka sama Wiwi," ujarnya.


"Ah, nggak! Nggak! Gue nggak mau!" tolak Wiwi yang dengan cepat menggeleng.


Wiwi menoleh menatap Beno yang nampak tersenyum malu. Huh, dasar pria ini.


"Ih, apa-apaan, sih lo?"


Beno hanya terdiam tetap dengan ekpresi wajah menahan malu sambil sesekali mendorong kecamatan matanya agar tidak merosot.


Wiwi menghela nafas berat. Dengan penuh kekesalan Wiwi segera menarik kertas itu dan merobeknya dengan cepat. Jujur saja Wiwi tak suka dengan isi tulisan itu.


Senyum Beno lenyap dari bibirnya. Kedua matanya bergerak-gerak mengikuti gerakan tangan Wiwi yang merobek kertas itu tanpa rasa belas kasihan.


"Beno! Ingat, ya! Jangan tulis kalimat kayak gitu! Gue nggak suka!!!" teriaknya dengan nada pengucapan yang sengaja di pelankan agar Beno bisa mengerti dengan ucapannya.


"Ayo, Wev!" ajak Wiwi yang langsung menarik pergelangan tangan Weva dan membawanya keluar dari kelas meninggalkan Beno yang kini terdiam seperti patung.


Wiwi melepas pegangan tangannya setelah ia menghentikan langkahnya tepat di depan tong sampah dan membuang robekan kertas itu dengan wajah yang masih terlihat kesal.


"Cieee, ternyata selama ini Beno suka sama Wiwi."


"Diam lo!"


"Tapi ini kenyataan, kan? Beno itu suka sama Wiwi."

__ADS_1


"Nggak!"


"Buktinya tulisan itu-"


"Nggak ada tulisan itu. Semuanya udah lenyap."


Weva menghela nafas lalu ia melangkah mendekati Wiwi yang nampak menopang pinggang menatap robekan kertas yang telah berada di dalam tempat sampah.


"Wi, seharusnya Wiwi itu nggak usah robek kertasnya, kan Beno cuman mau ngasih tahu Wiwi kalau-"


"Udah, deh, Wev! Lagian gue nggak suka sama Beno, dia itu sebelas dua belas sama si Brilyan yang nggak pernah ngomong."


"Beda, Wi. Brilyan itu pendiam sedangkan Beno itu anaknya bisu," jelasnya membuat Wiwi menghela nafas.


"Lagian kalau Weva pikir-pikir Beno itu lumayan ganteng."


"Nggak usah muji, ngerti lo! Udah sekarang kita ke atas nanti lo bisa telah ikut tesnya."


...****************...


Weva dan Wiwi kini berjalan beriringan di koridor menuju ruangan tes yang terdapat di lantai dua. Ya, nafas Weva lumayan sesak saat melintasi tangga namun, ia tak mau mengecewakan Wiwi yang sedari tadi bersorak di sampingnya agar Weva kuat untuk mencapai puncak anakan tangga.


Rasanya memilki sahabat seperti Wiwi adalah karunia dari Tuhan yang patut untuk Weva syukuri. Disaat milyaran orang membully-nya maka selalu ada dia, Wiwi si sahabat terbaiknya yang selalu ada untuk mendukungnya di setiap kondisi dan situasi.


"Wev, pokoknya lo harus semangat, okay?" ujar Wiwi yang kini telah berada di luar ruangan tes.


Weva mengangguk sambil tersenyum.


"Kerjain tugasnya jangan terlalu terburu-buru!"


"Baca dulu soalnya sebanyak dua kali baru lo jawab!"


"Gue yakin lo pasti bisa. Lo, kan pinter dan lo harus semangat!"


"Jangan pikirin tentang benar atau salahnya yang penting lo yakin sama jawabannya."


Weva tersenyum. Rasanya Weva ingin memeluk tubuh Wiwi sekarang juga.


"Lo dengerin gue nggak, sih?"


"Iya, Wi. Weva dengar, kok tenang aja!"


"Iya lo enak bilang gitu, tapi gue, nih yang deg-degan."


Weva tertawa kecil. Seharusnya ia yang deg-degan bukan Wiwi.


"Doain Weva, ya, Wiwi," ujar Weva dengan wajahnya yang kini langsung gelisah, ya, kenangan ditolak tahun lalu untuk ikut olimpiade masih terbayang jelas di pikirannya.


"Pasti Wev, gue bakalan doain lo, Weva,"  ujar Wiwi.

__ADS_1


"Minggir! Minggir! Minggir!" teriak Firda dengan hebohnya berjalan di tengah-tengah dan berhasil memisahkan jarak antara Weva dan Wiwi yang langsung melangkah mundur.


"Eh, ada si gendut!" ujar Fhina yang langsung berpura-pura kaget sambil tersenyum licik.


Lihat saja wajahnya yang mirip iblis di film tutur tinular. Dasar nenek lampir!


"Namanya Weva bukan gendut!" tegur Wiwi memberi tahu ples dengan wajah kesalnya.


Enak saja gadis sok ini mengatai Weva.


"Heh, lo diem, ya!" Tunjuk Firda sadis ke arah wajah Wiwi.


"Lo jangan pikir gue bisa lupa sama lo. Ingat! Urusan kita belum selesai kemarin," tambah Firda lagi mengingatkan.


Fhina menopang sebelah pinggangnya sambil memutar ujung rambutnya yang berpirang coklat itu. Ia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Weva.


"Tunggu! Tunggu! Lo mau ngapain di sini? Atau jangan-jangan lo mau ikut olimpiade juga?" tanya Fhina dengan wajah sinis-nya.


Weva mengangguk, mengiyakan membuat ketiga geng Sangmut itu tertawa.


Mereka cukup menyeramkan jika tertawa licik seperti ini.


"Ya, iyalah Weva ke sini itu mau ikut tes olimpiade. Lo pikir dia ke sini mau daftar ngaji?"


"Heh, jaga mulut lo!!!" bentak Firda.


"Wah, harus diviralin, nih," ujar Harni antusias lalu dengan cepat mengeluarkan handphone dari saku bajunya dan kembali memulai siaran langsung di Instagram dengan kehebohannya yang menceloteh di depan sana seperti pembawa berita.


"Lo yakin?" tanya Fhina memandang enteng ke arah Wiwi dan Weva.


"Ya yakin, lah," jawab Wiwi yang tak memberi ruang Weva untuk menjawab.


"Haduh, emang lo nggak malu lagi ditolak sama pak Ahmad yang kesekian kalinya, hah? Nggak malu?" tanya Firda mengingatkan kejadian dulu dimana Weva ditolak untuk ikut olimpiade.


         


"Kita liat aja, Gue yakin Weva bakalan bisa ikut olimpiade ini, iya, kan, Wev?"


Weva mengangguk dengan ragu mengiyakan ucapan Wiwi yang masih setia membelanya.


"Sok kepedean banget lo."


"Ih mut-mut!!!" jerit Harni yang masih sibuk mengarahkan kameranya ke arah dua makhluk yang ia benci.


"Liat, deh mut! Udah jelas-jelas bakalan di tolak masih kepedean lagi, dasar gamut," ujar Harni membuat Wiwi mengkerutkan alisnya dengan heran.


"Gamut? Apaan tuh?" tanya Wiwi.


"Gamut, nggak imut," ujar Harni setengah menjerit.

__ADS_1


"Bener mut!" sorak Fhina dan Firda dengan kompak sembari memaingkan kipas pink-nya.


__ADS_2