
"Sekarang sebelum lo lari yang harus lo perhatikan adalah pemanasan."
"Pemanasan?"
"Em," jawab Ken membuat Weva menghela nafas membuat Ken yang mendengar hal tersebut langsung melirik.
"Lah? Apaan, tuh maksudnya nafas panjang gitu?"
"Enggak."
Ken mendekati Weva sambil menopang pinggangnya.
"Heh, lo denger, ya! Pemanasan itu buat kebaikan lo juga. Pemanasan itu harus dalam sebuah latihan fisik, jadi nggak ada kata keseleo atau alasan buat sakit terus minta istirahat," terang Ken.
Weva hanya bisa mengangguk pasrah. Pria ini selalu benar saja jika bicara.
Ken berbalik badan membelakangi Weva yang terlihat cemberut.
"Cepetan lo ikutin gue!"
Gadis gendut itu mengernyit bingung.
"Ikut kemana? Ken mau pergi?"
Ken langsung menoleh memperlihatkan wajah datarnya menatap Weva yang dibuat diam. Sepertinya dia sudah salah bicara lagi.
Ken kembali berbalik badan dan segera memulai pemanasan ke seluruh bagian tubuhnya diikuti oleh Weva yang melakukannya cukup serius diiringi hitungan oleh Ken.
"Angkat kaki lo! Satu! Du-".
"Ah!" Lelah Weva dengan susah payah mengangkat kakinya.
Sesekali ia meringis kesal dengan dirinya sendiri ketika ia berulang kali terjatuh ke tanah dan tak mampu berdiri dengan satu kakinya mau pun mengimbangi berat badannya.
Rasanya ini sangat berat. Weva baru sadar kalau ia memang berat.
"Yang bener, dong lo!" tegur Ken yang sudah tak mampu menahan kekesalannya. Sudah sejak tadi ia ingin memarahi gadis gendut itu.
"Ini udah bener, Ken."
"Ngejawab lagi lo. Masa bener kayak gitu? Gue udah bilang, kan ikutin gue yang bener. Jangan ngasal, cepetan!"
"Ini udah bener, Ken, tapi emang Weva nggak bisa ngangkat kaki."
"Nyebelin banget, sih lo," kesal Ken lalu melangkah menghampiri Weva dan dengan tiba-tiba mengangkat sebelah kaki Weva membuat Weva terbelalak kaget.
"Nih tahan!" pinta Ken ketika berhasil membuat Weva berdiri di atas satu kaki sambil memegang satu kaki kirinya.
"Jangan jatuh! Awas lo!" ancamnya sambil menunjuk dan melangkah kembali ke tempatnya berdiri setelah mendaratkan satu pukulan ke betis Weva.
Bruk!!!
Tubuh Weva ambruk ke rerumputan ketika ia tak mampu mengimbangi tubuhnya yang hanya di topang dengan satu kaki itu.
Ken yang belum tiba di tempat yang ia tuju itu dengan cepat menoleh menatap Weva yang sudah terkapar di belakang sana. Seakan benar-benar tidak sanggup.
"Aduh," rintih Weva yang masih tengkurap di atas sana.
Wajah yang menunjukkan rasa kesakitan itu kini mendatar dengan mata membulat. Ia ingat pada seseorang, Ken!
Weva menoleh menatap Ken yang terlihat dari balik celah rambutnya yang nyaris menutupi sebagian wajahnya. Ken terlihat berdiri menatap ke arahnya sambil menopang pinggang.
__ADS_1
Weva menghalau rambut sebahunya itu dari wajahnya dan tersenyum kaku ke arah Ken yang memasang wajah datar.
"So-sorry Ken."
Weva meneguk salivanya. Ia kembali menutup wajahnya itu dengan rambut. Rasanya ia begitu takut jika ditatap seperti ini oleh Ken.
"Weva, Weva." Geleng Ken mengacak-acak rambut hitamnya dan melangkah menghampiri Weva yang nampak berusaha untuk menyembnyikan wajahnya dengan rambut.
"Lo itu gimana, sih?"
Weva menoleh dan mendongak menatap Ken.
"Gue kan udah bilang kalau lo itu nggak boleh jatuh!"
"Tapi We-weva nggak bisa."
"Nggak ada alasan, Wev! Sekarang gue nggak mau tahu, lo harus bangun dan mulai pemanasan lagi!"
Ken melangkah pergi meninggalkan Weva yang masih bertiarap di atas rerumputan membuat Weva hanya bisa menghela nafas kesal.
"Tapi Weva capek."
"Sekarang!!!" teriak Ken membuat Weva tersentak kaget.
"Siaaaap, Bos!!!" jerit Weva.
...******...
Piiiiiiiiiiip
Suara pluit yang begitu nyaring terdengar ketika dengan keras Ken meniupnya membuat Weva menutup kedua telinganya dengan cepat berusaha untuk melindungi gendang teliganya dari suara menyakitkan itu.
"Yah, kok gitu, sih?"
"Kenapa? Lo nggak suka?"
Weva mendecapkkan bibirnya. Sepertinya lagi dan lagi ia salah bicara.
"Heh, gendut! Lo denger, yah! Ini itu udah bagian dari olahraga dan lo harus serius dalam hal ini."
Weva hanya mengangguk.
"Sana cepetan lari! Dalam lima menit lo nggak ada di tempat ini, gue bakalan ngasih lo hukuman!" ancam Ken tanpa belas kasih.
Weva yang terkejut itu langsung mengangkat lima jari tangannya. Menatap jari tangannya itu dengan tatapan tak percaya.
"Lima?"
Ken mengangguk setelah Weva memperlihatkan lima jari tangan di depannya.
"Ya, iya lah."
"Kok cuman lima menit?"
"Terus lo mau berapa? Hah? Sejam? Gue pokoknya cuman ngasih lo waktu lima menit. Awas aja kalau lo sampai telat!"
Weva terdiam dan menoleh menatap jalan beraspal yang nampak begitu panjang. Apakah ini harus ia lakukan? Yah Weva tahu jika hal ini memang untuk kebaikannya sendiri, tapi tak juga harus menyiksa dirinya seperti ini.
Piiiiiiiiiiip
Suara Pluit kembali terdengar begitu nyaring membuat Weva menjerit dan menutup kedua telinganya.
__ADS_1
"Malah bengong lagi lo. Heh! Lo bengong bertahun-tahun, yah nggak bakalan buat lo jadi langsing."
"Siapa yang bengong, sih?"
"Ngejawab lagi lo. Sana cepetan lari!"
"Iya, iya sabar!"
"Cepetan!"
"Iya sabar, Keen!!!" teriak Weva.
Piiiiiiip
Weva yang kembali mendapati suara nyaring peluit itu dengan cepat berlari meninggalkan Ken yang tersenyum di belakang sana.
"Berani, ya lo teriak di depan gue!!!"
"Sorry!!!" teriak Weva yang masih berlari di sana.
"Inget waktu lo cuman lima menit!!!" teriak Ken.
Weva berlari kecil membuat lemak tubuhnya nampak bergerak-gerak sesuai dengan hempasan langkah kaki yang ia lakukan.
Weva yang merasa jika nafasnya mulai sesak dengan cepat menghentikan larinya dan beralih menopang kedua lututnya.
"Hah hah hah aduh, We-eva capek banget, deh. Sumpah, aduh," lelah Weva dengan cucuran keringan di tubuhnya yang sudah membasahi bajunya.
"Ini masih jauh nggak, sih?"
"Weva udah capek banget lagi."
"Kayaknya ini udah jauh, deh. Weva kayaknya mau istirahat ahh capek banget."
"Istirahat dikit nggak apa-apa kali, yah? Lagian si monyet itu pasti nggak bakalan liat Weva di sini."
Tak
Weva meringis ketika sesuatu terasa menghantam punggungnya membuat Weva menoleh.
"Kenapa lo berhenti?" tanya Ken yang berada tak jauh dari Weva.
"Loh, Ken?"
Tunjuk Weva tak menyangka. Bagaimana bisa ada Ken di sini, bukanya ia sudah berlari tadi?
"Apa lagi?"
Ken melirik menatap jari telunjuk Weva yang masih tertuju ke arahnya.
"Berani, ya lo nunjuk gue."
"So-sorry," jawab Weva yang langsung mengigit ujung jari telunjuknya.
"Lagian lo ngapain diem di sini, sih?"
"Weva capek."
"Gila, yah lo? Heh, lo baru aja lari empat langkah! Lo denger nggak? Em-pat la-ng-kah!!!"
"Hah?" kaget Weva.
__ADS_1