
"Ken!!!" teriak Weva dengan senyumnya yang merekah bahagia.
Tak ada jawaban dari atas sana.
"Keeeeen!!!" teriaknya lagi.
Tetap saja tak ada jawaban dari Ken. Weva mendecakkan bibirnya kesal dan segera memutuskan untuk melangkahkan kakinya memanjat ke atas tower tangki. Mungkin Ken sedang mendengarkan musik rock kesukaannya sampai tak mendengar teriakan Weva.
"Heh, gendut!"
Weva yang masih memanjat itu dengan cepat menoleh menatap ke arah sumber suara yang sudah sangat ia kenal. Weva tersenyum menatap sosok yang sangat ia cari saat ini berada di belakangnya.
"Keeeeen!" ujar Weva kegirangan lalu dengan cepat ia melangkah turun dan berlari cukup kencang mendekati Ken.
Pluk
Pelukan erat mendarat di tubuh Ken yang berdiri kokoh menyambut kedatangan Weva dan Ken pun tak menduga adanya pelukan ini. Kedua mata Ken terbelalak dengan tubuhnya yang kini menjadi kaku seperti batu serta kedua tangannya yang merentang seakan tak berani untuk membalas pelukan Weva.
Dug dug dug!!!
Detak jantung Ken kini berdetak sangat cepat membuatnya benar-benar kaku sekarang.
"Perasaan apa ini? Jangan Ken! Jangan merasakan hal ini kepada gadis gendut yang hanya datang untuk membuatnya menjadi langsing, jangan!"
Ken mendecakkan bibirnya dengan kesal dan segera mendorong tubuh gendut Weva yang kini memonyongkan bibirnya. Ken hanya tak mau jika Weva mendengar suara detak jantungnya yang berdetak sangat keras itu. Ini hal yang memalukan.
Apa jadinya jika Weva sampai tahu. Mengapa Ken seaneh ini sampai berperasaan seperti ini kepada Weva.
"Aduh!" ringis Weva sembari tersenyum, ini tingkat bahagia paling tinggi bagi Weva.
"Ken kenapa, sih dorong-dorong gitu?" kesalnya yang tak terima.
"Lo tuh yang kenapa? Pakai peluk-peluk segala lagi," ujar Ken sembari berlagak membersihkan pakaiannya.
Weva tak menghiraukan hal tersebu membuatnya kembali mendekati Ken yang kini nampak menjaga jarak oleh Weva yang kapan saja bisa memeluknya secara tiba-tiba.
"Ken, Ken!" panggil Weva.
"Em," sahut Ken begitu dingin.
"Weva bahagia banget hari ini, Aaaaa!!!" jerit Weva sembari melompat-lompat kegirangan diakhir ujarannya membuat Ken mengkerutkan dahinya.
"Ken!" panggil Weva lagi disaat Ken tak menanggapi ujarannya.
"Apa, sih manggil-manggil gue mulu? Nggak usah nyebut nama gue! Nama gue mahal."
Weva mengerakkan bibirnya seakan mengikuti ocehan Ken.
"Terserah, deh Ken, tapi sekarang Weva mau bilang kalau Weva ini bahagia."
Ken melangkah dan memanjat di tower tangki melintasi Weva yang kini masih tersenyum bahagia menatapnya.
"Ken!" panggil Weva sembari melangkah mendekati Ken.
Tak ada jawaban dari Ken.
"Keeeeen!!!" panggil Weva lagi.
"Apa, sih?" Kesal Ken lalu berhenti memanjat di tower tangki yang belum terlalu tinggi.
__ADS_1
"Weva bahagia, loh ini."
"Nah, terus kenapa lo ngasih tau ke gue?" tanya Ken dan kembali memanjat.
"Keeeen!!!" teriak Weva membuat Ken kembali berhenti memanjat.
"Weva mau ngomong."
"Gue nggak ada waktu."
"Ih, bentar doang, kok."
Ken mendengus kesal dan segera melompat turun membuat Weva tersenyum kegirangan.
"Mau ngomong apa lo?"
"Ken, Weva sangat-sangat bahagia soalnya Brilyan juga suka sama Weva," jelasnya tanpa basa-basi.
"Hah? Yang bener lo?"
"Iya."
"Kena pelet apa, tuh si kurus kering sampe suka sama lo?"
Ujung bibir Weva terangkat. Kaget sekali ia setelah mendengar ujaran pedas dari Ken.
"Atau mungkin lo salah denger kali?"
"Nggak! Masa Weva salah dengar, orang Brilyan sendiri, kok yang bilang sama Weva kalau Brilyan itu berharap Weva bisa langsing dan Brilyan bisa ngejar Weva," jelasnya.
"Lo yakin?"
"Ken!"
"Apa lagi, sih?"
"Weva minta bantuan lagi, yah sama Ken biar badan Weva cepat langsing,"
"Oh iya yah, gue baru inget kalau kemarin lo mutusin buat berhenti nurunin berat badan lo dengan bantuan gue, kan."
"Yah itu, kan kemarin Ken, sekarang, kan beda lagi "
"Heh, gendut! Menurut gue itu sama aja. Kemarin atau pun sekarang, yah kalau berhenti tetap aja berhenti!"
Ken berpaling melangkah membelakangi Weva yang kini nampak syok mendengar penjelasan Ken.
"Keeeeen!!!" teriak Weva sembari berlari mengejar Ken yang tak kunjung menghentikan langkahnya.
Tuhan, mengapa ada mahluk seperti Ken yang selalu melibatkan perasaan. Mengapa perasaan Ken sangat sensitif.
"Keeeen!!!" teriak Weva lagi lalu berdiri di hadapan Ken yang telah menghalangi jalannya sembari merentangkan kedua tangan yang kini telah berhasil menghentikan langkah Ken.
"Kenapa sih lo?"
"Weva mohon bantu Weva lagi, Keeeen!"
"Gue nggak mau, gendut."
"Aaaaah, Keeeen!"
__ADS_1
"Apa? Hah? Aaaaaa Keeeen! Gue nggak peduli sama lo" Kesal Ken yang mengikuti apa yang telah Weva ujarkan membuat Weva cemberut setelah Ken berhasil melintasinya.
"Keeeeen!!!"
"Apa lagi?"
"Kalau Ken nggak mau bantuin Weva, Weva bakalan-"
"Bakalan apa?" potong Ken
Weva terdiam dengan bola matanya yang kini bergerak-gerak kebigungan berusaha mencari ancaman untuk Ken.
Satu menit kemudian...
"Aaaaaaa!!!"
Suara tangisan Weva yang sengaja Weva buat-buat untuk menyentuh hati keras Ken yang tak semudah itu dicairkan olehnya Suara Weva terdengar sangat keras sembari memeluk kaki Ken yang kini berdiri dengan wajah datarnya.
"Aaaaa huuuuuuuu, pokoknya Ken harus bantuin Weva!"
"We-we -Weva ja-janji bakalan olahraga yang serius sama Ken."
"Weva janji kalau Weva nggak bakalan marah-marah lagi sama Ken dan Weva bakalan ngerjain tugas sekolah Ken dan Weva janji bakalan-"
Ken menarik nafas panjang. Ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja merasa gatal setelah mendengar ocehan Weva yang menyambarnya tanpa henti.
"Hah, hust! hust! Berisik banget, sih lo."
"Weva bakalan kayak gini terus sampai Ken mau bantuin Weva lagi."
Ken terdiam sembari menunduk menatap Weva yang masih menangis sembari memeluk kaki kananya persis seorang anak kecil yang tak diizinkan ikut jalan-jalan oleh Ayahnya.
"Pliase, Ken!"
"Tolongin Weva. Masa Ken tega ngeliat Weva kayak gini?"
"Ken nggak kasihan apa sama Weva?"
Ken masih terdiam. Ia menoleh ke arah kiri dan kanan berusaha untuk memastikan tak ada orang yang melihatnya.
"Ken, Weva minta maaf sama Ken!"
"Gila lo, yah? Udah lepasin kaki gue!"
"Nggak mau. Weva nggak mau!"
Ken terdiam. Percuma ia bicara. Gadis gendut ini sudah seperti anak monyet yang tak ingin lepas dari induknya.
"Weva akuin Weva salah kali ini, jadi pliase tolong bantu Weva!"
"Weva janji Weva nggak main-main lagi dan bakalan serius olahraganya."
"Weva bakalan nurutin semua yang Ken mau. Apa pun itu."
Weva yang masih memohon itu menatap Ken yang menatap ke arah lain seakan tak tertarik untuk menatapnya yang sudah banyak bicara panjang dan lebar.
"Ken! Ayo, dong!"
Ken menunduk menatap Weva yang mulai memasang wajah penuh harap. Ken terdiam sejenak.
__ADS_1