
"Hah?" kaget Weva.
Mendengar hal itu membuat Weva dengan cepat menoleh menatap ke sekitarnya dan ternyata benar ia masih ada di sekitar tempat ini. Baru saja Weva lari empat langkah namun, lelahnya bukan kepala.
"Cepetan lo lari! Gue tunggu di sini," suruh Ken lalu duduk di kursi panjang dan menyeruput es kelapa muda yang telah ia pesan.
Weva menatap, memasang dengan wajah penuh kasian. Weva meneguk salivanya. Rasanya ia juga sangat haus setelah pemanasan tadi.
"Ken!"
"Apa lagi?"
"Minta, dong Ken."
"Apa lo bilang?"
Weva cemberut. Ia tertunduk dengan bibirnya yang mengerucut.
"Weva juga mau itu!" Tunjuk Weva ke arah kelapa yang berada di tangan Ken.
"Ini?"
Weva mengangguk sambil tersenyum.
"Nggak!"
"Dikit aja."
"Gue cekik lo, yah!" ancam Ken membuat Weva mencapkan bibirnya dengan kesal.
Weva melirik sinis. Bibirnya terangkat menatap Ken yang kembali menyeruput air kelapa mudanya. Pelit sekali pria ini.
"Ngapain lo masih di sini? Cepetan lari!"
"Iya, iya. Dasar monyet pelit," umpatnya.
"Apa lo bilang?"
Mendengar hal itu membuat Weva dengan cepat berlari meninggalkan Ken yang masih bersantai di sana.
Kini Weva mulai berlari merasakan setiap tetes keringat yang mengalir dari dahinya membasahi leher dan sekujur tubuhnya yang terguncang ketika ia berlari.
Weva menghentikan larinya dan berusaha mengatur nafasnya yang sudah tertahan di dada, rasanya sangat sulit untuk bernafas untuk saat ini.
"Dasar monyet pelit. Emang dia aja apa yang haus? Gue juga kali."
"Emang, yah Ken itu calon penghuni neraka jahanam. Nggak punya rasa kasihan banget sama Weva."
"Liat sekarang! Weva yang capek-capek lari dan dia yang asik minum air kelapa. Emang gini, ya yang namanya usaha?"
"Usaha apaan yang kayak gini? Ini bukan olahraga buat langsing, tapi olahraga ples pembunuhan."
"Aaaah, capek tahu kayak gini terus."
__ADS_1
Weva mengusap dagunya yang basah itu dan tak lama ia mulai mengendus sesuatu yang begitu tak asing lagi di indra penciumannya.
Ocehanya berhasil dibuat terhenti oleh bau wangi itu. Rasanya ini aneh namun, Weva terpanggil untuk berlari dan mengejar bau wangi semerbak yang tiba-tiba saja melintas di depan hidungnya tanpa permisi.
Weva menghentikan langkahnya dengan cepat disusul kedua matanya yang membulat menatap sesuatu yang begitu mengejutkan dirinya.
Oh Tuhan. Apa ini jawaban dari penderitaan yang ia dapatkan dari Ken.
"Bakso!" jerit Weva begitu kegirangan dengan mata yang berbinar.
Weva berlari cepat menghampiri pria yang tengah melayani beberapa pembeli dengan bibir yang tak henti-hentinya tersenyum indah.
"Mas!"
"Mau pesan bakso, Neng?" tanya pria itu membuat Weva mengangguk.
"Berapa?"
"Weva pesan tiga mangkok, ya, Mas!"
"Tiga?"
"Iya, Mas."
Penjual bakso itu menoleh ke kiri dan kanan menatap Weva yang hanya berdiri sendiri.
"Yang duanya buat siapa?"
"Buat saya, Mas."
"Yah, sudah monggo duduk di kursi!"
...****************...
Ken menghela nafas setelah lelah menatap jam di tangannya, ini sudah lewat dari lima menit dan sampai sekarang Weva tak kunjung datang.
Ken bangkit dari tempat duduk dan beralih menatap ke arah jalanan berharap Weva muncul dari sana. Ken mengacak-acak rambutnya kesal dengan penantian yang sungguh tak jelas ini.
"Ini si gendut dimana, sih?"
Ken terdiam sejenak. Ia duduk dan kembali bangkit. Lelah dengan hal itu membuat Ken memutuskan untuk beranjak pergi menyusuri jalan yang kemungkinan Weva lewati.
"Awas ajah lo, yah gendut kalau lo malah duduk dan nggak lari."
"Ck, kalau emang dugaan gue bener, gue bakalan nginjek dan ninju perut lo sampai lemak perut lo hancur."
"Awas aja lo!"
Beberapa orang yang sedang asik berlari santai itu menoleh menatap Ken yang sedang asik bicara sendiri.
"Aeeeemmm, Ih enak banget." Senang Weva ketika kuah bakso telah membasahi tenggorokannya yang sedari tadi haus.
Weva memang sudah sangat rindu dengan makanan yang bernama bakso ini, yah walaupun bakso ini tak senikmat bakso yang mas Tono jual di warung favoritnya, tapi tetap saja Weva selalu terlena dengan makanan yang bernama bakso.
__ADS_1
"Mas tambah satu mangkok lagi, yah!" minta Weva mengajukan satu jari telunjuknya.
Ken menghentikan langkahnya ketika suara yang tak asing lagi terdengar di telinganya membuatnya menoleh menatap ke sekeliling berusaha untuk mencari sosok Weva.
"Dimana lo gendut? Gue kira kalau lo gendut gue bisa liat lo dengan cepat, tapi nggak juga ternyata," oceh Ken dengan tatapannya yang masih menatap ke sekeliling.
"Mas minumnya pakai es, yah!"
Suara Weva kembali terdengar membuat Ken menoleh menatap tubuh gendut yang tengah duduk di bangku panjang.
"Oh, ho ho ternyata lo di sini, hem? Mana makan bakso lagi. Awas lo, yah !" geram Ken sembari memukul-mukul tinju ke telapak tangannya.
Weva kembali menyeruput kuah bakso yang begitu nikmat dan sesekali tangannya meraih gelas dan meneguk air dingin yang begitu menyegarkan di tenggorokan Weva.
"Emmmm, ah enak banget huy," girang Weva lalu meletakkan gelas ke meja.
Ken melangkah mengendap-ngendap agar tidak ketahuan oleh Weva yang masih asik dengan makanannya.
Ken menggerutu kesal menatap tiga mangkok kotor yang berada di bangku panjang tepat di samping Weva yang masih tidak sadar jika ada Ken di belakangnya.
"Enak, yah?" tanya Ken yang kini duduk di samping Weva sambil menopang dagunya.
"Enak banget, dong," jawabnya yang masih tidak sadar.
Ken mengangguk sambil berusaha untuk menahan amarahnya.
"Em, ngomong-ngomong itu udah mangkok yang ke berapa, tuh kalau boleh tahu?"
"Empat."
"Empat?" kaget Ken.
"Iya, dong soalnya bakso ini itu enak banget, jadi Weva pesan banyak, deh."
"Oh, enak banget, ya? Sampai pesan segitu banyaknya, hah, Endut!!!"
Senyum Weva sirna dari bibirnya. Kunyahan bakso pada rongga mulutnya itu terhenti. Rasanya ada yang aneh di sini. Weva kenal dengan suara itu, itu suara Ken.
Weva meneguk salivanya dan segera menoleh menatap Ken yang telah berada di sampingnya.
"Ah Ken!!!" kaget Weva membuat sendok serta garpu berada di tangan Weva langsung terjatuh ke tanah.
Weva bangkit dari bangku duduknya dan mengigit bibir begitu ketakutan. Ah, mati lah engkau Weva. Sekarang sepertinya Ken akan benar-benar marah ditambah lagi ketika Ken melihat seisi bangku yang terdapat tiga mangkuk bakso yang memiliki porsi jumbo sesuai yang Weva pesan tadi.
Ken bangkit dari bangku membuat bibir Weva bergetar.
Tuhan, apa yang harus Weva lakukan sekarang? Weva dengan cepat berpaling berniat untuk lari. Ia melangkahkan kakinya, tapi Ken malah berteriak.
"Jangan lari lo!"
Weva menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan berusaha untuk menangkan dirinya lalu berbalik menatap Ken.
"Ehehehe, Ken."
__ADS_1
Weva tertawa sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya. Niatnya hanya untuk mencairkan suasana dan tidak membuat Ken marah, tapi wajah datar Ken membuat Weva lemas.