
Weva berdiri di depan cermin sambil merapatkan gaun hitam panjang miliknya yang baru ia pesan. Weva berpikir sejenak lalu mendekatkan gaun hitam yang berukuran pendek sampai ke lutut yang berada di tangan kanannya.
Weva mendecakkan bibirnya. Rasanya ia bingung untuk memilih gaun apa yang akan ia gunakan nanti malam. Malam ini ia harus tampil cantik di hadapan Brilyan saat makan malam nanti.
Weva meletakkan dua gaun hitam itu di atas tempat tidur. Mengetuk-ngetuk dagunya berpikir. Ia menatap dua gaun itu secara bergantian dengan wajahnya yang masih berpikir.
"Pakai yang mana, ya? Gaun panjang atau pendek?"
"Yang pendek bagus, sih tapi yang panjang juga bagus. Aduh, pusing. Weva harus pilih yang mana, dong?"
Weva menghela nafas. Ia membaringkan tubuhnya ke atas kasur persis di tengah-tengah dua gaun hitam. Kedua matanya menatap dua gaun itu lalu ia menggerakkan kepalanya menatap ke langit-langit ruangan kamar.
"Cari saran siapa, ya?"
"Wiwi? Ah, mana ngerti dia. Kalau Mama paling milih gaun yang warna pink dari pada hitam."
Wajah bingung Weva kini berangsur tersenyum. Ia menemukan ide untuk bertanya.
"Ken!" ujar Weva yang begitu senang.
Weva merogoh saku celananya itu dan mengeluarkan handphonenya berniat untuk menghubungi Ken.
...***...
Wajah pak Ahmad dan Laila yang sedang duduk di sofa tepat di hadapan putranya, Ken dengan pandangan yang terlihat begitu syok. Ia tak mengerti apa yang sedang ada di pikiran anaknya itu.
"Keken! Keken nggak salah ngomong, kan?" tanya Laila.
Ken menggeleng. Ia masih berusaha untuk tetap tersenyum berharap dapat persetujuan dari kedua orang tuanya.
Laila mendengus kesal. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu sementara suaminya terlihat mengusap wajahnya seakan tak mampu lagi untuk berpikir.
"Boleh, kan Pak, Ma?"
Laila menghentikan gerakan tangannya yang menggaruk. Menatap suaminya sejenak dan menatap kembali pada sosok Ken.
"Keken! Mama bukan bermaksud untuk melarang meraih cita-cita tapi kamu nggak usah pergi jauh-jauh kuliahnya."
"Di Jakarta, kan ada banyak tempat kuliah kenapa harus di Jogja, sih, Nak?"
Ken terdiam. Jemari tangannya saling bertaut sambil menopang bibirnya.
"Betul Ken. Yang Mama kamu bilang ada benarnya. Kamu itu kan anak Bapak dan Mama satu-satunya jadi tidak mungkin kami pisah tinggal sama kamu."
"Kalau kamu tinggal di Jogja gimana sama makan dan minum kamu. Siapa yang mau urus perlengkapan hidup kamu nanti?"
"Yang paling penting bagaimana hidup kami nanti kalau tidak ada kamu Nak di rumah ini. kamu, kan anak satu-satunya kami. Masa kamu mau ninggalin Bapak sama Mama di sini. Iya, kan Ma?"
"Hem, betul," sahut Laila sambil mengangguk.
Ken melipat bibirnya ke dalam sambil mengangguk pelan.
"Ma, pak! Ken tau kalau Ken itu anak satu-satunya tapi kan di Jogja Ken nggak sendiri. Ada Nenek, kan di sana? Lagian Nenek juga tinggalnya sendiri di Jogja."
"Kalau Ken tinggal di Jogja sama Nenek, Nenek juga jadi punya teman ngobrol. Nenek nggak sendiri lagi di rumah."
__ADS_1
Pak Ahmad menghembuskan nafas panjang.
"Bapak tau pasti kamu baru aja ditelpon sama Nenek, kan dan Nenek yang ajak kamu tinggal di sana?" tebak pak Ahmad membuat Ken mengangguk.
"Jadi gimana? Boleh, kan Ma, pak?"
Laila terdiam. Ia menoleh menatap suaminya yang juga tak tau harus mengatakan apa.
"Keken beneran mau ke Jogja?"
Ken mengangguk.
"Yakin?"
"Yakin."
"Serius?"
Ken tertawa kecil.
"Emangnya Keken keliatan bercanda?"
Laila menatap ke arah lain. Wajah putranya itu memang sejak tadi terlihat begitu serius.
"Ken yakin nggak bakalan rindu sama Bapak sama Mama juga kalau Ken tinggal di sana?"
"Kan kita bisa VC kalau Ken rindu sama Mama dan Bapak."
Laila terdiam. Ia menatap kembali suaminya yang terlihat memegang kepalanya yang telihat pening.
"Pa! Boleh, kan?"
"Tanya Mama kamu, Bapak nggak tau," tolak pak Ahmad mencari alasan agar tak menjawab.
Ken menoleh menatap Laila yang masih berpikir keras.
"Ma, boleh, kan?"
"Yah, udah gini aja kalau emang Keken mau ke Jogja buat kuliah, Mama bolehin aja tapi untuk coba-coba tinggal di sana besok kamu pergi aja ke Jogja."
"Besok?"
"Iya besok. Anggap aja ini sebagai uji coba biar kami tau gimana rasanya hidup tanpa ada Bapak sama Mama," jelasnya lalu menyentuh pelan punggung tangan suaminya.
"Nah, kan kebetulan Keken juga udah ujian jadi Keken punya banyak waktu libur. Setelah Keken tinggal beberapa hari bareng Nenek, Ken bakalan tau harus pilih tinggal di rumah bareng Nenek atau tetap tinggal bareng Bapak sama Mama."
Ken mengangguk tanda mengerti hingga ia yang hanya diam itu melirik menatap handphonenya yang bergetar di dalam saku celananya.
"Yah, udah Ken ke kamar, ya," izin Ken lalu bangkit dari sofa.
Ia mengeluarkan handphone itu dengan kedua alis yang bertaut menatap tak menyangka pada nama yang tertera di layar. Tak berselang lama senyum kecil itu muncul membuatnya dengan cepat berlari menaiki anakan tangga dan mengangkat telpon setelah ia berada di dalam kamar.
"Halo Endut."
Weva menjauhkan handphone itu dari wajahnya. Dahinya mengernyit menatap bingung Ken secara tidak langsung. Gendut? Siapa yang gendut di sini?
__ADS_1
"Idih, sorry, ya Weva itu nggak gendut lagi."
Ken tertawa kecil. Ia duduk di pinggir kasur untuk mengelokkan posisinya berbicara dengan Weva.
"Iya, iya gue tau. Kenapa, nih kok tumben nelpon."
"Iya, nih Ken, Weva itu lagi pusing."
"Pusing kenapa lagi? Kan ujiannya udah selesai masa mau pusing lagi."
"Ish, Weva bukan pusing karena ujian."
"Yah, terus apa, dong?"
Weva bangkit dari tempat tidurnya. Ia kembali menatap dua gaun berwarna hitam yang sejak tadi membuatnya bingung.
"Nanti malam, kan Weva itu mau makan malam bareng Brilyan..."
Nafas Ken seakan tertahan di dadanya setelah Weva kembali menyebut nama itu. Lagi dan lagi ia harus mendengar hal itu.
"Terus Weva punya dua gaun hitam, nah masalahnya Weva nggak tau harus pakai yang mana."
"Weva itu bingung Ken. Dari tadi Weva itu udah mikir mau pakai gaun ini atau yang ini. Gaunnya sama-sama cantik."
"Cuman bedanya itu gaunnya ada yang panjang dan ada yang pendek, nah kira-kira Weva pakai yang panjang atau yang pendek aja?"
Weva kini terdiam menanti jawaban dari sebrang namun, tak ada kalimat sedikit pun yang ia dengar dari si pendengar.
"Ken!"
"Em?" sahut Ken yang sadar dari lamunannya.
"Gimana? Kok malah diem aja?"
"Oh, em ya udah emang gaunnya apa bedanya?"
Weva berpikir sejenak.
"Ada gaun yang panjang dan ada gaun yang pendek. Kira-kira Ken suka yang mana?"
Ken melangkah ke arah jendela menatap pemandangan samping rumahnya.
"Yang gaunnya panjang aja."
"Yang panjang?"
"Iya soalnya kalau gaun yang panjang lebih kelihatan sopan dan."
"Dan?"
"Dan keliatan kayak princess gitu."
Weva tersenyum tipis. Pipinya memerah setelah mendengar apa yang Ken katakan.
"Oky kalau gitu Weva pakai yang panjang aja. Eh, udah dulu, ya! Weva mau siapin apa aja yang Weva butuhkan nanti. Terima kasih, Ken."
__ADS_1
Sambungan terputus meninggalkan tubuh Ken yang terlihat kaku. Jemari tangannya masih memegang handphone yang masih ia letakkan di pipinya. Wajahnya terlihat datar seakan tak ada gambaran wajah ceria Ken yang selalu ada pada sosok Ken.