
Ganggu Tahap 4
Weva berlari kecil mengikuti langkah Ken yang terus melangkah entah kemana. Weva sama sekali tak pernah mengurungkan niatnya untuk berhenti mengikuti dan menggangu Ken walau Ken sedari tadi menyuruhnya nya untuk berhenti mengikuti nya.
Langkah Ken terhenti membuat weva dengan cepat menghentikan Langkahnya.
"Kok berhenti ? Udah berubah pikiran ? Ken mau bantuin weva ?" Tanya weva begitu semangat.
"Nggak ! Lagian Lo mau ngikutin gue sampai ke dalam toilet juga ?" Tanya Ken.
Weva melongo tak mengerti membuatnya kini menatap ke sekitarnya dan benar saja weva berada di tengah-tengah ruangan toilet yang nampak begitu ramai. Banyak pria di sana yang tengah berdiri dan sedang membuang air kecil.
"AAAAAAA !" Jerit weva lalu menutup kedua matanya bahkan weva tak sengaja melihat senjata pria itu yang berdiri di sampingnya.
Semua orang yang mendengar jeritan weva dengan cepat melindungi auratnya yang masih mengeluarkan urine itu. Mereka semua baru sadar jika ada gadis gendut di dalam toilet khusus pria.
Weva menutup kedua matanya lalu berlari keluar dari toilet dengan perasaan malu, Ken benar-benar bodoh dengan membawanya masuk ke dalam toilet pria dan hah ! Rasanya bentuk senjata pria itu terbayang di otak weva.
Weva menyandarkan tubuhnya ke dinding yang tak jauh dari pintu toilet khusus pria dengan kedua pipinya yang memerah.
"Tarik nafas wev ! Tarik nafas !" Ujarnya sembari melakukan apa yang ia katakan.
Wajah weva begitu panik dan menyentuh kedua pipinya yang terasa panas.
"Tadi gue liat apa ?" Ujar weva dengan kedua matanya yang membulat.
Ken melipat bibir nya kedalam berusaha menahan tawanya lalu Ken hilang kendali membuat nya tertawa terpingkal-pingkal.
"Ken !" Panggil seseorang membuat Ken menoleh menatap rendah pada dua sosok yang tengah menatapnya. Tak ada senyuman dari bibir Ken.
Roy dan Kevin, pria yang kabur saat Ken dalam masalah.
"Masi berani juga Lo nunjukin muka Lo di depan gue ?" Tanya Ken.
Kedua sahabatnya itu nampak tertunduk, mereka akui jika yang mereka lakukan sangat tak patut untuk di katakan seorang sahabat.
"Gue minta maaf !" Ujar Roy di susul kevin yang mengangguk.
__ADS_1
Ken tersenyum sinis.
"Gue nggak niat mau ninggalin Lo Ken di sana tapi gue..".
"Gue apa ?" Potong Ken.
"Kemarin Lo berdua sama yang lain itu kayak orang asing yang nganggap gue itu bukan sahabat".
"Lo bahkan ninggalin gue di saat gue butuh banget bantuan Lo".
"Apa itu yang di katakan sahabat ?".
"Lo nggak layak di katakan sahabat tau nggak !".
"Kemarin gue cuman butuh penjelasan atau pembelaan buat gue di hadapan polisi tapi apa ? Lo berdua dan yang lain malah ninggalin gue !".
Roy melangkah maju mendekati Ken dengan wajah penyesalannya.
"Gue minta maaf dan masalah gue nggak ngakuin Lo sebagai sahabat di depan polisi yah karena gue takut, gue takut kalau sampai polisi nge-tes gue make narkoba apa nggak dan hasilnya positif".
"Gue udah pernah make narkoba dan gue baru berhenti dua Minggu yang lalu setelah gue kenal sama Lo !" Jelas Roy.
Ken menggangguk paham membuat Roy dan Kevin tersenyum.
"Gue maafin kok, tapi gue nggak mau lagi sahabatan sama Lo dan yang lain" ujar Ken lalu berpaling.
Senyum kevin dan Roy sirna.
"Dan satu lagi" Ken menoleh menatap kedua sahabatnya itu.
"Gue berhenti jadi ketua geng berandal dan kalau ada tauran Lo urus ajah sendiri !" Ujar Ken lalu kembali berpaling dan melangkah.
"KEN ! LO NGGAK BISA KAYAK GITU DONG !" Teriak Roy.
"LO KENAPA JADI BAPERAN GINI SIH ?" Teriak Kevin namun tak membuat langkah Ken terhenti.
"BOCAH LO KEN !" Teriaknya lagi.
__ADS_1
Langkah Ken langsung terhenti setelah mendengar teriakan Kevin dari belakang sana. Rahang Ken bergetar menahan amarah yang tersirat di sorot matanya.
Weva hanya mampu jongkok di samping pintu toilet menunggu Ken keluar dari toilet. Entah apa yang Ken lakukan di dalam sana hingga memakan waktu selama itu.
Weva menopang dagu bosan sambil sesekali melirik jam tangannya. Entah kegiatan apa yang akan weva lakukan kali ini, menghapal perkalian dua sampai sepuluh sudah, menghapal kembali rumis-rumus sudah bahkan tanpa sadar weva menyayikan lagu nama-nama personil BTS hah! Sepertinya ia sudah tertular oleh nenek Ratum.
"Ah sunyi sekali !" Kesal weva.
BRUAK
Suara keras beriringan dengan hempasan pintu dan Roy yang berada di atas pintu yang terhempas ke lantai itu membuat weva terkejut dan segera berlari menghampiri Roy yang mulutnya nampak berdarah.
"roy !" Ujar weva lalu berlutut di samping Roy yang nampak meringis kesakitan.
"Roy liat Ken nggak ?" tanya weva tanpa dosa bahkan tanpa ia sadari jika Ken lah yang telah membuat Roy jadi begini.
Roy yang tadi ingin menangis karena rasa sakit yang ia rasakan kini ia hanya mampu melongo setelah mendengar pertanyaan weva.
Pertanyaan gadis ini sangat harus di apresiasi dengan pukulan. Apakah matanya buta hingga tak mampu melihat mulut Roy mengeluarkan darah.
Plak
Pukulan keras terdengar dari dalam toilet membuat weva menoleh lalu menatap Ken yang nampak berada di atas Kevin dan menghajarnya cukup keras hingga wajah Kevin nampak babak belur di bawah sana.
Tak lama para siswa dan siswi berkumpul untuk melihat kejadian di mana perkelahian antara sahabat ini berlangsung. Perkelahian yang begitu panas.
Ken bangkit dari atas tubuh Kevin yang sudah tergulai lemas di bawah sana. Tatapan Ken kini menatap ke segala arah dimana semua orang tengah menatapnya begitu serius.
"NGAPAIN LO SEMUA NGELIATIN GUE ? BUBAR LO ! " Teriak Ken penuh amarah.
Semua kerumunan itu kini berhambur menyisahkan satu makhluk gendut yang nampak bertepuk tangan dengan kegirangan di sana.
"Hebat !" Ujar weva sembari mengangkat jempolnya.
Ken melongo, gadis ini tidak waras.
__ADS_1