
Weva melangkah sendiri melewati koridor yang masih sunyi, yah, pagi ini ia sengaja meninggalkan Wiwi yang tak kunjung bangun dari tempat tidurnya. Ini bukan pertama kalinya bagi weva meninggalkan sahabatnya itu berangkat sekolah, toh, Pak Walio juga dengan senang hati menanti dan menjemput Wiwi di rumahnya.
Mungkin juga Wiwi terlalu lelah kemarin setelah lari-larian hingga tak kunjung bangun dari tempat tidurnya.
Weva mendecakkan bibirnya dengan kesal. Harapannya untuk langsing sepertinya selalu harus tertunda. Pria pembully itu selalu saja mengacaukan semuanya. Harus bagaimana lagi? Ken itu seperti hantu yang datang kapan saja dan dimana saja.
Apa dunia ini terlalu sempit sehingga Weva harus bertemu dengan Ken yang tak punya hati dan perasaan itu.
Weva mendongak lelah. Sepertinya Tuhan mengujinya dengan kehadiran Ken. Ah, Tuhan, Weva sangat benci dengan Ken.
Bruak!!!
Tubuh gendut Weva tersandar di dinding ketika seseorang mendorongnya cukup keras membuat weva terbelalak kaget.
Tubuhnya terhempas ke belakang membuatnya seketika tak mampu untuk bernafas.
"Bara?" Tatap Weva tak menyangka.
Bara bernafas sesak dengan bibir hitamnya yang menganga, tak ada bedanya dengan bagian bawah mata Bara yang gelap persis seperti mata panda. Wajah Bara pun nampak pucat serta sorot matanya yang terlihat sayup.
Bara terlihat aneh pagi ini dan sejujurnya Bara terlihat tidak seperti Bara yang Weva sering lihat, Bara sangat berbeda.
"Bar-"
"Wev!" potong Bara.
Webs terdiam dengan wajahnya yang menatap Bara tidak mengerti. Bara tertunduk, memejamkan kedua matanya dengan erat dengan bibirnya yang terbuka seakan sedang mencari pasokan udara.
"Gue-gue-"
"Kenapa Bara?"
Bara menoleh menatap ke sekelilingnya seakan sedang memantau situasi.
"Gu-e butuh uang," ujarnya dengan terbata-bata.
"Kenapa, sih, Ra?" tanya Weva yang benar-benar ketakutan.
Bara sangat menakutkan jika seperti ini. Apalagi baru kali ini Bara datang sepagi ini, biasanya Bara selalu datang siang atau bisa dikatakan hampir setiap hari Bara datang terlambat.
Bara menunduk berusaha mengendalikan dirinya yang kini seakan tersiksa dengan tubuh dan pikirannya sendiri membuat Weva semakin kebingungan.
"Ra?" panggil Weva lantas membuat Bara kembali menatap Weva dengan rasa haus dan menarik air liurnya sendiri.
__ADS_1
Weva menelan ludah. Ia begitu sangat takut sekarang.
"Weva! Gue butuh uang!" bisiknya pelan.
"Uang?"
"Gue butuh uang!!!" bentak Bara membuat Weva tersentak kaget.
"Gue butuh uang, Wev!"
"Tapi Bara-"
"Kasi gue uang sekarang!!! Gue butuh uang!!!" Paksa Bara dengan tangan gemetarnya yang siap menampung uang di hadapan Weva yang ikut gemetar karena takut.
Di dunia ini memang telah banyak yang menggertaknya, tapi tak ada satu pun yang berhasil membuat Weva sampai gemetar dan ketakutan seperti ini.
"Gue butuh uang, Wev!!!" bentak Bara lagi membuat Weva spontan memejamkan kedua matanya.
"Gue udah bilang, kan sama-sa-sama lo, kalau gue itu butuh uang! Gue butuh uang, Wev!"
"Tapi buat apa, Bara? Buat apa Bara minta uang sama Weva?"
"Lo nggak usah tahu! Sekarang lo kasi uang ke gue dan jangan banyak tanya!!!" desak Bara dengan bentakan di akhir kalimatnya.
"Berisik!!!" teriak Bara lalu memukul permukaan dinding tepat di samping telinga Weva membuat dengan cepat menutup wajahnya.
Weva takut jika Bara sampai memukulnya.
"Gue minta uang, Wev! Lo ada uang, kan?"
Weva mengangguk cepat.
"Okay, gue minta uang sama lo, sekarang!"
Weva kembali mengangguk lalu dengan penuh keherangannya ia merabah saku baju dan mengeluarkan beberapa lembaran uang membuat senyum sinis Bara tersirat.
Bara yang merasa haus dan kelaparan itu segera merampas uang yang berada di tangan Weva dan berlari entah kemana meninggalkan Weva yang kini terdiam dengan wajah bingung.
Aneh sekali sepupu Weva itu. Dia seperti anak kecil yang setelah diberikan uang maka dia akan pergi, ya persis seperti yang terjadi sekarang.
Weva kembali melangkah sambil sesekali ia menatap ke arah belakang berusaha memastikan, jika Bara tidak kembali datang menghampirinya.
Weva tak tahu dengan apa yang sepupunya itu pikirkan hingga meminta uang kepadanya. Tapi yang membuat Weva bingung adalah mengapa Bara berprilaku seperti itu, ini tak pernah Weva lihat dari orang seperti Bara.
__ADS_1
Weva berusaha melupakan semuanya dan lebih memilih melangkah ke arah kelas Brilyan yang sepertinya masih sunyi.
Ah, datang ke kelas Brilyan itu selalu membuat Weva menjadi semangat lagi. Betul saja sesampainya di kelas Brilyan, Weva langsung tersenyum dan mampu merasakan rasa sunyi.
Weva memejamkan kedua matanya lalu menghirup udara segar yang is rasakan mampu mengisi rongga paru-parunya.
Kelas ini bahkan terasa indah dari pada yang lainnnya.
Weva berbalik berusaha memastian tak ada orang yang melihatnya dan setelah merasa aman ia segera meletakkan bekal biru berisi nasi goreng spesial untuk Brilyan di laci meja dan berdiri sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Brilyan!"
"Weva bawa nasi goreng. Jangan lupa dimakan, ya! Weva sayang Brilyan."
Weva tersenyum sejenak hingga senyumnya lenyap ketika ia melirik seekor cicak yang menempel di dinding baru saja telah berbunyi.
Weva tersenyum sinis, ah apakah suara seekor cicak yang berbunyi itu tanda ia tertawa? Menertawai Weva?
Sepertinya seekor cicak saja sudah lelah melihat apa yang selalu Weva lakukan setiap pagi.
"Cicak, cicak nggak usah ketawa! Nanti Weva juga bisa, kok meluluhkan hati Brilyan."
Weva mendengus kesal. Bukan hanya gendut, dia bahkan sudah gila karena telah bicara dengan seekor cicak.
Weva menepuk pelan kotak bekal biru itu lalu tak berlama-lama ia segera melangkah keluar namun, langkah Weva tertahan dan malah duduk di bibir kelas sambil memeluk lututnya yang di lipat. Di sini Weva hanya ingin menanti Brilyan, itu saja.
Weva hanya ingin mendengar Brilyan berbicara lebih dari tiga kata kepadanya seperti dua hari yang lalu.
Kepala Weva menoleh ketika mendengar suara kendaran bermotor yang sepertinya bergerak masuk ke dalam area Cendrawasih Internasional Shcool dan berhenti di bagian belakang.
Weva berfikir sejenak mengenai asal suara kendaraan itu. Siapa yang datang sepagi ini dan dengan beraninya membawa kendaraanya masuk ke dalam sekolah yang penuh dengan tata tertib itu.
Weva bangkit dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke dalam kelas Brilyan untuk mengintip di balik jendela yang membuatnya penasaran.
Mata Weva terbelalak menatap Bara yang menerima sesuatu benda berwarna putih yang di bungkus rapi dalam sebuah plastik dari tangan salah satu pria berpenampilan seperti preman pasar.
Di sini Weva mampu melihat jelas jika Bara memberikan uang yang ia beri tadi untuk pria itu. Kejadian ini nampaknya begitu rahasia dan cepat hingga Weva hanya mampu melihat kejadian penukaran ini selama kurang lebih 10 detik.
Motor itu berlalu meninggalkan Bara yang kini terdiam di tempat berdirinya membelakangi Weva hingga Weva tak mampu mengetahui mengenai apa yang Bara lakukan dengan barang putih itu.
Weva melangkah mundur dan segera berpaling mendapati seorang pria yang tengah berdiri menatapnya. Entah sejak kapan pria itu ada di sana, tapi Weva benar-benar terkejut.
Ah, keberuntungan kembali memihak Weva. Tuhan, Weva sangat senang sekali pagi ini.
__ADS_1
"Bri-brilyan," Suara kecil Weva menanggapi pria tampan di depannya itu.