
Sebuah sepatu hitam yang terlihat mengkilat nampak menyentuh permukaan pekarangan rumah yang cukup luas ketika seseorang melangkah turun dari mobil mewah berwarna hitam.
Pria berseragam rapi itu kini melangkah masuk ke dalam rumah melewati pintu rumah yang lumayan besar yang nampak terbuka lebar seakan menandakan jika ada orang di dalam.
Pria berparas tampan itu kini menghela nafas setelah langkahnya terhenti mendapati pria berjas hitam yang tengah duduk di sebuah sofa berwarna kuning emas yang nampak memberikan kesan glamor.
Pria itu menelan salivanya dan mengigit bibir memberanikannya melangkah maju untuk menaiki anakan tangga menuju ruangan kamarnya yang berada di lantai dua.
"Brilyan!" Suara pria bernada tegas itu terdengar.
Yap, pria itu adalah Brilyan, Brilyan Pratama. Si pria pendiam yang memiliki otak cerdas dan kebanggaan SMA Cendrawasih Internasional School. Pria tampan yang selalu dikejar-kejar oleh siswi-siswi dan juga Weva, si gadis gendut yang selalu mengharapkan cinta dari Brilyan.
Langkah kaki Brilyan terhenti ketika kakinya baru berada di anakan tangga yang kedua membuatnya dengan perasaan gugup menoleh menatap pria berjas hitam itu.
Dia adalah Johan Iskandar, seorang pria terhormat dan kaya raya yang selalu di sanjung oleh orang banyak. Perusahaan mana yang tak mengenal nama pria duda berusia 49 tahun ini.
"Sini kamu!" panggil Johan.
Brilyan hanya mampu menurut perkataan Papanya membuatnya kini melangkah mengikiskan jarak antara ia dan Papanya.
Brilyan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Johan diiringi suasana sunyi mencekam.
"Belajar apa kamu tadi di sekolah?" tanya Johan dengan nada tegasnya.
Brilyan tertunduk, tak berani untuk menatap wajah pria tegas itu. Suara dingin itu membuat Brilyan gemetar.
"Belajar apa kamu?" tanya Johan lagi.
"Bahasa Inggris."
"Terus?"
"Fisika, biologi dan seni budaya."
Johan mengangguk.
"Bahasa Inggris dapat nilai berapa?"
"Belum ada tugas."
"Kenapa belum ada tugas? Kalau tidak ada tugas harusnya kamu minta sama guru kamu biar kamu dikasi tugas sekolah."
"Kamu jangan ikut-ikutan sama anak-anak di sekolah yang hanya datang, duduk dan pulang."
"Iya, Pa," jawab Brilyan.
"Fisika dapat nilai berapa kamu?"
"Seperti biasa, Pa."
"100?" tebak Johan.
Brilyan mengangguk, mengiyakan tebakan Johan membuat Johan tersenyum bangga sembari mengangguk.
"Biologi?"
"Sama, Pa," jawab Brilyan.
"Bagus, kalau seni budaya?" tanya Johan membuat brilyan menunduk.
"Kenapa?"
"Tadi seni budaya kita disuruh ngegambar."
"Terus kamu dapat nilai berapa?" tanya Johan.
__ADS_1
Brilyan menggeleng pelan seakan tak mau menyebutkan nilai seni budayanya.
Johan menghembuskan nafas berat seakan merasakan firasat buruk pada nilai putra satu-satunya itu.
"Berapa?" tanya Johan.
Tak ada jawaban. Brilyan diam seribu bahasa.
"Berapa?!!" bentak Johan membuat Brilyan tersentak kaget.
Brilyan masih terdiam membuatnya hanya mampu bisa terdiam membiarkan rasa ketakutannya menyelimuti dirinya saat ini. Tubuhnya langsung gemetar dengan nafasnya yang terasa tertahan di dadanya.
"Raful!!!" panggil Johan membuat pria berjas hitam yang sejak tadi berdiri di pintu itu mendekat.
"Periksa nilai di buku menggambarnya!" pinta Johan membuat Raful segera membuka tas hitam milik Brilyan dan meraih buku gambar yang telah di gulung serapi mungkin.
Brilyan hanya mampu terdiam dan pasrah membiarkan asisten Papanya mengambil dan memberikan buku gambarnya pada papanya itu.
Johan terdiam sejanak mantap Brilyan yang masih tertunduk. Secara perlahan Johan kini membuka buku gambar milik Brilyan membuat Johan terbelalak.
Plak
Johan yang dipenuhi dengan amarah kini menghempas buku gambar Brilyan ke lantai membuat buku gambar itu terbuka lebar hingga gambar beserta nilai Brilyan terlihat jelas.
Johan bangkit dengan tatapan amarahnya lalu melangkah lebih dekat mendekati Brilyan.
"Kamu dapat 80 di tugas seni budaya kamu?" tanya Johan penuh tekanan membuat kedua rahagnya menegang.
"Jawab!!!"
Kedua mata Brilyan terpejam saat suara itu seakan telah menampar wajahnya. Dengan cepat Brilyan mengangguk walau ia ragu untuk melakukannya.
"Kenapa?!!" bentak Johan.
"Kenapa Brilyan?!!"
"Kamu mau buat Papa jadi malu?!!"
"Hah?!!"
"Kamu mau buat papa jadi malu?!!"
"Kamu tahu nggak kalau kamu itu anak satu-satunya Papa dan itu berarti kamu harus bisa jadi kebanggaan Papa!!!".
"Kenapa kamu diam saja, hah?!!"
"Kenapa kamu hanya diam?!!"
"Ayo jawab!!!"
"Brilyan minta maaf, tapi Brilyan tidak tahu cara gambar, Pa. Brilyan rasa kalau Brilyan tidak punya bakat di bidang seni," bela Brilyan dengan nada yang penuh hati-hati.
"Kamu harus bisa!!!" teriak Johan dengan tiba-tiba membuat Brilyan berhasil tersentak kaget.
"Kamu harus bisa di bidang apa saja, Brilyan!!!"
"Kamu itu anak Papa, putra satu-satunya Papa dan kamu harus bisa dalam segala hal, apapun itu!!!"
"Kamu harus bisa jadi kebanggaan Papa!!!"
"kamu denger, kan apa yang Papa bilang?"
Brilyan terdiam dengan kepalanya yang hanya mampu menunduk berusaha mengalihkan tatapannya agar tak melihat sorot mata Johan yang sudah pasti sedang menatapnya dengan tajam.
"Denger nggak kamu?" bentak Johan yang entah sudah berapa kali dan untuk yang kesekian kalinya Brilyan hanya mampu mengangguk seribu bahasa.
__ADS_1
Johan menghela nafas beratnya lalu segera membuang tubuhnya hingga terduduk di sofa mewahnya.
"Sekarang kamu naik! Tukar baju kamu setelah itu kamu belajar seni."
Mendengar hal itu Brilyan mendongak menatap Papanya.
"Belajar seni?"
"Ya."
"Tapi, Pa-"
"Papa akan panggil guru seni yang terkenal untuk mengajari kamu tentang seni," pptongnya.
"Papa nggak mau ngeliat atau denger kamu dapat nilai di bawah seratus."
"Papa mau kamu harus dapat nilai seratus di sekolah, kalau perlu jika ada nilai di atas seratus dalam pemberian nilai kamu harus bisa meraih itu," tuntut Johan.
"Tapi, Pa-"
"Nggak ada tapi-tapian, Brilyan!" Tunjuk Johan membuat Brliyan terdiam.
"Tidak ada alasan. Apa pun itu kamu harus bisa. Papa tidak mau mendengar alasan dari kamu. Ngerti kamu?"
Brilyan kini hanya mampu mengangguk pasrah. Berhadapan dengan seorang yang haus akan ketenaran dan pujian memang selalu membuat batin seseorang tersiksa dan itulah yang Brilyan rasakan saat ini. Ini bukan berlangsung saat ini tapi sudah dari dulu dan sepertinya ini tidak akan ada akhirnya.
Brilyan berpaling setelah meraih buku gambarnya yang Papanya hempas tadi di lantai lalu dengan langkah pasrahnya ia melangkah menuju kamar melewati lemari besar yang dipenuhi dengan piala milik Brilyan dan beberapa penghargaan yang berada di dinding rumah yang tak mampu terhitung jumlahnya.
Brilyan melangkahkan kakinya menaiki anakan tangga. Menatap foto besar yang terpasang di dinding. Foto dirinya dan juga Papanya yang terlihat duduk dengan senyuman sementara dirinya berdiri dengan wajah tegang.
Rumah megah ini seperti neraka bagiku, jika ada yang mengatakan betapa beruntungnya aku menjadi anak seorang pria bernama Johan yang merupakan orang kaya dan terhormat maka aku hanya bisa tertawa.
Yah, tertawa mengenai pendapatnya tentang kehidupanku.
*Aku adalah orang yang paling terpuruk di dunia ini yang harus selalu bisa menjadi sesuatu yang selalu diinginkan oleh Papa.
Aku harus bisa menjadi kebanggaan oleh Papa*.
Menjadi anak satu-satunya itu tak enak kawan.
Anak satu-satunya harus bisa menjadi yang terbaik dari yang terbaik.
Anak satu-satunya harus bisa sempurna karena harapan mereka hanya satu.
Aku hanya bisa diam terpuruk dan selalu mengabiskan waktuku dengan belajar.
Aku tak punya kawan, kerabat bahkan sahabat.
Itu lah mengapa aku sering menutup diri oleh orang-orang yang ingin berinteraksi denganku.
Kata Papa mempunyai banyak orang terdekat hanya membuat orang bodoh dan membuang waktu dengan hal yang tak penting.
*Sejujurnya itu salah. Aku ingin punya teman, tapi Papa selalu mengatakan untuk menjadikan buku sebagai teman.
Apa itu benar?
Itu terlalu berlebihan bukan*.
Aku ingin bebas seperti halnya mereka yang bisa mengekspresikan dirinya lewat tawa dan canda, namun sayangnya aku masih terikat kuat oleh Papaku bahkan melonggarkannya pun tidak pernah, bukan tidak pernah tapi tidak bisa.
Ini yang aku rasakan.
Dan aku adalah Brilyan Pratama.
__ADS_1