
Ken mulai menghitung sambil mengangkat jemari tangannya. Setelah ini hal yang paling menyenangkan akan terjadi.
"Tiga."
Kedua mata Brilyan membulat dan memerah. kerongkongannya mengeras merasakan sensasi asin pada rongga mulutnya.
Syuuuur!!!
Air teh yang berada di dalam rongga mulut Brilyan tersembur ke arah lantai membuat pak Ahmad yang hanya menggunakan sarung itu mengangkat kedua kakinya di atas kursi. Wajahnya terlihat syok menatap Brilyan yang mengusap mulutnya yang basah itu. Ia mengeluarkan lidahnya yang terasa kebas setelah diselimuti air garam.
Brilyan menoleh menatap Weva yang melongo memandanginya.
Pak Ahmad menunduk menatap lantai yang basah karena ulah Brilyan dan kembali menatap syok ke arah Brilyan pula.
"Ada apa? Di sini tidak ada kebakaran, kan tapi kenapa kamu menyemprot lantai?"
Ken melipat bibirnya ke dalam. Ia tertawa kecil membuat kedua bahunya bergerak naik turun. Tak ingin ada yang curiga, Ken dengan cepat melangkah pergi menuju dapur.
Brilyan menggeleng. Ia tak mungkin mengatakan jika teh ini terasa sangat asin. Brilyan menarik nafas panjang sambil memejamkan kedua matanya. Ini pasti karena ulah pria itu, Ken. Siapa lagi yang akan melakukan hal ini jika bukan dia. Hanya pria itu yang selalu usil dengannya.
"Brilyan!"
Brilyan menoleh menatap pak Ahmad yang sejak tadi menatapnya. Wajahnya masih terlihat syok di sana sementara Weva juga masih terdiam.
"Ada apa? Apa buatan teh dari istri Bapak tidak enak?"
"Oh, tidak, pak. Tehnya panas," jawabnya berbohong.
"Aduh, makanya kalau minum teh itu hati-hati!"
Brilyan tersenyum simpul lalu mengangguk. Weva yang mendengar hal tersebut beralih memasang wajah heran. Yang ia rasakan teh itu tidak panas sama sekali. Kedua mata Weva bergerak-gerak memikirkan sesuatu hingga satu hal terlintas di pikirannya. Ini pasti ada hubungannya dengan Ken.
...****************...
Suara dentingan sendok terdengar saat aktifitas makan malam bersama sedang berlangsung di meja makan yang biasanya hanya dihuni oleh tiga orang saja dan malam ini tertambah dua anggota baru.
Rahang Ken terlihat bergerak dengan pasang wajah datar. Matanya bagai elang menatap ke arah Brilyan yang sedang dilayani oleh Laila. Laila meletakkan beberapa potongan daging ayam ke atas piring Brilyan.
Brilyan mendongak menatap sosok Laila yang masih tersenyum menatapnya. Rasanya ia kembali merasakan sosok almarhum ibunya yang selalu meletakkan lauk ke atas piringnya. Ditambah lagi sekarang ada sosok Weva yang berada di depannya membuat sosok Ibunya seakan-akan benar ada di tempat ini.
"Ayo, Brilyan makan yang banyak! Nanti kalau habis bilang sama Tante, nanti Tante tambahin."
"Iy-"
"Iya makan yang banyak biar nggak kurus kering," potong Ken membuat semua orang menoleh menatap Ken.
"Apa? Ini kenyataan, kok. Emang dia kurus," bela Ken santai lalu kembali menyuapi mulutnya.
__ADS_1
Tante Laila tersenyum kecil. Ia duduk di kursi lalu menyentuh pipi Ken yang begitu lembut.
"Ken mau ayam lagi?"
Ken tersenyum lalu menggeleng membuat Laila gemas dan mencium pipi Ken dengan gemas.
"Aduh, Keken anak kesayangan Bapak dan Mama."
Brilyan tersenyum kecil berusaha untuk menahan kesedihan pada hatinya. Hal yang ia lihat saat ini adalah hal yang paling ia rindukan dari sosok Ibunya yang telah lama meninggal itu.
Ditambah lagi pada saat pak Ahmad juga ikut mencubit gemas pipi Ken membuat Ken meringis lalu tertawa berusaha untuk menghindari cubitan itu. Brilyan tak menyangka jika sosok Ayah yang baik dan perhatian seperti apa yang ia impikan ternyata ada pada sosok pak Ahmad. Sosok guru yang kadang begitu tegas itu ternyata begitu lembut pada anaknya.
Di tempat yang sama hal yang juga nyaris Weva rasakan. Hubungannya pada Mommy Sasmita juga telah membaik sekarang tapi itu bukan berarti membuat kesibukan kedua orang tuanya berkurang. Mereka tetap saja jarang ada di rumah dan fokus kepada pekerjannya.
...****************...
Ken menyadarkan tubuhnya ke pagar. Ia menatap Brilyan yang masih menjelaskan beberapa rumus pada Weva yang terlihat mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
Ken mendengus kesal. Ia mengusap telinganya yang telah lelah mendengar penjelasan dari pria yang ia anggap itu kurus kering.
"Heh!"
Brilyan dan Weva menoleh menatap Ken yang masih memasang wajah kesalnya.
"Lo bisa diem nggak, sih? Dari tadi ngebahas matematika melulu."
"Tapi itu tadi rumus pythagoras."
Brilyan menghembuskan nafas berat. Ia memilih untuk diam sebelum pria ini kembali memarahinya.
Tak berselang lama sebuah mobil menepi tepat di hadapan Brilyan yang melangkah mundur. Pintu terbuka memperlihatkan sosok bodyguard pribadi Brilyan yang melangkah turun dan segera membuka pintu mobil untuk Brilyan membuat Ken tertawa sinis.
"Pantas aja kurus, pintu mobil aja dibukain," oceh Ken santai.
Ia masih berdiri menyadarkan tubuhnya di pagar.
"Heh! Apa kamu bilang?" Tunjuk bodyguard pribadi Brilyan ke arah Ken membuat Brilyan dengan cepat meraih pergelangan tangan pria kekar itu lalu menggeleng.
"Dia temen Brilyan."
Bodyguard pribadinya itu mengangguk. Ia menutup pintu setelah Brilyan masuk ke dalam mobil.
Mobil itu melaju meninggalkan Ken dan Weva yang masih berada di depan rumah. Memandangi mobil yang ditumpangi oleh Brilyan hingga mobil itu melaju pergi dan tak terlihat lagi.
Ken mendecakkan bibirnya memandangi Weva yang terlihat masih tersenyum menatap kepergian mobil Brilyan.
"Gila lo senyum-senyum sendiri."
__ADS_1
"Idih, emang kenapa?"
"Seneng lo, yah bisa deket kayak gini sama si kurus kering itu?"
"Ya iya lah seneng. Weva kan udah lama mau kayak gini tapi nggak kesampean dan sekarang keinginan Weva terwujud."
Ken mengangguk pelan. Ia tersenyum kecil karena tak mengerti pada dirinya sendiri. Ia tak seharusnya sedih seperti ini.
"Ken! Sekarang Bobo gimana?"
"Baik," jawabnya singkat.
"Mungkin sekarang Bobo nggak ngenalin Weva kali, ya."
"Mungkin," jawab Ken lagi dengan singkat.
Weva diam. Ia berdiri di pinggir jalan menanti pak Walio yang akan menjemputnya. Di satu sisi kini Ken nampak diam memandangi Weva.
"Weva gue mau ngomong ses-"
"Tuh, pak Walio udah dateng!" potong Weva.
Ia menggerakkan tangannya ke arah mobil yang langsung menepi.
"Ken! Weva pamit, ya."
Ken merapatkan bibirnya. Mengurungkan niatnya untuk bicara. Ia tersenyum pasrah lalu mengangguk.
"Lo nggak mau jalan-jalan sama gue?" tawar Ken.
Weva terdiam memandangi Ken yang terlihat tertunduk.
"Sorry, Ken tapi besok itu udah lombanya dan Weva harus-"
"Ya, udah. Hati-hati aja!" potong Ken saat Weva belum menyelesaikan ujarannya.
Weva mengangguk. Ia berbalik badan membelakangi Ken yang terlihat menunduk. Pintu mobil dibuka oleh pak Walio menyambutnya dan mempersilahkannya masuk. Weva menoleh menatap Ken yang masih menunduk.
"Ken!"
"Em?"
Weva menunduk. Ia mengusap jemari tangannya yang gerogi.
"Besok itu pertama kalinya Weva ikut lomba. Ken besok datang, ya liat Weva!"
Ken meneguk salivanya. Ia menghela nafas panjang lalu mengangguk membuat Weva kembali berpaling dan melangkah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Mobil melaju pergi meninggalkan Ken di siring jalan.
"Kalau ada Brilyan kenapa mesti ada Ken?" ujar Ken di tengah keheningan.