
Weva kini mengeluarkan kotak bekal berwarna pink yang berisi sebuah nasi goreng yang telah ia buat sendiri waktu subuh tadi.
Weva tersenyum malu karena sebenarnya ini khusus untuk sosok pria yang sangat ia cintai. Siapa lagi jika bukan Brilyan, pria yang sejak dulu ia kejar-kejar bahkan sampai sekarang.
Setiap hari Weva selalu membawakan bekal nasi goreng yang di bagian penutup bekal itu ada sebuah kertas yang bertuliskan love you.
Apa ini romantis? Ini lumayan konyol bahkan Wiwi ingin muntah saat ia pertama kali mengetahui itu, tapi apa boleh buat Weva benar-benar suka dengan Brilyan, si otak cerdas itu.
Di sekolah ini bukan hanya Weva yang tergila-gila dengan Brilyan, ada banyak bahkan kakak kelas pun naksir dengan Brilyan.
Ah si Weva, sudah tahu banyak saingan masih saja berharap.
"Wev!" panggil Wiwi sembari menopang dagunya di atas meja.
Weva melirik menatap Wiwi, mungkin dari ribuan siswi di sini hanya Wiwi yang tak tergila-gila dengan Brilyan. Mata Wiwi sepertinya rusak parah sehingga ia tak tergila-gila dengan Brilyan.
Mencintai Brilyan adalah tanda jika mata dan pikiran kita sehat, yah sehat membedakan pria tampan sekaligus cerdas.
"Lo beneran mau bawa bekal ini langsung ke Brilyan?"
"Iya," jawab Weva semangat bahkan semangat ia ini kalau ikut lomba bisa menang.
Tanpa sepatah kata lagi Weva bangkit dari kursinya lalu segera melangkah ke luar dari ruangan kelas membuat Wiwi mendecakkan bibirnya kesal.
Gadis gendut itu selalu saja meninggalkannya jika seperti ini.
"Weva tungguin gue!!!" teriak Wiwi lalu segera berlari mengikuti kepergian Weva.
Ruangan kelas Brilyan ada di lantai tiga. Yah, lumayan jauh dan penuh penyiksaan, itu menurut Weva yang memiliki tubuh gendut. Melangkah saja susah apa lagi jika harus naik tangga tapi Weva yakin jika sebuah usaha pasti memiliki sebuah hasil, Weva percaya itu.
"Weva!!!" teriak Wiwi yang kini menatap Weva yang terus saja melangkah.
"Ah, goblok. Selain gendut, pikun juga dia," kesal Wiwi seorang diri lalu berlari menghampiri Weva.
"Eh, Wiwi juga mau ikut?" tanya Weva ketika Wiwi sudah melangkah santai di sebelahnya.
"Iya."
"Boleh, tapi jangan masuk soalnya nanti Wiwi bisa jatuh cinta sama Brilyan. Terus kalau udah jatuh cinta persahabatan kita bisa retak gara-gara Weva marah. Soalnya Weva itu nggak-"
Wajah Wiwi datar menatap bibir kecil dan mungil Weva yang terus bicara tanpa henti.
"Aaaaaa!!!" teriak Wiwi sambil mengusap dan menarik daun telinganya serta berlanjut rambutnya.
__ADS_1
Wiwi benar-benar tak kuasa jika harus mendengar suara Weva yang selalu membahas tentang Brilyan.
"Wiwi gila?"
Pertanyaan itu membuat kedua mata Wiwi membulat. Ia mengerakkan kepalanya menatap Weva.
"Ah, apa lo bilang? Gue gila?"
Wiwi menunjuk ke arah wajahnya membuat Weva mengangguk dengan polosnya.
"Gue gila?" Tunjuk Wiwi yang semakin mendekatkan jari telunjuknya itu ke arah wajahnya bahkan nyaris menusuk matanya.
"Iya, Wiwi. Wiwi gila," jawab Weva.
"Heh, emang gue gila dan ini semua gara-gara gue stres dengerin omongan lo yang semuanya cuman ngebahas tentang Brilyan."
"Asal lo tahu, cowok yang lo suka itu bahkan gue kira dia bisu gara-gara nggak pernah gue denger ngomong selama tiga tahun waktu SMP."
"Dia nggak pernah ngomong di luar kelas, itu yang lo suka?"
Weva mengangguk semangat.
"Lo suka sama cowok bisu?" tanya Wiwi dengan kedua matanya yang melotot nyaris keluar dari tempatnya.
"Terus apa? Bibirnya beku sampai nggak pernah ngomong? Dikasih makan apa, sih sama orang tuanya sampai dingin gitu?"
"Asal lo tau nih, yah. Dia itu ibarat kulkas berjalan-"
"Hah," kaget Weva yang kini melirik jarum jam di tangannya yang kini menunjukkan pukul 09:58 sisa 1 menit lagi kesempatan untuk selamat dari bencana besar yang akan menghampirinya jika ia terlambat.
Dengan cepat Weva berlari tetap dengan kotak bekal yang berada di genggamannya. Lemak tubuhnya itu kini nampak bergetar ketika langkah lari selambat siput itu bergerak.
Wiwi memijat dahinya yang terasa sakit itu sambil memejamkan kedua matanya dengan erat.
"Weva, ini kedua kalinya lo ninggalin gue!!!" teriak Wiwi.
Semua orang terbelalak ketika melihat Weva berlari dari kejauhan. Ini sebuah bencana besar. Beberapa orang kini tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat Weva yang berlari, ini seperti hiburan gratis bagi mereka.
Bagamana bisa mereka tidak tertawa dan menganggap lipatan lemak berlipat di perut Weva itu tidak lucu. Terhempas-hempas seperti per.
"Yah yah yah!!!" sorak salah satu siswa pria yang dilintasi oleh Weva.
"Yah, lihatlah seekor gajah berlari melewati beberapa jejeran pintu-pintu kelas dan wow lihat lemaknya yang bergetar itu!!! Sungguh mempesona!!!" teriak seorang pria dengan cara bicara yang dimiripkan reporter bola.
__ADS_1
"Awas lemaknya jatuh!"
"Gempa!!! Woy gempa!!!"
"Oh, tidak gempa!!!" teriaknya sambil berpura-pura melangkah dan mengoyang-goyangkan tubuhnya seakan lantai bergerak.
"Cepat berlindung!!!" tambah yang satu lagi.
Suara tawa terdengar, Weva mampu mendengar hal itu tapi, ini bukan waktunya untuk berhenti. Kini ada bencana besar yang menantinya di anakan tangga yang merupakan salah satu jalur untuk naik ke lantai atas jika ia terlambat sedetik saja.
Sebenarnya ada jalan lain yakni tangga di sebelah kanan bangunan sekolah tapi penjaganya jauh lebih menyeramkan.
"Weva tungguin gue!!!" teriak Wiwi yang ikut berlari mengejar kepergian Weva.
"Eh, Wi! Ngapain lo lari? Nanti lo tambah kurus? Mau lo kayak tusuk sate, kurus kering gitu?"
Wiwi menghentikan langkahnya menatap pria yang kini tertawa dengan beberapa teman-temannya.
Wiwi menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut pria itu dengan sudut bibirnya yang terangkat.
"Ngaca lo! Kalau lo udah ganteng kayak Jungkook baru lo boleh ngehina. Muka kayak sendal jepit aja banyak cingcong."
Pria itu melongo, sadis sekali ujaran gadis kurus ini.
"Weva!!!"
"Woy nyet!!! Tungguin gue!!!" teriak Wiwi yang kembali mengejar kepergian Weva.
Langkah Weva terhenti dengan nafas yang ngos-ngosan tepat di depan anakan tangga dengan cucuran keringat yang membasahi dahinya.
Senyum Weva membias indah, tak ada geng berandal yang selalu menghinanya di anakan tangga itu. Yah walau sebenarnya geng yang membullynya itu baru berlangsung seminggu yang lalu namun, Weva sangat tak kuat menghadapi berandal sialan itu.
Biasanya geng berandal yang selalu nongkrong di anakan tangga ini dan selalu mengganggu setiap siswi yang lewat termasuk juga Weva.
Yah, mulut siapa yang tak tertarik untuk membully tubuh gendut Weva yang tak berdosa ini, bahkan adik kelas pun sudah sering membully Weva secara terang-terangan, ini musibah bagi Weva, rasanya jiwa kehormatan sebagai kakak kelasnya itu sudah lenyap.
"Ngapain, sih pake lari-lari segala?" tanya Wiwi kesal yang kini berdiri di samping Weva .
"Nggak ada mereka, Wi!" Tatap Weva bahagia.
"Siapa?"
__ADS_1