Princess Endut

Princess Endut
16. Menyerah?


__ADS_3

"Ayo lihat Weva, Brilyan!"


Weva terdiam dan kembali menghembuskan nafas berat. Hanya suasana sunyi yang bisa dinikmati oleh Weva. Suara tawa kecil terdengar membuat Weva menoleh menatap para siswa dan siswi yang nampak saling berbisik dan menertawainya.


"Simpan di situ!"


Suara Brilyan terdengar membuat Weva dengan cepat menoleh menatap Brilyan yang baru saja bicara tanpa pernah menoleh menatap Weva sedikit pun, bahkan menatap tempat untuk menyimpan bekal pink itu pun tak ditatapnya walau hanya dengan sebuah lirikan pun tidak.  


Weva melongo dengan tatapannya yang begitu miris menatap sikap tak peduli dari Brilyan. Pria tampannya yang super cuek dan irit bicara itu memang tak pernah berubah sampai sekarang. Brilyan tetap saja tak pernah menatapnya sedikit pun walau sudah ribuan kali Weva membawakannya bekal dengan berbagai macam jenis makanan.


Weva sedikit tersenyum, yah, walaupun Brilyan tak menoleh menatapnya tapi setidaknya Brilyan sudah merespon ucapannya Walau hanya tiga kata.


Hanya tiga kata! Sekali lagi hanya dengan tiga dan ini nyata.


"Dimana?" tanya Weva sembari tersenyum simpul.


Sebenarnya Weva sudah mendengar ucapan Brilyan tadi, tapi rasanya Weva mengharapkan lebih dari itu. Weva ingin ditatap walau hanya sebentar saja. Weva ingin Brilyan menoleh menatapnya. Ia bahkan tak pernah bertatapan mata dengan kedua mata Brilyan selama bertahun-tahun ia berusaha mengejar Brilyan.


Brilyan tak merespon, melainkan ia malah membalik lembaran kertas yang perlahan sisi kanannya menipis.


Weva mengeluh lelah. Tak apa Wev, coba sekali lagi mungkin saja Brilyan berubah. Yap, mungkin saja walaupun itu tidaklah mudah. Sikap cuek dan irit bicaranya itu sudah terkenal satu sekolah dan telah mendarah daging.


"Dimana?" tanya Weva lagi sambil mengusap rambutnya memperlihatkan gelang warna-warni yang ada di pergelangan tangannya.


Tetap saja Brilyan tak menjawab membuat Weva cemberut. Sepertinya hati dan telinga Brilyan sudah membeku, yah, membeku seperti hatinya.


Weva pasrah. kali ini membuatnya meletakkan bekal pink kepermukaan meja yang telah ditumpuki oleh ribuan seserahan oleh fans-fans Brilyan.


Weva melangkah mundur, memberi jarak yang agak jauh dari sosok brilyan yang masih sibuk dengan bukunya itu. Oh Tuhan, rasanya ia ingin berteriak agar Brilyan menatapnya d. detik ini juga. Tak apa jika Brilyan menatapnya hanya sekali saja.


"Brilyan!" bisik Weva yang suaranya nyaris tak terdengar.


"I love you. Weva cinta Brilyan," bisik Weva.


Weva tersenyum tipis. Menatap pria tampan dan irit bicara itu seakan menghadapkannya pada sebuah benda antik. Dapat dilihat namun, tak dapat merespon seseorang.

__ADS_1


Tak berselang lama senyum Weva lenyap dari bibirnya. Weva terdiam lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Brilyan. Melangkah mendekati Wiwi yang sudah setia menunggunya di pintu masuk.


Weva tersenyum simpul dengan tatapannya yang beberapa kali menoleh menatap Brilyan yang sorot matanya masih sibuk dengan lembaran bukunya.


 


"Pasrah!"


"Iya, Weva akui sekarang Weva pasrah."


"Weva pasrah wahai pangeranku yang tampan."


"Hari ini Brilyan boleh tak menatap Weva tapi Weva yakin suatu saat nanti Brilyan akan terus berada di samping Weva dan menggenggam tangan Weva dengan senyuman."


"Hari ini Brilyan memang tak pernah menatap Weva walau hanya satu detik tapi nanti Weva yakin kalau Brilyan tak akan pernah berhenti untuk menatap Weva."


"Weva yakin nanti Brilyan akan mengerti tentang perasaan cinta ini kepada Brilyan."


"Hari ini biarkan Weva yang mengungkapkan kata I love you kepada Brilyan tapi suatu saat nanti entah kapan itu, Weva yakin Brilyan yang akan mengatakan kalimat ungkapan cinta itu."


"Weva harap, Weva bisa menjadi princess Brilyan, Tidak sekarang tapi nanti!"


"Lihat saja nanti! Semuanya akan terjadi."


...****************...


"Gue udah bilang kan sama lo, lo nggak usah terlalu berharap sama si otak cerdas dan si bisu itu."


"Brilyan!" tegur Weva yang melirik Wiwi dengan wajah datar.


Wiwi mendecakkan bibirnya.


"Ah, terserah deh!"


"Lo harus tahu kalau gue itu pusing mikirin jalan pikiran lo yang isinya dipenuhi sama si cowok pendiam itu."

__ADS_1


"Lo denger, ya, Wev! Dia itu nggak ada bedanya sama si nyonyong yang duduk paling belakang. "


Tatapan Weva yang sedari tadi menatap bangunan-bangunan pencakar langit yang berlalu setelah dilintasi oleh mobil pribadinya yang kini tengah dilajukan oleh supir pribadinya dengan kedua sorot mata yang perlahan meredup dan berakhir dengan pejamkan dikedua mata Weva.


Weva menghela nafas. Bagaimana bisa Wiwi menyamakan sosok Brilyan dengan Nyonyong, si pria bisu yang juga merupakan teman sekelasnya.


"Wev, Weva! Lo denger gue kan?"


Weva melirik menatap Wiwi yang bicara panjang lebar. Sudah sejak tadi gadis bertubuh kurus dengan poni tebal itu bicara panjang lebar bahkan mengalahkan pak Makmur si pak kepala sekolah SMA Cendrawasih Internasional School yang pidato upacaranya bisa sampai satu jam.


"Tapi, gue suka sama Brilyan, Wi," ujarnya dengan nada memelas.


Wiwi mendecakkan bibirnya, lagi dan lagi kalimat itu yang ia dengar dari mulut Weva. Wiwi menoleh menatap Pak Walio yang sesekali melirik kejadian yang familiar itu di pantulan kaca mobil. Beradu mulut dengan Weva adalah sesuatu kegiatan di perjalanan pulang yang menjadi keharusan.


"Pak walio," panggil Wiwi.


"Iya nona," sahut Pak walio.


Pak walio merupakan supir pribadi Weva yang selalu setia mengantar Weva ke mana pun Weva pergi. Pria berdarah Papua ini memiliki kulit yang nampak lebih gelap dengan rambutnya yang keriting, ini lebih mirip sarang burung serta logat Papuanya yang tercampur dengan bahasa Jakarta.


"Wiwi mau tanya tapi Walio harus jawab!"


"Siap, Nona."


"Nih, yah, Wiwi tanya, kalau misalnya Pak Walio suka sama cewek terus ceweknya nggak ngerespon terus pak Walio gimana?"


Pak walio tersenyum dengan tatapannya yang sibuk dengan jalanan macet yang telah berhasil menghambat perjalanan pulangnya.


"Aduh, kalau beta seperti itu, yah, pasrah saja nona karena percuma dipaksa pun tidak ada hasil toh, sakit saja kita dapat," jelas pak Walio membuat Wiwi tersenyum bangga, sepertinya penjelasan pak Walio seperti perwakilan isi hatinya yang ingin ia sampaikan kepada Weva.     


"Tuh dengerin tuh!" Tunjuk Wiwi meninggikan nada suaranya agar Weva yang masih menatap bangunan-bangunan pencakar langit itu tersadar dari lamunannya.


Weva melirik pelan membuatnya Keluar dari bayangan wajah tampan Brilyan yang sedari tadi memenuhi pikirannya.


"Pak Walio, orang kalau udah cinta, yah, tetap cinta," ujar Weva menatap beberapa detik pantulan mata Pak Walio di cermin mobil lalu kembali beralih menatap pemandangan kota yang berlalu sepanjang perjalanan.

__ADS_1


"Dengerin tuh Pak Walio! Emang keras kepala banget," ujar Wiwi sinis.


__ADS_2