
Pak Walio hanya mengangguk dan tanpa basa-basi ia segera berlari masuk ke dalam mobil setelah melambaikan tangannya ke arah Ken.
Ken menghela nafas panjang. Senyumnya menghilang dari bibirnya ketika ia terdiam menatap kepergian mobil hitam yang pak Walio dan Wiwi tumpangi.
Ken tersenyum simpul dan melangkah ke arah motor vespanya. Ken sengaja tak pernah menukar motornya yang kadang mogok karena hanya motor inilah yang selalu membuatnya merasa dekat dengan sosok Weva. Si gadis gendut yang pernah menabrakkan motornya ke batang pohon besar pinggir jalan.
Kenangan itu tak akan pernah ia lupakan di dalam hidupnya.
Ken menghentikan langkahnya ketika ia telah tiba di samping motornya yang jok motornya terdapat puluhan bunga mawar dan beberapa bingkisan dari para penggemarnya.
Suara bisikan gadis-gadis terdengar ketika mereka menyaksikan idolanya sedang menatap seserahan yang mereka letakkan di atas jok motor.
Mereka semua saling berbisik dan tertawa berharap Ken suka dengan hal yang sudah setahun ini terjadi.
Ken hanya mendecapkan bibirnya kesal dan menyingkirkan puluhan seserahan itu dari jok motornya. Bunga-bunga mawar dan puluhan bingkisan itu terhempas ke tanah membuat para gadis-gadis itu terkejut dengan mata terbelalak.
Tak ada perubahan dari pria tampan itu.
Gadis-gadis lain sangat heran mengapa Ken sangat tak suka diperlakukan sangat spesial oleh para gadis-gadis, padahal sangat banyak pria yang menginginkan perlakukan ini. Pria mana yang tak suka jika disetiap pagi ada ribuan bingkisan di laci meja dan ketika pulang sekolah ada bingkisan lagi di atas jok motornya.
Semua orang akan bahagia dan tentu saja akan bersyukur, tetapi tidak bagi pria yang dulu terkenal periang dan suka membully kini menjelma menjadi pria dingin.
Ken mengenakan helm ke kepalanya dan menyalakan mesin motornya. Perlahan ia menatap para gadis-gadis yang kini berlari menghampirinya sembari memunguti bingkisan dan bunga yang tergeletak di tanah.
"Ken, ini, kok dibuang?"
"Iya, Ken, kok dibuang?"
"Iya, kita, kan ikhlas."
"Diambil, dong, Ken!"
Ken mendengus kesal setelah mendengar hal yang tak penting baginya.
"Heh! Lo tuh semua kenapa, sih?"
"Gue, kan udah sering bilang sama lo semua kalau gue nggak suka dikasi beginian, bisa ngerti nggak, sih?"
"Tapi kita ikhlas Ken."
"Iya Ken, kita ikhlas, kok ngasih ini semua."
"Iya, Ken."
Ken mengusap dahinya kesal dan membuang nafasnya kasar.
"Heh, lo kalau mau ngasih sesuatu terus lo ikhlas mending lo sumbang ke panti asuhan atau fakir miskin."
"Selain lo semua jadi orang yang berguna bagi mereka seenggaknya lo semua dapat pahala. Nggak usah ngasih gue sesuatu."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu Ken melajukan motornya dengan kencang menghasilkan asap hitam yang membumbum menyeruak membuat para gadis itu menjerit.
"Ken!!!" teriak mereka kesal.
Di atas motor Ken kini terdiam menatap tajam pada jalan raya yang terlihat ramai dipadati kendaraan. Selama Weva pergi rasanya tak ada yang membuat Ken tertarik lagi pada dunia. Dunia ini terasa kosong baginya.
Bagai malam yang tak berbulan dan bagai pagi tanpa matahari. Tak ada senyum ataupun tawa yang tercipta begitu lepas.
Rasanya hampa, benar ini memang sangat hampa.
...****************...
Wiwi melirik lalu dibuat menggeleng setelah melihat adegan yang kini selalu menjadi kebiasaan setiap harinya, yakni melihat Nenek Ratum menyuapi Walio yang dianggapnya sebagai malaikat. Entah bagaimana ingatan tentang penyelamat malaikat itu masih teringat di pikiran Nenek Ratum sampai sekarang.
"Ayo, makan malaikatku!" ujar Nenek Ratum lembut sembari mengelus rambut keriting Walio yang tersenyum penuh kegirangan.
Wiwi menghela nafas dan menoleh menatap foto pernikahan pak Walio dan mamanya setahun yang lalu.
Wiwi tak keberatan jika pria yang selalu mengantar jemputnya ke sekolah itu menjadi pengganti ayahnya yang telah lama meninggal dunia. Pernikahan Mamanya itu juga kemauan Nenek Ratum yang menginginkan malaikatnya selalu ada di sampingnya.
Nenek Ratum menganggap pak Walio sebagai malaikat sejak Nenek Ratum tahu kalau pak Walio lah yang membawanya ke rumah sakit.
Selama pak Walio yang tinggal di rumahnya kehidupan dia juga terasa berubah. Setiap hari ada saja dialog dan tingkah lucu yang diberikan oleh pak Walio membuat Mamanya selalu tersenyum. Wiwi senang dengan hal ini setidaknya ada sosok pria yang kini menjadi pelindung bagi keluarga mereka.
Satu hal lagi yang membuat Wiwi kadang geleng-geleng kepala, yakni Walio hanya mau dipanggil dengan sebutan Dedy oleh Wiwi.
Yah, Dedy dari tanah Papua dengan selera humor tinggi.
"Pak Walio!"
"Heeeem, Panggil Dady mu ini dengan sebuah Dady!" pintanya mengingatkan.
"Aduh, Dady itu gimana, sih? Nama sama muka itu harus disesuaikan," protesnya.
"Loh, disesuaikan bagaimana?"
"Yah, nama panggilan Dady itu cocoknya untuk yang bule."
"Loh, memang beta ini tidak mirip sama bule? Winyu ini tidak lihat muka beta ini kayak apa? Ganteng-ganteng begini," jelas pak Walio merapikan rambut kritingnya.
"Idih."
"Putih bersih seperti arang begitu."
Wiwi tertawa membuat Ina yang tengah mencuci piring itu juga ikut tertawa setelah mendengar candaan dari pak Walio.
"Loh kenapa ketawa? Memang betul begitu, bukan begitu Mama mertua?"
"Betul, seperti malaikat," jawab Nenek Ratum yang langsung merangkul bahu menantunya.
__ADS_1
Wiwi kembali tertawa. Setiap hari entah berapa ribu kata malaikat yang Nenek Ratum ujarkan untuk pak Walio.
Suasana kini terdiam. Wiwi berpikir sejenak dan kembali bicara.
"Dady."
"Iya Winyu, Wiwi unyu."
"Aku mau nanya?"
"Emm, tanya saja yang penting bukan matematika!"
Wiwi tersenyum dan kembali menatap pak Walio dengan tatapan serius.
"Em, Dady belum dapat kabar, yah mengenai Weva? Ini udah setahun, loh Dady tapi Weva nggak pulang-pulang juga dari Korea."
"Belum, Dady belum dapat kabar. Soalnya kita mau telfon nomor mereka sudah tidak aktif lagi."
Wiwi menghela nafas dan segera bangkit dari meja makan. Rasanya hampir setiap kali Wiwi bertanya selalu jawaban itu yang muncul dari bibir pak Walio.
Wiwi melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Wiwi menatap nanar wajah Weva yang terpampang disebuah foto yang terpampang di atas mejanya.
Wiwi tersenyum pedih dan meraih foto Weva bersamanya. Gadis gendut dengan gadis kurus yang menjadi sahabat yang sangat erat.
"Kenapa lo nggak pulang?"
"Gue rindu banget sama lo," ujarnya sembari menyentuh permukaan foto dengan penglihatannya yang sudah terhalang oleh genangan air mata.
"Lo itu kenapa, sih, Wev? Lo udah nggak sayang sama sahabat lo in sampai lo nggak ngasih kabar?"
"Udah setahun, loh Weva, lo pergi."
"Lo denger gue nggak? Se-setahun lo pergi tanpa ada kabar."
Wiwi mengusap pipinya yang telah basah karena air matanya yang telah menetes mengaliri pipinya.
"Lo sengaja, yah?"
"Lo itu kok jahat banget, sih, Wev?"
"Lo nggak pernah mikir kalau lo pergi ada yang sedih di sini? Hah?"
"Gue sedih, Wev."
"Gue sedih."
Wiwi membuang kasar udara dari bibirnya lalu menghempaskan tubuhnya ke permukaan kasur sembari memeluk foto Weva. Bisa-bisa ia gila setelah bicara sendiri dengan foto Weva.
Wiwi menghela nafas panjang dan memilih untuk menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"Sampai kapan pun gue bakalan tunggu kedatangan lo, Wev."
"Sampai kapan pun."