Princess Endut

Princess Endut
137. Pasar Malam (Penuh Tawa)


__ADS_3

Jauh dari kata bagus. Suara Ken bahkan lebih buruk daripada radio rusak.


Weva meledakkan tawanya. Tak mudah untuk tidak tertawa setelah mendengar suara Ken. Weva tak pernah menyangka kalau wajah tampan dan suara Ken jauh berbeda.


Ken menoleh dan ikut tertawa setelah mendengar suara tawa dari Weva. Ken sebenarnya ingin marah, tapi ia malah ikut tertawa. Ken sadar suaranya memang jelek dan itulah membuatnya juga ikut terpancing untuk tertawa.


Ken ingin kembali bernyanyi. Ia membuka mulutnya di depan microphone berniat untuk kembali bernyanyi akan tetapi Weva malah tertawa membuat Ken juga ikut tertawa.


Ken merebahkan tubuhnya ke sofa dan melepaskan tawanya begitu lepas seakan tak ada yang ia tutupi dari Weva yang sejak tadi telah menyentuh perutnya yang terasa sakit karena kebanyakan tertawa.


Weva melayangkan satu pukulan ke punggung Ken seakan menyuruh Ken untuk berhenti tertawa, tapi itu tidak lah muda. Suara tawa Ken semakin menjadi-jadi ditambah lagi saat keduanya saling bertatapan.


...****************...


Ken dan Weva melangkah keluar dari ruangan karoke sambil tertawa terpingkal-pingkal membuat penjaga keamanan karoke terheran. Bukan hanya para penjaga keamanan itu yang keherangan, tapi para pengunjung yang berada di luar juga ikut terheran.


"Ah, udah, Wev! Gue capek ketawa."


"Weva juga."


Ken menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia berusaha untuk menahan tawanya. Ia tak mau disangka mengalami gangguan jiwa oleh orang-orang karena telah tertawa seperti ini.


"Kayaknya tadi ada kambing kejepit, deh di dalam."


Weva melirik menatap Ken yang juga ikut melirik ke arahnya. Weva melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk menahan tawanya. Namun Weva meledakkan tawanya membuat Ken juga ikut tertawa.


"Itu suara Ken!!!" teriak Weva lalu kembali tertawa cekikan membuat para penjaga keamanan itu menoleh menatap ke arahnya.


Ken menoleh ke kiri dan kanan melihat semua orang yang kini sedang menatapnya dengan tatapan serius.


"Gila, ya lo," bisik Ken kesal.


Ia menaikan penutup kepala jaketnya menutupi separuh dahinya lalu melangkah pergi. Rasanya malu sekali ditambah lagi saat mendengar suara tawa Weva yang semakin cekikan di belakang sana. Ia nampaknya begitu sangat puas saat menertawai Ken.


"Ken tunggu!!!" teriak Weva lalu berlari mengejar Ken.


"Ken!"


"Ken! Tunggu!"


Ken tak peduli. Ia tetap saja melangkah. Yang Ken pikirkan adalah ia harus segera jauh-jauh dari tempat karoke itu.

__ADS_1


"Ken! Ken marah sama Weva?"


"Menurut lo?" tanya Ken ketus.


"Ken! Gimana, sih? Baru aja tadi ketawa-ketawa sekarang udah marah lagi."


Weva menghentikan langkahnya diiringi helaan nafas panjang. Percuma saja ia berteriak ujung-ujungnya Ken juga tidak akan mau mendengarnya.


Sepertinya saat Ken marah, telinga dan hatinya jadi tertutup sehingga tak mau mendengar apa pun yang Weva katakan.


Weva yang masih cemberut itu menoleh menatap senang pada dinding bagian atas pintu masuk bilik yang bertuliskan photo booth. Weva ingat tempat ini, ini adalah tempat untuk melakukan foto dan hasil fotonya akan muncul secara otomatis.


"Mau foto, Dek?" tanya pria yang datang menghampiri Weva.


"Mau," jawab Weva yang begitu antusias.


"Wah, harganya cuman sepuluh ribu dapat tiga koin," jelas pria itu sambil menghitung pada jari tangannya.


"Sepuluh ribu?"


Pria itu mengangguk.


Weva tersenyum beberapa saat lalu melepas tas hellokitty dari punggungnya dan mengeluarkan dompet hitam dari dalam sana.


Senyum Weva sirna setelah melihat dompetnya yang ternyata kosong, tak ada sepeserpun uang di dalam sana.


"Yah, Weva nggak punya uang, pak. Weva cuman punya kartu," ujar Weva sambil mengangkat black card yang isinya bukan sedikit.


Di dalam black card itu bukan hanya ratusan juta, tapi milyaran. Weva memang jarang membawa uang lembaran karena ia memang tak pernah diberikan uang lembaran oleh Mommy dan Papinya, tapi yang ia dapatkan hanya transfer setiap bulan.


Kedua mata pria itu membulat. Ia menatap kaget pada balck card yang ada di tangan Weva. Pria itu tak menyangka kalau gadis gendut yang ada di hadapannya ini adalah orang kaya.


Pria itu meraih black card dari tangan Weva dengan wajahnya yang masih memasang wajah tak menyangka. Apa ini asli?


Ken menghentikan langkahnya. Sejak tadi ia melangkah, ia tak pernah lagi mendengar suara Weva. Apa dia hilang lagi? Yah, itu yang kini terpikirkan oleh Ken.


Ken menoleh menatap Weva yang sudah tak berada di belakangnya. Kedua mata Ken merambah ke segala arah berusaha untuk mencari sosok Weva.


Dia hilang lagi. Ken mendengus kesal lalu segera melangkah menyusuri jalan yang telah ia lalui tadi, mungkin saja ada Weva di sana.


Weva menatap bingung ke arah pria yang masih memegang black cardnya. Weva tak mengerti mengapa tatapannya seperti itu saat melihat black card miliknya.

__ADS_1


"Ini beneran kartu kamu?"


Weva mengangguk dan tak berselang lama pria itu tersenyum sinis. Sepertinya gadis ini hanya sendiri dan agaknya gadis gendut ini mudah dibodohi.


"Minggir lo!" tegas Ken yang langsung merampas back card milik Weva dari tangan pria itu yang terkejut bukan main.


Ken melirik tajam membuat pria itu meneguk salivanya ketakutan. Sepertinya pria bertubuh tinggi dan berparas tampan itu mengetahui rencana jahatnya. Baru saja ia ingin berlari pergi, tapi Ken sudah merebut black card itu dari tangannya


"Nih, ambil! Simpan di dalam dompet lo dan jangan keluarin kalau lo ada di tempat umum. Banyak orang jahat di sini," jelas Ken lalu melirik sinis pada pria yang semakin takut.


Ken meraih pergelangan tangan Weva dan menariknya, tapi Weva malah menahannya.


"Ken!"


"Apa lagi, sih?"


"Weva mau foto."


Ken menghela nafas. Banyak sekali kemauan gadis gendut ini.


"Weva mau masuk di situ." Tunjuk Weva membuat Ken menoleh menatap bilik yang ditutup oleh kain hitam yang tidak terlalu panjang.


"Boleh, ya?"


Ken menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Ia ingin menolak, tapi belum sempat Ken bicara Weva sudah berlari masuk ke dalam bilik membuat Ken menggerakkan kepalanya menatap Weva yang berlari secepat kilat.


"Weva!" panggil Ken.


Ken mendengus kesal. Harus apa sekarang? Menurut, ya hanya itu yang bisa ia lakukan.


Ken menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Tuhan, apa ia harus terus-terusan bersabar meladeni cobaan ini.


"Ken!!!" teriak Weva.


"Apa?"


"Ayo! Weva udah nggak sabar mau foto!"


Ken menggerutu kesal. Ia menggerakkan kedua tangannya seakan telah siap untuk mencekik leher Weva, namun tak berselang lama ia melirik menatap pria tadi yang sedang menatapnya.


Sial! Ia ketangkap basah.

__ADS_1


__ADS_2