
Cendrawasih Internasional School
Wiwi menopang dagunya dengan rasa lelah menunggu kehadiran Weva yang sedari pagi tak muncul kehadirannya. Wiwi masih tak masalah jika tak dijemput dan berangkat sekolah bersama, tetapi mengapa sekarang Weva belum muncul juga bersama dengan Ken. Mungkin, sekarang Weva diantar lagi oleh Ken.
Memang seperti itu biasanya. Dimana ada Ken maka di situ ada Weva dan begitu juga sebaliknya.
"Ken!" teriak Wiwi ketika melihat Ken yang melangkah masuk ke dalam kelas.
Ken menoleh cepat menatap Wiwi yang berlari mendekatinya. Ken menatap tak suka. Ada masalah apa lagi gadis cerewet ini. Bagaimana bisa di pagi hari ini di dalam kondisi baru sembuh telah dihadapkan dengan sahabat Weva yang kalau bicara bisa panjang seperti rel kereta api hanya dalam satu tarikan nafas
"Kenapa lo? Mau minta sumbangan? Nih, duit buat lo."
Ken melintasi Wiwi yang melongo setelah ia meletakan uang ke telapak tangan Wiwi.
"Ken!!!" teriak Wiwi yang berlari dan berdiri di hadapan Ken.
"Kenapa, sih lo?"
"Gue nggak butuh duit dari lo tau nggak. Lo pikir gue anak peminta-minta apa?"
"Gue kasi duit malah nolak, terus mau lo apa?"
"Si Weva mana?"
"Loh, kok lo tanya gue? Lo, kan sahabatnya. Tiap hari juga si Weva berangkat sekolah sama lo terus, kenapa lo malah nanya ke gue lagi?"
"Nggak, Weva nggak jemput Wiwi tadi pagi. Lah, tapi kan tiap hari Weva itu pergi pulangnya bareng lo."
"Tapi hari ini gue nggak barengan dia."
"Hah?" Kaget Ken yang terkejut bukan main.
"Apa jangan-jangan Weva sakit parah? Soalnya, kan Mommy-nya itu nggak ada buat jagain Weva. Mana muka dia pucat banget lagi kemarin."
"Terus kalau Weva nggak sama lo jadi Weva dimana, dong?" tanya Ken.
Tanpa banyak pikir Wiwi langsung melangkah ke arah kursi sembari meraih handphone dari saku bajunya dan mengeseknya cepat.
Ken mengikut dengan tatapannya yang penuh dengan rasa khawatir.
Wiwi mendekatkan layar handphone di pipinya dan terdiam berharap Weva mengangkatnya. Kedua mata Wiwi yang gelisah itu menatap Ken sambil mengigit ujung jejari tangannya.
"Ayo, Wev angkat!"
"Ayo!"
Handphonnya berdering dengan nada dering panggilan ciri khasnya membuat Weva melirik menatap nama Wiwi di permukaaan layar handphonenya.
Wiwi sekarang sedang menghubunginya.
"Angkat aja non! Kasian, kan kalau tidak diangkat," saran pak Walio yang masih sibuk menatap ke depan.
Weva mengangguk pelan dan mengangkat telfon, mendekatkan handphone itu ke pipinya.
"Wev, lo dimana?" tanya Wiwi cepat tanpa basa basi.
__ADS_1
"Dia udah angkat?" tanya Ken yang semakin dekat.
"Weva, We...Weva-"
"Dimana lo sekarang?"
Weva menarik nafas panjang dan menghembusnya pelan.
"Weva mau ke bandara."
"Bandara?" kaget Wiwi membuat Ken mengekerutkan dahinya keherangan.
"Lo mau kemana?"
Weva menarik nafas panjang yang begitu berat dan kembali berujar.
"Weva mau ke korea."
"Hah? Korea? Yang benar aja do-" ujar Wiwi panik membuat Ken merampas handphone milik Wiwi dan mendekatkan di pipinya.
"Heh gendut! Lo mau kemana?"
"Ken?" ujar Weva keherangan.
Entah bagaimana Wiwi dan Ken yang Weva ketahui tak akrab itu bisa bersama.
"Heh gendut! Lo tuli, yah? Gue nanya tapi lo nggak ngejawab."
"Apa, sih Ken?"
"Weva mau ke Korea."
"Ngapain lo ke sana?"
Wiwi kembali merampas handphone miliknya dari tangan Ken yang tersentak kaget.
"Wev! Lo gila, yah? Masa lo pergi nggak ngabarin gue. Gue kan sahabat lo."
"Sorry, Wi, lagian gue juga nggak lama, kok di Korea."
"Yah tetap aja, dong!!!" Gertaknya.
Tut Tut Tut
Sambungan terputus membuat Wiwi menatap cepat ke arah layar handphonenya.
"Yah, mati."
"Lo matiin?" kesal Ken yang beralih untuk menatap layar handphone berusaha untuk memastikan.
"Yah, kok lo matiin, sih?"
"Gue nggak matiin tapi pulsa gue habis, ngerti nggak, sih?"
__ADS_1
"Yah, Lo marah-marah Jadi pulsanya habis. Andai lo nggak marah mungkin pulsanya nggak habis."
Kedua mulut Wiwi terbuka tak menyangka. Pria tampan d hadapannya ini malah menyalahkannya.
"Malah nyalahin gue lagi lo."
"Emang lo salah."
"Ya, gue emosi lah karena sahabat gue mau pergi tapi dia nggak ngabarin gue!" jelasnya dengan kesal.
Keduanya kini terdiam. Para siswa dan siswi yang sejak tadi ada di dalam kelas hanya mampu terdiam menikmati perdebatan kedua mahluk yang tak pernah dekat.
Wiwi memilih menopang pinggang sambil mengetuk-ngetuk ujung sudut handphonenya di kening seakan sedang berpikir mengapa Weva pergi.
"Sekarang gimana, dong? Weva mau pergi ke Korea dan bisa-bisanya dia nggak ngabarin gue."
Ken terdiam sejenak setelah menghembuskan nafas panjang dengan kedua bola matanya yang begerak-gerak memikirkan sesuatu dan tak berselang lama ia menatap Wiwi dengan rencananya.
"Gue punya ide," ujar Ken membuat Wiwi menoleh.
...****************...
Mobil hitam yang pak walio lajukan kini berhenti tepat di area parkiran depan bandara membuat Weva dan pak Walio melangkah turun secara bersamaan.
Pak Walio yang dengan gercap itu segera menurunkan koper-koper dari bagasi mobil. Tidak banyak yang mereka siapkan untuk Weva karena Nyonya Sasmita mengatakan kalau Weva hanya seminggu.
Weva mendongak menatap gedung dan ia beralih mendongak menatap sebuah pesawat yang baru saja telah terbang ke udara.
Segaris sedih terukir pada wajahnya. Rasanya ia ingin di sini saja dan tak menginginkan untuk pergi.
Pak Walio menatap jarum jam yang ada pada jam di tangannya.
"Sudah lewat jam tujuh, non. Ayo, non kita masuk!" ajaknya lalu melangkah di belakang Weva yang dengan berat hati menurut.
...****************...
Piiiiiiip!!!
Suara klakson motor vespa milik Ken berbunyi nyaring membelah jalan raya yang macet parah hingga tak ada ruang untuk menyalip.
Saat ini Ken memutuskan untuk menyusul Weva ke bandara dan menayangkan mengapa ia pergi. Mungkin, ia tak dapat mencegah Weva untuk tidak pergi tapi setidaknya ia bisa melihat Weva. Bukan hanya Ken, tetapi Wiwi juga. Mereka ingin menanyakan mengapa Weva tak memberitahu mengenai kepergiannya.
Motor Vespa Ken kini berhenti ketika mendapati kemacetan yang tak mampu di lintasi lagi Ini benar-benar kemacetan yang padat.
"Ih, Kok berhenti, sih?" Kesal Wiwi walau ia sudah tahu kalau jalanan sekarang sedang macet-macetnya.
"Heh! Lo nggak liat jalanan sekarang macet? Kalau gue jalan terus nggak berhenti bisa-bisa kita nggak sampai ke bandara tapi rumah sakit!" Kesalnya penuh amarah.
"Terus gimana, dong sekarang? Gua itu harus ketemu sama Weva. Weva itu sahabat gue dan gue nggak bisa biarin dia pergi."
"Bisa diem nggak, sih lo?!!" gertak Ken yang melirik Wiwi tajamm
Wiwi seketika terdiam walau wajah kesalnya terlihat sembari menopang pinggan dengan wajah berpikirnya.
"Gue punya ide," ujar Wiwi dengan wajah sumringah membuat Ken melirik lagi.
__ADS_1