
Weva melangkah menuruni mobil hitam yang ia tumpangi setelah pintu di buka oleh pak walio, di susul Wiwi yang berada di belakang weva.
Kedua gadis dengan tubuh gendut dan langsing ini segera melangkah menuju koridor sekolah. Senyum weva begitu bahagia di kala ia teringat kepada senyum Brilyan yang di berikan kemarin.
Weva tertunduk menatap kotak makan berwarna hijau yang berada dalam pegangannya. Nasi goreng spesial untuk orang sepesial.
"Wev, hari ini Lo tetap kan gangguin si Ken ?".
"Tetap kok, yah tapi weva kayak takut gitu sama si Ken".
"Kenapa ?".
"Ya ampun wi, wiwi Masi nanya lagi sama weva ? Ken itu sorot matanya itu tajam kayak silet tau nggak !".
"Hah gimana mau gue tau, orang ken nggak pernah natap gue" ujar Wiwi kesal.
Keduanya tetap melangkah hingga keduanya berada di sekitar tangga di mana tangga tersebut merupakan jalur ke arah kelas Brilyan.
"Lo mau sekarang kasi bekal itu ke Brilyan ?".
"Iya" jawab weva semangat.
"Aduh gue lagi males deh naik tangga, Lo ajah deh yang naik".
"Yah udah deh, weva duluan yah".
Wiwi mengangguk dan menatap weva yang segera berpegangan di pegangan tangga besi dan melangkah kan kaki beratnya di anakan tangga.
"Hati-hati Lo wev !" Ujarnya lalu berlalu meninggalkan weva.
keringat bercucuran di dahi weva dengan sekuat tenaganya ia menaiki anakan tangga. Ini melelahkan tapi tak ada kata lelah jika berhubungan dengan Brilyan. Cinta itu memang bisa membuat orang menjadi gila.
Langkah weva terhenti tepat di hadapan ruangan kelas Brilyan yang nampak sunyi membuat weva canggung. Entah mengapa perasaan ini yang weva rasakan saat sesuatu hal yang berhubungan dengan Brilyan.
Weva memberanikan dirinya untuk segera mendorong pintu kelas hingga setengah terbuka membuat weva terhenyak oleh sesosok pria idaman weva yang tengah duduk sembari membaringkan kepalanya di atas permukaan meja. Dari sandarannya sepertinya pria itu sangat lelah.
Weva melangkah lebih dekat menghasilkan suara ketukan sepatunya yang berhasil membuat Brilyan mengangkat kepala dan menatap weva dengan mimik wajah sedikit terkejut.
Yang ada di benak Brilyan adalah bagaimana bisa ada makhluk sebesar ini di waktu sepagi ini.
"Selamat pagi" sapa weva agak gugup.
Lihatlah siapa yang bisa menahan rasa kegugupan di tatap oleh mata indah seorang Brilyan.
Ini yang weva lihat, pembaca bisa apa ?.
Brilyan menghembuskan nafas berat, melihat gadis ini membuatnya teringat dengan ujaran papanya semalam. Amarah itu sepertinya akan bertambah jika papanya kembali mendapatkan kabar jika gadis gendut ini kembali mendekatinya.
Brilyan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari menatap weva yang masih melangkah mendekati diri nya.
"Masi ingat sama weva kan ?" Tanya weva menunjuk ke arah wajah nya.
Brilyan hanya terdiam seraya tertunduk memaingkan ujung bukunya. Harus kah gadis ini ia ladeni ?.
"Udah lupa yah ? Ini weva, yang kemarin nolongin Brilyan waktu jatuh di hati weva".
Brilyan yang tertunduk itu dengan cepat mendongakkan kepalanya menatap kaget dengan apa yang gadis gendut itu katakan.
"Eh maksudnya tangga" weva tertawa setelah sengaja salah bicara.
Brilyan masih terdiam membuat weva berusaha tersenyum tegar dan segera melangkah lebih dekat.
"Brilyan !" Panggil weva yang sama sekali tak di respon oleh Brilyan.
Weva menggerutu kesal secara sembunyi-sembunyi di hadapan Brilyan. Sekarang entah apa yang merasuki otak Brilyan hingga kembali menjadi pria pendiam. Seingat weva, Brilyan kemarin sangat bersikap baik kepadanya Tapi, melihat tingkah Brilyan kali ini membuat weva sangat kesal.
"Brilyan !".
"Brilyan kok kayak gitu sih ? diam Mulu".
"Kemarin perasaan Brilyan nggak kayak gini, kemarin Brilyan bisa senyum sama weva tapi kenapa sekarang malah jadi ngediemin weva ?".
Brilyan memejamkan kedua matanya setelah ocehan gadis gendut ini yang terdengar. Tuhan ! Gadis gendut ini benar-benar mengganggunya, apakah gadis gendut ini tidak tau jika kemarin dia telah mendapatkan Omelan dari papanya karena gadis gendut ini yang telah mendekatinya.
"Weva bawa sesuatu lo !".
"Penasaran nggak ?".
Tak ada respon.
Weva memonyongkan bibirnya, oh tuhan suasana ini begitu sunyi bahkan kesunyian ini mengalahkan kuburan.
Oh Brilyan jika nanti di adakan lomba diam tingkat nasional silahkan ikut, weva yakin kamu menang.
"Ehem !".
Tak ada respon lagi, baiklah jika begitu cekik lehernya sekarang weva.
Hah, weva menghembuskan nafas berat, mendapatkan cinta seseorang memanglah sulit.
"Ini buat Brilyan !" Ujar weva sembari menjulurkan bekal pink yang berada di tangannya. Senyum weva masih terlihat jelas di sorot mata Brilyan.
"Ini nasi goreng dengan bumbu spesial untuk orang yang spesial".
"Menurut weva, Brilyan itu spesial bagi weva, seperti nasi goreng ini" tambah nya lagi.
__ADS_1
"Ini weva yang goreng sendiri Lo !".
Hah ! Brilyan menghembuskan nafas berat, rasanya telinganya terasa gatal mendengar ocehan gadis gendut yang masih berada di hadapannya sambil menjulurkan bekal pink itu.
Ting
Notif tanda pesan masuk terdengar dari handphone Brilyan membuatnya segera membuka pesan tersebut.
Kedua mata Brilyan terbelalak setelah apa yang baru saja ia temukan pada pesan singkat dari raful.
Asisten papa
Saya berada di sekitar tuan.
Brilyan mengangkat pandangannya menatap ke segala arah, apakah mungkin raful ada di sekitar nya tapi, di mana ?.
Weva yang melihat tingkah aneh Brilyan langsung ikut memantau di sekelilingnya.
"Brilyan cari siapa ? Weva itu di sini !" Ujar weva sembari menyentuh dadanya.
Ting
Pesan kembali masuk dengan suara notif ciri khas handphonenya membuat Brilyan kembali menggeser layar handphonenya.
asisten papa
Usir gadis gendut itu sekarang juga ! Sebelum saya mengadukan hal ini kepada tuan johan.
Brilyan mematikan handphonenya dan segera mengeluh kesal. Ia tidak mungkin mengusir gadis gendut ini sekarang juga, apalagi Brilyan sekarang memang tak pandai dalam hal berbicara kepada seseorang di dalam ruangan secara berduaan. Tapi jika ia tak melakukannya mungkin yang di katakan raful akan segera raful laksanakan dan membuat papanya memberi hukuman untuknya.
"Brilyan !".
"Kok diem sih Brilyan ?" Tanya weva yang sedari tadi sudah seperti orang bodoh yang tak di anggap kehadirannya oleh Brilyan.
"Brilyan !".
"Pergi !" Putus Brilyan membuat weva tercekat.
Apa yang calon suaminya itu katakan ?
"Apa ?" Tanya weva ragu.
Brilyan menggaruk pelan sebelah alisnya. Sepertinya selain gadis ini gendut rupanya dia juga tuli.
"Pergi !" Suruh Brilyan.
"Ta...ta...tapi kenapa ?" Tanya weva tak menyangka.
Suasana menjadi sunyi dengan tatapan penuh tanda tanya yang belum Brilyan jawab dari pertanyaan weva.
"Brilyan itu kenapa sih ?, Brilyan itu kayak orang aneh tau nggak ! Di saat weva nanya pasti nggak ngejawab, giliran weva diem tiba-tiba langsung ngomong" oceh weva.
"Weva itu suka sama Brilyan ! Brilyan kira weva bawa nasi goreng setiap pagi buat apa ? Ini itu semua buat Brilyan !".
"Biar Brilyan bisa suka sama weva !".
"Brilyan denger nggak sih apa yang weva bilang ?".
Brilyan memejamkan kedua matanya cukup keras dengan kedua tangannya mengepal serta gemetar. Gadis ini sepertinya harus di beri pelajaran.
"Brilyan !".
"Brilyan !" Panggil weva.
BRUAK
Suara hantaman keras dari tangan Brilyan di permukaan meja membuat weva tersentak kaget di susul Brilyan yang bangkit dari kursi tempat duduknya.
Weva menelan ludah dengan tatapannya yang mendongak menatap Brilyan takut.
Apakah ini Brilyan ?.
Suara bisikan gadis-gadis terdengar samar-samar dari bibir pintu Yap, mereka ikut melihat kejadian yang tak pernah mereka lihat. Pria tampan, cerdas dan super pendiam itu nampaknya sedang marah. Bicara saja Brilyan jarang apa lagi marah !.
Apakah ini nyata ?.
Weva masih mematung di tempatnya berdiri dengan raut wajah terkejut. Weva sama sekali tak pernah menyangka jika pria impiannya itu bisa marah dengan wajah sebenci ini.
"KA...KAMU BISA NGGAK DENGER AKU ?, KAMU PAHAM KATA-KATA NGGAK ?" Teriak Brilyan.
Weva mengerjapkan kedua matanya beberapa kali seakan memastikan jika pria yang berteriak di hadapannya bukan lah Brilyan.
"AKU MAU KAMU PERGI DAN TINGGALKAN AKU !".
Oh tuhan ! Dia benarlah Brilyan.
"Pergi !" Tunjuk Brilyan ke arah pintu dengan sorot matanya yang menatap ke arah weva.
Weva masih terdiam di tempat ia berdiri, merasakan rasa sakit yang menabrak dadanya sangat keras. Pria yang ia kagumi dengan kebaikan dari balik sorot matanya membuatnya membisu dengan tatapan bencinya.
Segerombolan siswa dan siswi yang sedari tadi hanya berjumlah sedikit itu kini berganti menjadi segerombolan siswa dan siswi yang berasal dari berbagai tingkatan kelas bahkan sedari tadi geng Sangmut sudah tertawa kecil melihat kejadian di mana weva di teriaki secara kasar oleh Brilyan.
"Pergi sekarang !" Pintah Brilyan lagi.
Brilyan menghembuskan nafas berat lalu membalikkan badannya ke belakang setelah melihat kedua sorot mata gadis gendut di hadapannya yang tengah memerah serta air yang menggantung di garis matanya.
Brilyan tak berniat untuk menyakitinya dengan teriakan tapi disaat ini Brilyan sangat tak mau jika dirinya kembali di hukum.
__ADS_1
Brilyan kembali menoleh menatap gadis gendut yang masih setia menatap penggung nya.
"KENAPA KAMU NGGAK PERGI ?" Teriak Brilyan membuat weva kembali tersentak.
"We...we...weva ma...mau kasi ini ke...ke Brilyan !" Ujar weva dengan terisak sembari menjulurkan bekal pink berisi nasi goreng buatannya.
"Karena ini ?" Tunjuk Brilyan membuat weva mengangguk.
Brilyan menggerutu kesal dan...
BRUAK
Semuanya terbelalak setelah melihat bekal pink terhempas ke lantai dan mengeluarkan seluruh isi bekal dengan kertas yang bertuliskan I Love you .
Weva menutup bibirnya kaget setelah kejadian yang tak pernah ia duga terjadi. Weva kembali menatap Brilyan yang nampak membelakanginya dengan punggung nya yang bergerak seakan sedang menahan amarah. Semarah itu kah Brilyan ke pada weva hingga harus melempar bekal pink miliknya ?.
"Kaget ?" Tanya Brilyan setelah beberapa detik berbalik badan.
"Kamu kaget ?".
Brilyan tersenyum sinis lalu melangkah lebih dekat.
"Pergi sekarang dan jauhi aku !" Pintah brilyan.
Weva tertunduk pedih sembari menarik lepaskan nafas beratnya, lalu kembali menatap Brilyan sembari tersenyum.
Tatapan tajam Brilyan berubah menatap senyum yang gadis gendut ini berikan. Sekuat itu kah mental gadis gendut ini ?.
"We...weva nggak nyangka Brilyan bakalan ngelempar bekal weva , we...weva nggak tau kenapa Brilyan sampai semarah itu dan..." Weva menghentakkan ujarannya, berusaha untuk tak terisak.
Weva menoleh menatap ke lantai dimana nasi sudah berhambur di sana. Weva kembali menatap Brilyan sembari tersenyum pedih.
"Da...dan ngelempar bekal weva, ke..kenapa Brilyan nge...".
"Karena aku benci sama kamu !" Potong Brilyan.
"Aku benci !" Ulang Brilyan dengan nada tertekan.
Weva mengigit bibir bawahnya pedih. Ini terasa sakit.
"Kamu sadar nggak sih ? Kamu nggak pantes untuk suka sama aku !".
"Nggak pantes ?" Ujar weva.
Brilyan tertawa bahkan terdengar begitu sinis.
"Kamu punya cermin nggak sih ? Hah ? Punya nggak ?".
Weva masih terdiam.
"Punya kan ?".
"Setelah ini kamu pulang dan beli cermin yang besar dan lihat baik-baik diri kamu !" Ujar Brilyan sembari melangkah mengitari weva.
"Kamu punya otak nggak sih dan ngeputusin buat ngejer-ngejer aku ?".
"Kamu itu gendut, jelek dan nggak pantes buat aku !".
"Di dalam diri kamu, mengharapkan sosok Brilyan itu seperti mimpi buat kamu, jangan kan bermimpi, berharap saja kamu nggak bisa !".
"Sadar diri dong kamu !".
Weva melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk mengeluarkan suara tangisannya yang sudah tak tertahangkan. Ia tak mungkin menangis dan membiarkan semuanya tertawa di sana.
"We...weva nggak tau kenapa weva suka sama Brilyan hah" weva kembali tertunduk dan meremas bibirnya yang telah mengeluarkan sedikit tangisan.
"Weva minta maaf karena udah suka sama Brilyan bahkan setelah Brilyan ngomong kayak gini sama weva, weva nggak bisa benci sama Brilyan".
"Weva udah terlanjur suka sama Brilyan dan weva nggak bisa kalau weva harus ngejauhin Brilyan !".
"WEVA !" Teriak Brilyan membuat weva dan yang lainnya terkejut.
Brilyan melangkah lebih dekat membuat weva menatap jelas wajah tampannya.
"Sampai kapan kamu akan mengejar sesuatu yang tak akan pernah bisa kamu miliki ?".
Weva menggeleng, tak tau.
"Jangan mengejar ku dengan segala kekurangan mu pergi dan sempurnah kan dirimu, jika kamu sudah sempurna maka aku yang akan mengejar mu !" Bisik Brilyan tepat di telinga weva lalu melangkah mundur.
"Janji ?" Tanya weva.
Brilyan mengkerutkan dahinya, apakah kalimat ini di anggap serius oleh gadis gendut ini.
Brilyan mengangguk menandakan ia berjanji dengan hal ini, lagian menurut Brilyan gadis gendut ini tak akan pernah sempurna.
"Kapan Brilyan bisa ngejer weva ?".
"Kalau kamu sudah sempurna !".
"Kalau weva sudah sempurna weva harap Brilyan tepati janji".
Weva melangkah membelakangi Brilyan dan menatap serius ke arah kerumunan yang telah antusias melihat kejadian langka ini.
"TAPI SEBELUM KAMU BERJUANG KAMU SEBAIKNYA SADAR DIRI !" Teriak Brilyan membuat weva terhenti dengan langkah nya.
__ADS_1
Semuanya nampak tertawa membuat weva terasa sakit dan beralih membelah kerumunan.