Princess Endut

Princess Endut
87. Reyyan Si Anak Jujur


__ADS_3

Weva hanya menghela nafas. Ia melirik menatap Ken yang terlihat tersenyum puas.


"Nggak punya apa Tante?"


"Nggak punya kepintaran."


Weva hanya mengangguk. Dia tidak tahu saja bagaimana cerdasnya Weva di sekolah. Terkadang orang itu selalu saja menilai seseorang dari bentuknya.


"Ibuuuu!!!"


Tiga mahluk itu menoleh menatap bocah kecil yang kini sedang berlari memasuki pekarangan rumah dan memeluk pinggang Tanya Sari.


"Ah, bocah kampret itu lagi," bisik Ken dengan nada malas sambil berpura-pura merapikan rambutnya.


Reyyan, bocah laki-laki berusia 7 tahun itu adalah anak dari Tante Sari yang nakalnya minta ampun. Banyak kenangan buruk yang selalu bocah laki-laki itu lakukan di rumah ini.


Reyyan mendongak menatap ke arah Weva yang kini tersenyum namun, sepertinya senyum Weva terlalu menakutkan untuk dibalas.


Reyyan menarik ujung baju yang Tante Sari gunakan membuat Ibunya itu menunduk.


"Perempuan ini siapa?"


Tante Sari dan Ken menoleh menatap ke arah tunjuk Reyyan.


"Oh, ini? Dia itu temannya Kak Ken."


Weva tersenyum memperlihatkan gigi putihnya ke arah Reyyan saat anak laki-laki itu menatap ke arahnya.


"Kenapa dia gendut sekali?"


Ken tertawa cekikikan membuat wajah Weva yang datar itu menoleh menatap Ken.


"Ken!" panggil seseorang membuat semuanya menoleh.


Laila yang semula tersenyum manis kini senyumnya itu sirna menatap Weva yang masih berdiri tak jauh dari Ken, putra kesayangannya.


Siapa gadis gendut yang bersama dengan Ken? Selama ini Ken tak pernah mengajak teman perempuannya itu ke rumah dan hari ini untuk pertama kalinya Ken membawa teman perempuan, tapi gendutnya minta ampun.


"Eh, Jeng Laila."


Tante Sari melangkah mendekati Laila yang kini langsung tersenyum setelah baru menyadari jika ada temannya di sini.


"Loh? Udah datang? Sama Reyyan juga, ya?" ujar Laila lalu mengusap pipi Reyyan.


"Jeng, ini loh yang pesan barang aku banyak banget. Semenjak Ken yang jadi modelnya sekarang makin banyak tuh yang order ke online shop kita."


"Wah, syukur lah. Masuk aja di dalam! Barang-barangnya masih berantakan, tuh di ruangan."


Tante Sari mengangguk lalu menarik putranya yang kini masih menatap ke arah Weva yang hanya bisa menggaruk daun telinganya yang tak gatal itu.


Laila menoleh menatap kepergian Tante Sari dan Reyyan setelahnya ia menoleh menatap kembali ke arah Weva.


Weva tersenyum kaku.


...****...


"Oh, jadi Weva ini sahabat Ken?" tanya Laila sembari meletakkan sepiring daging ayam ke permukaan meja makan membuat Weva berbinar bahagia.  


"Teman bukan sahabat. Sahabat Ken udah mati," ujar Ken.


Yah, mengenai sahabat Ken jadi ingat Kevin dan Roy.

__ADS_1


"Iya, Tante hehehe temen," jawab Weva semangat dengan tatapannya yang tak lepas dari sepiring daging ayam itu.


Laila duduk ke kursi menatap Weva yang masih tersenyum.


"Em, Weva udah berapa lama temenan sama Ken?"


"Emmmm." Gerakan mata Weva kini melirik menatap Ken yang kini terlihat sedang mengupas sebuah apel.


Ken melirik ikut melirik. Weva terlihat tak tahu harus menjawab apa.


"Udah lama-"


"Tapi, kan kita-"


Ujaran Weva terhenti. Ia menghela nafas membuat Ken kembali melanjutkan mengusap buah apelnya.


"Ini baru pertama kalinya, loh Ken ngajak teman perempuannya ke rumah."


Kedua mata Ken membulat, gerakan tangannya terhenti setelah mendengar ujaran Laila. Di satu sisi kini Weva malah tak menyangka.


Bagaimana bisa baru ia yang baru diajak Ken ke rumahnya ini.


"Mama jangan salah paham. Dia itu mau pinjam buku ke Ken."


"Oh, ya?"


"Iya, Tante," jawab Weva sambil tersenyum.


"Wah. Ngomong-ngomong Weva tinggal dimana?"


"Di perumahan King kaisar 1, Tante."


"Yang benar?"


Weva mengangguk.


"Yang mana Tante?"


"Itu kalau nggak salah namanya Tuan Bur-burhan kalau nggak salah."


"Itu Papi saya, Tante."


"Hah?" kaget Laila.


"Papi?"


Weva mengangguk.


Laila menutup mulutnya yang begitu tak menyangka jika gadis gendut yang ada di depannya ini adalah anak orang kaya.


Laila menoleh menatap putranya yang hanya sibuk dengan buah apelnya.


"Jadi Keken temenan sama orang kaya?"


Ken melirik lalu kembali mengupas buah apelnya.


"Emang apa, sih ngaruhnya kalau orang kaya. Sama-sama orang juga."


Laila menghela nafas lalu kembali menatap Weva.


"Oh, iya ngomong-ngomong Ken itu anaknya gimana, sih di sekolah?"

__ADS_1


Weva yang tersenyum itu kini melirik menatap Ken yang begitu terkejut.


"Em-"


Ujaran Weva terhenti menatap Ken yang menatap Weva dengan kedua matanya yang sengaja ditajamkan. Ini adalah tatapan ancaman membuat Weva meneguk salivanya.


"Em, Ken itu orangnya ba-ba-baik banget, Tante, hehehe."


"Oh, ya?" Laila menatap Ken yang kini tersenyum dan mengangguk bangga.


Di satu sisi kini Weva mempias. Baik apanya pria itu. Pria itu bahkan selalu membullynya.


"Waaaaaah," kagum Reyyan sembari menatap bagian perut Weva yang berlipat-lipat ketika Weva duduk di kursi.  


"Ini apa?" tanya Reyyan begitu polos sambil menunjuk ke arah perut Weva membuat Weva menunduk lalu tersenyum malu.


Sementara Laila nampak kaget setelah mendengar perkataan anak dari temannya itu yang kini masih menunjuk perut Weva.


Ken tertawa pelan dan seketika terdiam ketika Laila menyikut pelan bahu Ken, ini teguran kecil agar Weva tak merasa tersingging.


"Reyyan nggak boleh, loh nanya gitu ke Kakak Weva!"


"Nggak apa-apa, kok Tante, hehe ini perut, dek," jawab Weva sambil cengengesan.


"Kok, besar gitu?"


"Aa?" Tatap Weva heran.


"Reyyan!" tegur Laila lagi.


"Kakak makan apa? Kok, bisa besar gitu?".


"Reyyan! Nggak boleh ngomong kayak gitu!"


"Kakak, kok perutnya besar? Kakak punya banyak dede bayi, yah di perut Kakak?" sambung Reyyan lagi.


"Reyyan! Nggak boleh, dong ngomong gitu! Nanti Kakaknya sedih," tegur Laila.


"Reyyan nggak salah. Mama juga tadi bilang kalau Kakak ini kayak gajah."


Weva tersentak kaget membuatnya kini menoleh menatap Tante Sari yang sedang mengintip di pintu.


Tante Sari yang terkejut itu langsung berlari kocar-kacir.


"Reyyan, anak sama Mamanya sama aja. Udah sana kamu ke ruang TV ajah! Kayaknya Mama kamu juga udah capek ngintip.


Kedua mata Tante Sari membulat. Bagaimana bisa temannya itu tahu jika ia kembali lagi untuk mengintip.


"Reyyan!" panggil Tante Sari yang kini melangkah keluar dari persembunyiannya.


"Ayo sini ikut Mama ke ruangan depan!"


Reyyan memonyongkan bibirnya seakan tak suka dengan Mamanya yang kini menarik tangannya keluar.


"Cepetan Reyyan!"


"Iya, Ma. Dah Kakak gendut,".ujar Reyyan sebelum ia berlari meniggalkan ruangan meja makan.


Laila kini kembali tersenyum menatap Weva yang nampak tertunduk, yah sepertinya Weva tak nyaman dengan ujaran Reyyan yang dilontarkan untuk Weva.


Hah, dasar! Ternyata omongan anak kecil lebih menyakitkan dari orang besar.

__ADS_1


Reyyan si anak jujur.


__ADS_2