
Suara teriakan Ken seakan berkoar-koar untuk meminta bantuan kepada puluhan sahabatnya itu, terutama Roy dan Kevin yang berdiri paling depan di antara kerumunan itu.
Mereka terdiam seakan tak berniat melakukan apa-apa untuk menolong Ken yang tengah terancam.
Polisi yang sedang memegang Ken langsung menoleh menatap ke arah Kevin dan Roy. Sejak tadi ia memperhatikan Ken yang terus berteriak memanggil mereka.
"Ini teman kamu?" tanya polisi itu yang kini sedang menatap ke arah Kevin dan Roy.
"Dia saha-"
"Bukan," jawab Roy.
Ken menghentikan ucapannya dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak menyangka. Apa yang mereka katakan?
Mereka berbohong, benar-benar berbohong.
"Maksud lo apa, Roy?"
Tak ada jawaban.
"Roy! Kok, loh gitu, sih?" tanya Ken tak menyangka.
Ken menoleh. Setelah mendengar hal itu langkah kakinya yang dipaksa jalan oleh beberapa polisi itu terhenti.
"Cepat jalan!"
"Pak, dia sahabat gue, pak."
"Mana buktinya kalau dia sahabat kamu? Mereka saja tidak mengakui kamu."
"Beneran, pak. Vin! Kevin! Roy! Lo bilang, dong kalau gue nggak make narkoba! Lo, kan tahu gue, Roy, Vin!!!" teriak ken.
Roy dan Kevin tak berkomentar membuatnya hanya terdiam seperti orang yang bisu yang tak tahu apa-apa.
"Vin! Vin! Lo sahabat gue, kan? Lo bilang, dong kalau gue itu nggak salah!!!" teriak Ken dengan tatapan penuh harapnya.
Kevin tetap melakukan hal yang sama. Ia terlihat terdiam dan kini membuatnya menjadi sorotan oleh semuanya. Kevin yang tak nyaman dengan tatapan itu melangkah pergi meninggalkan kerumunan membuat Ken menatap tak menyangka.
"Kevin!!! Lo mau kemana, Vin?!!" teriak Ken.
Rahang Ken bergetar. Menggerutu dengan kesal.
"Kevin! Vin!!! Lo mau kemana, Vin? Lo nggak boleh, dong ninggalin gue dalam kondisi yang kayak gini!!!" teriak Ken.
Ken menoleh menatap Roy yang kini terlihat menatap ke arah lain seakan enggan untuk menatapnya.
"Roy! Bantuin gue, dong, Roy!"
"Gue mohon! Lo itu sahabat gue!!!"
"Roy, lo bilang, dong, Roy!!!"
__ADS_1
"Lo nggak bisa kayak gitu, dong Roy!!! Lo itu, kan sahabat gue dan seharusnya itu lo bisa nolongin gue!!!"
Roy tak menjawab. Ia menoleh menatap Ken membuatnya bertemu pandang dengan kedua mata Ken yang terlihat begitu sangat memohon. Roy menghela nafas lalu melangkah pergi meninggalkan Ken disusul para sahabat Ken yang lain. Ken menatap tak menyangka membuat rahangnya bergetar penuh amarah.
Apa yang Ken lihat hari ini tak pernah ia duga seumur hidupnya. Apakah ini yang dinamakan sahabat? Sahabat yang meninggalkan sahabatnya sendiri karena hanya sebuah masalah. Ken tak menyangka semuanya bersikap seperti ini.
Mereka semua adalah sahabat Ken bahkan sudah Ken anggap sebagai saudara sendiri, tapi apa yang mereka lakukan hari ini seakan mereka semua adalah orang asing.
"Anjing lo semua!!!"
"Disaat seperti ini bisa-bisanya lo ninggalin gue kayak gini!!!
"Sahabat macam apa lo?!!"
"Anjing lo semua!!"
"Brengsek!!!" maki Ken penuh amarah.
Suara teriakan Ken kembali meronta-ronta diiringi seretan yang membuat langkah paksa Ken mendekat di pintu mobil yang siap menyambut kedatangan Ken.
"Masuk kamu!" pintah polisi itu sembari mendorong paksa tubuh Ken agar segera masuk ke dalam mobil.
Tubuh Ken bergetar berusaha menguatkan pondasi kakinya yang selangkah lagi akan masuk ke dalam mobil polisi itu. Ini bukan kesalahannya, ini adalah fitnah.
Ken mendongakan wajahnya ke langit dan mulai memejamkan kedua matanya dengan nafas yang terengah-engah.
Tuhan, tolong Ken! Ken butuh bantuan.
"Berhenti!!!" teriak Weva yang berlari membelah kerumunan membuat semuanya menoleh menatap Weva.
Semua orang menoleh menatap gadis bertubuh gemuk yang wajahnya telah mempias karena telah berlari cukup jauh untuk mengejar waktu.
"Gila!" Polisi itu menggeleng dengan tatapan tak menyangka.
"Gendut sekali dia," sambungnya.
"Be-berhenti!!!" teriak Weva lagi.
Weva menghentikan langkahnya lalu menarik nafas sesaknya yang terasa tertahan di dada itu diiringi keringat yang bercucuran dari dahinya bahkan seragam Weva nampak basah kuyub.
Ken mengkerutkan alisnya menatap gadis yang selalu ia bully berteriak di sana sambil mengangkat sebuah handphone berwarna hitam dengan tangan yang gemetar.
Apa yang gadis gendut itu lakukan?
"Ken nggak bersalah!!!" teriak Weva.
Semuanya terkejut ketika kalimat pembelaan itu terdengar. Semua orang kini saling berbisik dengan wajah yang kebingungan.
Bagaimana bisa Weva, si gadis gendut yang selalu di bully oleh Ken malah membela sang pembully, bahkan Wiwi yang berdiri di sekitar kerumunan langsung melongo.
Apakah Weva sehat?
__ADS_1
Weva berlari lagi lalu berhenti tepat di hadapan belasan polisi yang berdiri di sekitar Ken.
"Ken nggak bersalah, pak," ujar Weva sembari mengulurkan handphone miliknya.
"Maksud kamu?" tanya polisi itu.
"Na-narkoba yang ada di tas Ken itu, i-i-itu bukan punya Ken, tapi punya si Bara."
"Bara?"
Weva mengangguk.
"Bara itu sepupu Weva, dia yang udah nyimpen narkoba ke dalam tas Ken dan ngebuat Ken jadi ketangkap," jelas Weva begitu jelas dan terus terang.
"Ken nggak bersalah, pak," ujarnya lagi.
Suara tawa terdengar dari polisi itu, yap nampaknya mereka tak percaya. Weva mengernyit bingung.
"Kamu tidak usah sok tahu. Kami dari tim kepolisian sudah melakukan hal yang benar dan yang kamu jelaskan tadi sudah bagus hanya saja itu lebih cocok untuk adegan sinetron.
"Pergi dan turunkan berat badanmu!" sambungnya lalu kembali mendorong Ken.
"Saya punya bukti," ujarnya cepat lalu segera memutar hasil rekaman suara Bara yang ia rekam tadi.
Semua polisi itu langsung saling bertatapan dan segera meraih handphone dari tangan Weva lalu mendengarnya lebih jelas lagi.
"Bara sekarang ada di toilet WC khusus perempuan, Weva udah kurung Bara. Bapak polisi harus cepat pergi ke sana sebelum Bara berhasil kabur," ujar Weva dengan nada panik.
Para polisi yang telah mendengar hal itu saling bertatapan.
"Cepat tangkap pelaku yang sebenarnya!!!" teriak polisi itu dan tak menuggu waktu lama mereka berlari pergi untuk segera menangkap pelaku yang sebenarnya.
Para siswa dan siswi kini ikut berlari mengikuti langkah polisi itu, nampaknya mereka penasaran dengan proses penangkapan bara.
Pak Ahmad berlari dan segera memeluk tubuh Ken, tak lupa juga ia mencium dahi Ken dengan penuh sayang. Ken sekarang aman dan itu semua berkat gadis gendut yang telah ia hina di dalam ruangannya beberapa hari yang lalu.
Ken menoleh menatap Weva yang berdiri agak jauh beberapa langkah darinya.
Ken sama sekali tak menyangka jika gadis yang sering ia bully itu mau membantunya keluar dari masalah ini. Jika tak ada Weva maka Ken mungkin sudah masuk ke dalam mobil dan membuatnya menangis di dalam penjara.
Apakah ia harus minta maaf atau mengucapkan kata terima kasih terlebih dahulu kepada Weva?
Ken melangkah lebih dekat dengan Weva dengan tangan yang masih terborgol serta tatapan bersalahnya menatap Weva.
Weva melangkah mundur setelah menyadari Ken ingin mendekatinya. Weva segera berlari ke arah Wiwi yang nampaknya sudah berdiri di sana sejak tadi.
"Ayo, Wi!" ajaknya yang langsung meraih tangan Wiwi dan menariknya.
Ken ingin berteriak untuk menyuruh Weva berhenti, tapi Ken sadar apa yang telah ia lakukan kepada Weva sangat menyakiti perasaannya.
Apakah ini kesalahan yang selama ini ia lakukan kepada gadis gendut itu bisa dimaafkan?
__ADS_1