
Pukul 6:00
Weva duduk terdiam sembari menatap para pelayan yang memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi mobil. Hari ini ia benar-benar akan pergi meninggalkan kota Jakarta menuju Korea.
Weva menatap nanar pada permukaan handphonenya seakan bimbang untuk menghubungi siapa kali ini mengenai keberangkatannya. Weva ragu untuk menghubungi Wiwi dan mengatakan jika ia akan segera berangkat ke Korea hari ini.
Dan untuk Ken. Apa ia perlu memberitahu Ken juga. Weva takut Ken tidak peduli dan untuk apa ia memberitahu Ken, mereka tidak punya hubungan apa-apa.
Mengenai Wiwi sudah jelas Wiwi akan terkejut dengan hal yang sangat terburu-buru ini kalau Weva memberitahunya
"Ayo, Non! Semuanya sudah siap."
Weva mengangguk dan melangkahkan kakinya dengan perasaan berat hati menuju masuk ke dalam mobil dan setelahnya Weva menyandarkan pipinya di sandaran kursi dan memilih untuk diam.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan beraspal kota Jakarta yang kali ini kurang macet menuju bandara. Maklum hari yang masih terlalu pagi untuk para pekerja kantoran sehingga kendaraan masih sedikit.
Weva menatap nanar bangunan-bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi serta pohon-pohon yang berdiri kokoh di pinggir jalan mengiringi perjalanan Weva pagi ini.
Apakah ia harus pergi? Walau hanya seminggu, tapi rasanya Weva tak ingin ke sana. Kalau ia pergi ke Korea maka itu berarti ia akan bertemu dengan A-Yeong. Weva tidak mau, ia sudah terlanjur benci pada sepupunya itu.
Weva tidak akan pernah lupa omongan Mommy-nya yang selalu membandingkan dirinya dengan sepupunya itu.
"Non!" panggil pak Walio yang entah sejak kapan memanggilnya.
"Non Weva!" ulangnya lagi ketika Weva tak menjawab.
Weva menoleh menatap pak Walio yang tersenyum memperlihatkan giginya yang terlihat putih.
"Nasi gorengnya dimakan saja nanti nona Weva kelaparan!" usulnya.
Weva mengangguk dan meraih kotak bekal berwarna biru yang telah di siapkan oleh Mbok Rosi di pagi tadi. Weva menghembuskan nafas panjang ketika ia teringat mengenai satu hal, Brilyan.
Pria itu yang menyita pikirannya saat ini. Apa ini juga berarti ia tak akan lagi melihat Brilyan? Weva tidak bisa kalau Brilyan tidak ada.
"Pak, nanti di depan belok kanan, yah!"
"Belok kanan? Bukannya jalan ke bandara kita lurus saja, nona?"
"Udah belok aja, pak! Weva ada perlu."
Pak Walio hanya mengangguk dan melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Weva.
Mobil berhenti setelah Weva menyuruh pak Walio berhenti dengan teriakannya. Weva membuka pintu lalu berlari keluar dari mobil membuat pak Walio mengernyit heran.
"Non Weva! Non Weva mau kemana?!!" teriak pak Walio yang mengeluarkan separuh tubuhnya di jendela mobil.
__ADS_1
Weva tak menghiraukan teriakan pria berdarah Papua itu. Ia tetap berlari menghampiri sebuah rumah berukuran besar yang sudah tak asin lagi baginya.
Weva meneguk salivanya. Ia menekan bel rumah yang ada di depan gerbang rumah berulang-ulang
Weva sangat berharap ia bisa bertemu dengan dia, Brilyan sebelum ia pergi ke Korea.
Weva memijat jari-jari tangannya dengan gelisah menanti seseorang untuk membuka pintu gerbang.
Tak berselang lama gerbang rumah terbuka mendapati mobil hitam yang juga terlihat mewah keluar dari gerbang yang terbuka secara otomatis membuat Weva tersenyum bahagia.
"Itu siapa?" tanya Raful membuat Brilyan menoleh.
"Weva," batin Brilyan.
Brilyan ingat dengan gadis bertubuh gendut yang terakhir kali ia temui di ruangan UKS. Tapi untuk apa ia ada di depan rumahnya.
Mobil melaju melintas Weva yang langsung kehilangan senyumnya. Ia tak ingin pergi tanpa melihat Brilian, walau ini hanya seminggu, tetapi tetap saja ia tidak bisa.
"Brilyan!!!" teriak Weva.
Weva berlari berusaha untuk mengejar mobil yang mungkin saja ada Brilyan di dalam sana. Weva tak tahu apakah firasatnya itu benar atau salah, tetapi ia benar-benar ingin bertemu Brilian.
Raful melirik menatap cermin memperlihatkan gadis gendut yang masih berlari dan berteriak mengejar mobil.
Brilyan tak mengerti mengapa gadis gendut itu sampai mau mengejar mobilnya. Apa dua sudah gila atau kurang kerjaan?
"Pak! Berhenti sejenak!" pinta Brilyan menyuruh asisten Papanya itu untuk menghentikan mobilnya.
Tanpa banyak tanya Raful menepikan mobil membuat Brilyan langsung melangkah turun.
Weva tersenyum melihat Brilyan yang terlihat menutup pintu mobil lalu ia melangkah ke arah Weva yang sejak tadi telah panik. Ia sangat takut pergi tanpa melihat Brilyan, sang penyelamat masa kecilnya.
Weva menghentikan larinya. Walau ia bernafas ngos-ngosan ia tetap saja berusaha untuk tersenyum ke arah Brilyan yang hanya memasang wajah datar.
"Kamu-"
"Weva mau ketemu sama Brilyan, Weva mau ngomong sesuatu," ujar Weva cepat, namun dengan hati-hati.
Brilyan menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia tak memakai seragam sekolah. Baru kali ini ia melihat gadis gendut sepagi ini tanpa memakai seragam di hari sekolah. Biasanya di jam seperti ini gadis yang ada di hadapannya sudah ada di dalam kelasnya untuk meletakkan bekal untuknya di laci meja.
"Weva boleh, kan ngomong?"
"Ngomong apa?"
Weva menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan dengan perlahan. Weva tertunduk menatap kotak bekal yang ada di tangannya dan tak lama ia menjulurkan bekal itu ke arah Brilyan yang kini dibuat heran.
__ADS_1
"Ini, kotak bekal isi nasi goreng buat Brilyan. Weva kasi ini buat Brilyan. Semoga Brilyan suka sama nasi goreng buatan Weva."
Brilyan meraih bekal itu. Ia tak ingin lama-lama dan membuang-buang waktunya.
"Mungkin bekal ini yang terakhir kalinya buat Brilyan di minggu ini karena minggu depan Weva nggak akan datang dan bawain Brilyan nasi goreng lagi."
Weva tertunduk lagi membuat Brilyan mengangkat pandangannya menatap Weva dengan serius. Ia tak mengerti.
"Weva mau pergi," ujarnya dengan berat hati walau Brilyan tak bertanya.
Brilyan mengangguk membuat Weva tersenyum lirih. Brilyan tak menanyakan tentang kemana Weva pergi.
Apa Brilyan tak peduli kepadanya sehingga Brilyan tidak bertanya?
"Brilyan ingat Weva nggak, sih?"
"Brilyan lupa sama Weva?"
Weva menunduk menatap gelang merah yang ada di pergelangan tangannya. Sepertinya ini adalah waktunya untuk memberitahu Brilyan.
"Kita udah kenal lama bahkan dari kecil."
"Weva yang pernah Brilyan tolong waktu kecil di taman dan Brilyan yang ngasih Weva gelang merah ini," jelasnya mengingatkan sambil memperlihatkan gelang merah di tangannyam
"Brilyan udah ingat?"
"Itu sebabnya Weva sayang sama Brilyan dan ngejar-ngejar Brilyan dari SD sampai sekarang."
Tak ada jawaban dari pria dingin itu membuat menatap pria itu nanar.
"Aku harap Brilyan ingat."
Weva beralih untuk menunduk berusaha untuk menguatkan hatinya untuk tidak menangis lalu ia kembali menatap Brilyan sambil tersenyum paksa. Bibirnya bergetar ingin menangis, tetapi sekuat tenaga ia tahan.
"Maaf udah ganggu Brilyan, tapi yang Brilyan harus tau, Weva sayang banget sama Brilyan."
"See you next time, Brilyan."
Weva tersenyum walau hatinya sekarang sedang sakit serta pedih di dalam sana. Ia berpaling dengan perlahan lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Brilyan yang terdiam kaku di belakang sana sambil memegang bekal yang Weva berikan.
Brilyan menunduk menatap kotak bekal yang Weva berikan lalu mengangkat padangannya menatap Weva yang sudah melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Entah mengapa Brilyan merasa sedih setelah mendengar hal itu.
Brilyan melangkah selangkah berniat untuk mendekati mobil Weva akan tetapi, sayangnya mobil itu telah melaju pergi meninggalkannya.
__ADS_1