
Weva kembali tertunduk. Setelah mendengar kata meleber, ia jadi terpikir dengan lemak perutnya yang nampak berlipat-lipat saat ia duduk.
Tak berselang lama Weva mengekerutkan alisnya setelah ia mendengar suara wanita yang setengah bersorak dengan semangatnya diluar sana membuat Weva segera bangkit dari pinggir kasurnya dan mengintip di cela pintu kamar Wiwi yang sedikit terbuka.
"Kim Namjoon!!!"
"Kim Seokjin!!!"
"Min Yoongi!!!"
"Jung Hoseok!!!"
"Park Jimin!!!"
"Kim Taehyung!!!"
"Jeon Jungkook!!!"
"BTS!!!"
"Yeeee!!!"
"Saranghae, Oppa!!!"
Weva melongo menatap ke arah sumber suara yang ternyata adalah Nenek Wiwi, ya siapa lagi jika bukan Nenek Ratum yang kini telah keracunan Korea.
Nenek Ratum kini masih berteriak dan menggerakkan tubuh kurus dan keriputnya sembari meneriaki nama-nama personil BTS sambil berdiri di atas sofa.
Weva masih terdiam menatap setiap gerakan yang dilakukan oleh Nenek Ratum.
"Wi, kayaknya nenek Wiwi harus dirukiah, deh," saran Weva yang masih mengintip menatap Nenek Ratum.
Wiwi tak menanggapi sedikit pun kalimat Weva, Wiwi nampak masih sibuk dengan buku-bukunya yang siap untuk masuk ke dalam tas setelah melihat jadwal mata pelajarannya.
"Yeeee!!!"
"Saranghae!!!"
"Yeeee!!!"
"Saranghae Oppa!!!" jerit nenek Ratum sembari melakukan finger heart ala Korea dengan jari tangannya yang terlihat kurus dan berkeriput.
Weva menggeleng diiringi hembusan nafas yang berhasil lolos dari indra pernafasannya.
"Wiwi, Nenek Ratum kayaknya beneran harus dirukiah," bisik Weva.
"Kenapa, Wev?" tanya Wiwi keherangan yang tiba-tiba saja sudah ikut mengintip di samping Weva.
"Nenek Ratum nggak kemasukan setan, Wev. Dia cuman kerasukan Oppa-oppa."
Weva menoleh menatap Wiwi yang nampak ikut menatapnya.
"Oppa-oppa?"
Wiwi mengangguk.
"Nenek Ratum, kok jadi kayak gini? Perasan kemarin sukanya sama mahabarata kenapa sekarang jadi ke Korea?"
Wiwi menghela nafas berat dengan tatapannya yang masih meratapi Nenek Ratum yang masih melompat di atas sofa. Sungguh mengerikan.
__ADS_1
"Jadi gini, Wev, tiga hari yang lalu tv rumah rusak jadi nenek nggak sempet nonton siaran ulang Mahabarata tapi tiba-tiba Nenek Ratum ke pasar dan tahu-tahunya Nenek Ratum beli CD album BTS di pasar," jelasnya dengan wajah serius.
"Terus?"
"Yah jadi gitu!" Tunjuk wiwi sedih dengan ujung bibirnya.
Weva tersadar dari lamunan membuatnya dengan cepat menegakkan tubuhnya lalu ia menatap Wiwi yang nampaknya telah siap dengan seragam sekolahnya.
"Udah, Wi?"
Wiwi mengangguk, membuat Weva segera melangkah keluar dari kamar.
"Kita harus cepat, Wi, nanti keburu banyak orang," ujar Weva dengan wajah gelisah.
Wiwi mengangguk dan segera melangakahkan kakinya dengan pelan menuju luar kamarnya dengan langkah pelan bahkan suara langkahnya tak terdengar sedikitpun.
"Hust!" Wiwi menghentikan langkahnya sambil meletakkan jari tangannya ke depan ujung bibirnya ke arah Weva.
Weva mengangguk membuatnya dengan cepat menutup bibirnya agar ia tak bersuara sedikitpun.
"Jangan sampai Nenek Ratum ngeliat kita. Kita harus cepat," bisik Wiwi membuat Weva mengangguk.
Wiwi kembali menoleh membelakangi Weva dan berlari kecil dan sesampainya di pintu ia dengan cepat memegang ganggang pintu berniat untuk segera ke luar dari rumah.
"Gamanitseo! / Berhenti!" teriak Nenek Ratum ketika berhasil mendapati Weva dan Wiwi yang tengah mengendap-ngendap berniat untuk mengihidar darinya.
Weva dan Wiwi terbelalak lalu segera saling bertatapan seakan menanyakan apa yang baru saja wanita tua ini katakan.
Itu bahasa Korea! Oh Tuhan, sejak kapan Nenek Ratum pintar berbahasa Korea?
"Gue, kan udah bilang jangan berisik," bisik Wiwi sambil membulatkan kedua matanya ke arah Weva yang mengernyit heran.
Nenek Ratum melompat dari sofa membuat Weva dan Wiwi tersentak kaget. Tuhan tolong kasihanilah tulangnya yang sudah keropos itu.
"Eh, si gendut."
"Iya, Nek," jawab Weva lalu tertawa cengengesan.
"Saranghae," ujar Nenek Ratum sembari jarinya yang membentuk finger heart ke arah dua makhluk yang masih melongo itu.
Apa yang baru saja dikatakan oleh Nenek Ratum.
"Ayo dong bilang!"
Weva dan Wiwi saling bertatapan, tidak tahu dengan apa yang dimaksud oleh Nenek Ratum.
"Loh ayo, dong!" suruh Nenek Ratum.
"Itu loh jarinya!" Tunjuk Nenek Ratum ke tangan Weva dan Wiwi secara bergantian.
Weva dan Wiwi masih terdiam. Mereka sepertinya belum mengerti dengan apa yang di maksud oleh Nenek Ratum.
"Ih sini! Sini! Sini!" Tarik Nenek Ratum sembari memaksa jari Weva dan Wiwi membentuk finger heart ala Korea secara bergantian.
"Nah gini, loh," ujar nenek Ratum.
Nenek Ratum melangkah mundur lalu tersenyum kegirangan setelah melihat secara bergantian tangan Weva dan Wiwi yang berbentuk ala finger Korea itu
Weva mengkerutkan alisnya menatap aneh pada jarinya lalu beberapa detik kemudian ia beralih menatap Wiwi yang nampak memasang wajah datar.
__ADS_1
Weva membelalakkan mata dan sesekali menggerak-gerakkannya seakan mulai mengeluarkan keahliannya dalam bahasa komunikasi mata kepada Wiwi.
"Apa ini?"
"Ikuti aja, Wev!"
"Ini penyiksaan."
"Gue juga ngerasain. Di sini bukan cuman lo yang menderita, Wev, tapi gue juga."
"Heh!!!" teriak Nenek Ratum membuat Weva dan Wiwi tersentak.
"Ngomong apa?" Tanya Nenek Ratum.
Weva dan Wiwi mengeleng dengan kompaknya sambil tersenyum lebar membuat Nenek Ratum ikut tersenyum.
"Nah, sekarang bilang saranghae!" pinta Nenek Ratum sembari tersenyum kegirangan membuat gusi ompongnya terlihat jelas.
Weva dan Wiwi kembali melongo. Tuhan cobaan apa yang engkau berikan sepagi ini?
Weva menghela nafas berat. Ia kembali menoleh menatap Wiwi yang diam dengan wajah datar.
"Ayo, dong bilang!"
"Saranghae!" ujarnya lagi sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ayo!"
Weva dan Wiwi menelan ludah lalu dengan kompak keduanya saling bertatapan dan dengan ragu mereka berkata dengan serentak.
"Saranghae!" ujar keduanya dengan wajah terpaksa.
Ini keterpaksa yang benar nyata.
Nenek Ratum tertawa terpingkal-pingkal membuat gusi merah muda yang hanya memiliki beberapa gigi itu terlihat setelah mendengar ucapan Weva dan Wiwi.
Pribahasa mengenai bahagia itu sederhana sepertinya tepat untuk nenek Ratum.
"Eh ini loh bilang! Kim Namjoon-"
Weva melongo. Dengan wajah anehnya ia menoleh menatap Wiwi yang hanya bisa terdiam.
"Tahu nggak?"
Wiwi menggeleng pelan. "Nggak, Nek," jawab Weva.
"Aigo, kayak gini, nig Kim Namjoon, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok-"
Nyanyi nenek Ratum yang diiringi gerakan ciri khas army tersebut membuat Weva melongo. Weva menoleh menatap Wiwi yang nampak memijat kepalanya.
"Loh ayo, dong!" pintah Nenek Ratum dengan semangat.
Weva melirik menatap wiwi dengan tatapan memelas.
"Gamana, nih, Wi?" bisik Weva khawatir.
"Udah, deh, Wev mending kita lari aja!" ajak Wiwi dengan suara kecilnya.
"Tapi, Wiwi-"
__ADS_1
"Udah, lah, Wev! Sekarang lo mau nurutin apa yang Nenek Ratum bilang dan lo mau jadi pengikut kayak Nenek Ratum?"