
"Yah nanti kan bisa di antar sama pak walio, tapi kalau misalnya Wiwi nggak setuju weva bakalan kasi tau Ken kalau weva nggak bakalan minta bantuan ken, gimana ?".
"Jangan !, Gue nggak apa-apa kok kalau harus ngejauhin Lo, lagian ini kan demi kebaikan Lo juga".
"Gue nggak suka kalau ada yang ngerendahin Lo kayak si Brilyan tadi".
"Wiwi liat ?".
"Nggak, gue nggak sengaja dengar gosip dari teman sekelas makanya dari tadi gue nyariiin Lo".
Weva mengangguk mengerti.
"Emm oh iya, kapan Lo bakalan nurunin berat badan Lo sama si Ken ?".
"Nggak tau, tapi Ken nyuruh weva buat nemuin ken besok dan ngasih keputusan ke ken".
...🌹🌹🌹...
Weva berlari dengan susah payah melewati beberapa ruangan yang nampak di huni oleh beberapa siswa dan siswi yang menyaksikan lemak perut weva bergetar melewati koridor.
Hari ini weva telah yakin akan keputusannya untuk menerima peraturan Ken dan mengharapkan agar tubuhnya yang gendut ini bisa langsing seperti apa yang weva harapkan.
Weva menghentikan langkahnya ketika ia telah tiba tepat di belakang gudang sekolah yang sunyi, tak ada Ken di sana.
Weva duduk sembari kepalanya yang terus menoleh kiri kanan mencari sosok pembully itu.
Weva menghela nafas lelah, bagaimana bisa Ken tak ada di tempat ini sementara kemarin ia berjanji.
"KEN !" Teriak weva sembari mencari sosok Ken.
"WOY !" Balas Ken yang ternyata berada di atas tower tangki air.
Weva mendongak cepat menatap Ken yang melepas headphone dari telinga Kananya.
"NGAPAIN LO KE SINI ?".
Weva mengkerutkan alisnya ketika mendengar pertanyaaan pria pembully nomor satu ini. Sepertinya dia lupa ingatan setelah kejadian kemarin.
Â
"WEVA SETUJU !" Teriak weva semangat.
"SETUJU APA ?" Tanya Ken membuat weva melongo.
Hah, sepertinya dia memang telah lupa ingatan.
"Yang peraturan kemarin, masa Ken lupa sama yang kemarin".
Ken terdiam sesaat sembari mengetuk-ngetuk dagunya pelan, kali ini ia sedang berpikir.
"WEVA SETUJU KOK, JADI KAPAN KITA MULAI NURUNIN BERAT BADAN WEVA ?".
Ken tak menjawab ia menunduk sembari merapikan dasi di kerah bajunya.
"KEN !" Panggil weva.Â
"Tunggu !".
"EMANGNYA KEN NGGAK BISA TURUNG YAH ? WEVA CAPEK NGOMONG SAMBIL TERIAK DAN NGEDONGAK KAYAK GINI. WEVA NGERASA NGOMONG SAMA MONYET TAU NGGAK !" Oceh nya. Â
Ken menunduk dengan tatapan kagetnya setelah mendengar kata monyet yang weva lontarkan untuknya. Ken melompat dan mendarat dengan gagahnya membuat weva melangkah sedikit menjauh.
"Lo bilang apa ? Gue kayak monyet ?" Tanya Ken sinis.
"Yah Ken suka manjat di situ jadi nya kan kayak monyet" jawabnya takut.
"Hem iya gue monyet dan Lo gajah !" Dorong Ken di dahi weva yang tertutup poni itu menggunakan telunjuknya.Â
Weva meringis walau jujur ini tak sakit, sementara Ken Masi merapikan dasi nya yang sempat terhambat oleh perkataan Weva.
"Weva setuju" ujar weva begitu semangat.
__ADS_1
"Ok, kalau Lo setuju kita mulai besok".
"Besok ?" Ujarnya sumringah.
"Em" Ken mengangkat sebelah alisnya menandakan ia membenarkan pertanyaan weva. Â
Ken kini merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk seperti Handsfree berwarna hitam lalu memasangnya di telinga sebelah kanan.
"Ini buat Lo" julur ken membuat weva sedikit terkejut menatap benda yang Ken julurkan.
"Buat weva ?".
"Nggak ini buat si Wiwi, yah ini buat Lo lah. Cepetan pasang !" Pintah Ken dengan nada kesalnya.
Weva mendecapkan bibirnya yah sepertinya bersikap lembut adalah salah satu sifat yang tak ada pada diri seorang ken.
Weva meraih Handsfree yang berada di telapak tangan Ken dan segera memasang nya di telinga sebelah kiri miliknya.  Â
"Kita mau denger musik yah ?" Tanya weva.
"Gila Lo ?, Siapa yang mau denger musik ?".
"Lah ini ?" Tunjuk weva.
"Lo dengerin gue ! Ini ...." Ken melepas Handsfree dari telinga kanan nya dan memperlihatkan pada weva.
"Ini Handsfree".
"Iya tau, ini Handsfree buat denger musik kan" jelas weva sembari menyentuh Handsfree yang berada pada jari Ken.
"Shi !" Tegur ken mengerakkan tangannya cepat membuat weva tersentak.
"Lo dengerin gue ! Ini Handsfree yang fungsinya untuk berkomunikasi, denger nggak ?".
Weva mengangguk.
"Apa ?" Tanya Ken.
"Nah, Handsfree yang gue pegang ini itu secara otomatis konek ke Handsfree yang Lo pake sekarang, jadi apa pun yang Lo ngomong dan situasi di sekitar lo itu bisa gue denger dari sini" jelasnya.
"Tapi kenapa harus pake ini sih ?".
"Yah biar gue bisa mantau apa yang Lo makan selama Lo berada di dalam rumah".
Weva mengangguk paham dan segera menyentuh permukaan Handsfree yang berada di telinganya.
"Ok, Kita sepakat !" Ujar weva sembari menjulurkan tangannya.
"Mau ngapain Lo ?" Tanya nya sinis.
"Tanda persepakattan kita kalau kita setuju" jelas weva.
"Sepakat" ujar Ken sembari menghempas jari-jari weva yang minta di jabah.
Weva meringis. Pria pembully ini memang kasar, hah sampai kapan weva harus mendapat perilaku kasar dari pria yang selalu menatap nya dengan tajam.
"Dah lah males" ujarnya lalu segera berpaling meninggalkan weva.
"Oh iya satu hal lagi yang harus Lo tau !" Henti Ken sembari mengangkat jari telunjuknya.
"Selama Lo sama gue, Lo nggak boleh ngejer-ngejer si kurus kering ataupun berusaha ngedeketin si kurus kering itu " ujarnya lalu kembali berpaling dan melangkah pergi.Â
"Si kurus kering siapa ?" Tanya weva.
Ken kembali menoleh.
"Itu yang setiap hari selalu Lo kejar-kejar".
"Brilyan ?" Tebaknya.
"Seratus buat Lo" ujarnya dan kembali melangkah.Â
__ADS_1
Weva menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut tak berakhlak dari Ken. Demi dewa para pemain uttaran, Ken baru saja menyebut pria idamannya itu dengan kata kurus kering. Â
"NAMANYA BRILYAN BUKAN KURUS KERING !!!!" Teriak weva sembari menatap kepergian Ken yang tak menghentikan langkahnya.  Â
"BRILYAN NGGAK KURUS KERING !!! KEN TU YANG KAYAK MONYET SERING MANJAT DI TOWER TANGKI !!!" Teriak weva begitu emosi.
Weva menghembuskan nafas dari mulutnya yang telah lelah setelah berteriak sangat keras untuk membela idola nya.
Weva duduk di rerumputan hijau dan meluruskan kedua kakinya yang berat itu.
Kini suasana yang mengitari weva begitu sunyi.
"Heh gendut !".
Panggil seseorang membuat weva terbelalak dan menoleh kiri kanan mencari ke sumber suara yang telah menyebut nama ejekannya itu.
"Siapa ?" Tanya weva ketakutan.
"Ini gue goblok".
Weva kembali menoleh ke sebelah kiri, suara itu begitu jelas terdengar di telinganya.
"Ini gue Ken".
"Ken ? Ken di mana ?" Tanya weva ketakutan.
"Hah gue bolos eh maksudnya gue di telinga Lo !".
"Hah ?" Weva menyentuh cepat telinganya membuatnya berhasil menggapai Handsfree yang berada di telinga kirinya.
Weva menghela legah, itu bukan suara hantu yang baru saja ia dengar tadi. Bagaimana bisa weva lupa jika ada handsfree pemberian Ken di telinganya.
"Ini cuman tes Ajah, percobaan" ujar Ken lalu mematikan Handsfree nya.
"Apa ?" Tanya weva.
Tak ada lagi jawaban yang terdengar.
"KEN !".
"HELO KEN !" Teriak weva.
"Weva !" Panggil seseorang membuat weva menoleh menatap pria berkulit sawo matang yang berdiri di samping tower tangki yang menatapnya heran itu tersenyum ragu.
"Gila ya kamu ?" Tunjuk penjaga keamanan itu.
"Gila ?" .
"Iya gila, loh kamu ngomong sendiri dari tadi".
Weva mendecapkan bibirnya, pria berseragam penjaga keamanan itu seperti nya salah paham di saat melihatnya berbicara sendiri.
"Weva nggak gila kok pak !" Bela weva sembari bangkit dari tempat nya duduk.
"Terus kamu kok ngomong sendiri ?".
"Anu pak itu eeeeh weva lagi latihan drama".
"Drama ?".
Weva mengangguk.
"Oh kamu dapat peran juga".
Weva mengangguk lagi, jujur kali ini ia asal bicara saja.
"Dapat peran apa kamu ? Gajah yah ?".
Weva hanya mengangguk sembari tersenyum ragu.
"Wah, semangat ! Semangat !" Ujarnya lalu melangkah pergi meninggalkan weva yang bernafas lega.
__ADS_1