Princess Endut

Princess Endut
95. Ice Cream


__ADS_3

Weva tertawa sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya. Niatnya hanya untuk mencairkan suasana dan tidak membuat Ken marah, tapi wajah datar Ken membuat Weva lemas.


"Enak banget lo, ya? Gue mati-matian nunggu lo di sana dan ternyata lo malah enak-enakan makan bakso di sini."


Weva hanya mampu tertunduk. Kena marah lagi dia.


"Lo itu ahhh," kesal Ken meremas dahinya yang terasa panas dan pining.


Rasanya ia begitu sangat kesal dengan hal ini. Harus apa ia sekarang. Jika memukul orang tidak dosa maka sudah sejak tadi ia memukul gadis ini.


"Heh, gendut! Gue itu nyuruh lo lari bukan makan bakso di sini."


Semua orang yang berada di tempat sekitar gerobak kini menghentikan aktivitasnya dan menatap serius ke arah Ken serta Weva yang hanya mampu tertunduk.


"Bisa nggak, sih lo ngedengerin apa yang gue suruh? Bisa nggak?"


"Weva nggak-"


"Diam lo! Nggak usah ngejawab!" potong Ken membuat Weva terdiam. 


Weva menyentuh bibirnya yang telah berbuat salah karena telah berani menjawab. Ia melipat bibirnya ke dalam dan sesekali menatap Ken yang masih menatapnya.


"Aahhh nyebelin banget, sih lo."


"Gue nyuruh lo itu lari!"


"Lari, denger nggak lo?"


Weva mengangguk.  


"Terus siapa yang nyuruh lo makan? Siapa?"


"Wev-"


"Nggak usah ngejawab!" tegas Ken sembari menunjuk kesal membuat Weva kembali terdiam. 


Ting Ting Ting


Suara dentingan sendok di mangkuk bakso terdengar membuat Weva dan Ken menoleh secara bersamaan menatap pria penjual bakso yang nampak tersenyum menatap kedua arah keduanya. 


"Berantem, yah?"


"Nggak!" jawab Ken.


"Loh, tapi kok kayak berantem? Ehem, dari pada berantem terus putus mending makan bakso," saran pria itu membuat Ken dan Weva melongo.  


Putus!


Memangnya siapa yang pacaran di sini?


...****...


Ken menghentikan langkahnya yang menyeret Weva dengan susah payah.


"Ah ken!" Hempas Weva di pergelangan tangannya membuat Ken sedikit tersentak.


"Heh, Endut, lo itu-"


"Marah-marah melulu, sih Ken. Nggak usah marah, dong Ken! Weva kan cuman khilaf makan bakso tadi."

__ADS_1


"Khilaf?"


Weva mengangguk.


"Pesan empat mangkuk bakso itu khilaf?" tanya Ken sambil mengangkat empat jari tangannya.


"Yah, kan Weva baru makan tiga mangkok bukannya empat, jadi masih bisa di bilang khilaf, dong."


"Diam lo! Pusing gue ngomong sama lo."


"Weva juga pusing," jawab Weva dengan nada kecilnya.


"Ngomong apa lo?"


"Enggak," jawabnya sambil menggeleng.


"Sekarang lo lari di belakang gue!"


"Lari lagi?"


"Ya iya lah dan karena lo udah makan bakso empat mangkok maka dari itu kita lari sampai malam."


"Hah!!!" teriak Weva begitu terkejut.


...****...


Lebih dari lima menit Ken dan Weva berlari di pinggir jalan, hari ini kini sudah memasuki waktu sore, jadi suasana tak sepanas tadi ditambah lagi suasana area komplek yang kini begitu ramai dimana para penghuni komplek tengah bersantai di luar rumah bahkan ada beberapa yang juga sedang berlari-lari kecil dan sekedar melakukan gerakan pemanasan di depan dan di taman.


Weva yang telah sesak itu kini menghentikan larinya namun, kembali berlari setelah Ken berteriak di depan sana dan berhenti berteriak ketika Weva kembali berlari.


Setiap kali Ken berteriak membuat semua orang yang mendengar teriakan dari Ken akan menoleh dan menatap ke arah Weva, yah Weva memang selalu menjadi pusat perhatian saat ini. Entah berapa pasang mata yang telah melihat Weva di sini.  


Mata Weva berbinar indah menatap penjual ice cream yang berada di pinggir jalan membuat Weva menelan ludah.


Weva menoleh menatap Ken yang nampak masih berlari di depan sana dan tentunya ia tak sadar jika tak ada Weva di belakangnya yang ikut berlari.


Weva tersenyum lalu tertawa kecil dan berlari kecil menghampiri gerobak kecil yang nampak dihias dengan gambar ice cream yang nampak begitu nikmat berwarna pink dengan buah cherry segar di atasnya.


Weva berlari cepat menghampiri pria penjual ice cream yang disambut senyum hangat darinya.


Ken menoleh dan telah mendapati Weva yang telah hilang di belakangnya, Ken masih ingat jika ia menyuruh si gadis gendut itu untuk berlari mengikutinya. Tapi sekarang gadis itu malah menghilang entah kemana.


"Ice cream, dek?"


Weva mengangguk cepat. Kedua matanya yang masih berbinar itu menatap ke arah ice cream yang siap untuk dimasukkan ke dalam cup.


"Ada rasa coklat?"


"Ada, Adek mau berapa?"


"Tiga."


"Tiga?".l


Weva mengangguk lagi dan...


"Nah hemmmm," ujar Ken diiringi tangannya yang menjewer telinga Weva membuat Weva menjerit kesakitan.


"Ken?" kaget Weva setelah mengetahui siapa yang telah menjewernya. Bukan hanya Weva yang terkejut, tapi para pelanggan dan penjual ice cream itu juga ikut terkejut.

__ADS_1


"Di sini lo ternyata."


Ken menoleh menatap gerobak ice cream dan kembali menatap Weva.


"Oh, mau makan ice cream lo? Heh, gue nyuruh lo lari bukan makan ice cream!"


"Nggak cukup apa makan bakso? Sekarang ikut gue lo!"


Ken melangkah menarik Weva menjauh dari gerobak ice cream dan melepasnya setiba ia di jalan.


"Ah, Ken sakit tahu. kenapa, sih pakai jewer-jewer segala?" Kesal Weva sembari mengelus telinganya yang Ken jewer tadi, yah walaupun Weva akui jika ini tak sakit tapi tetap saja bagi Weva ini sudah termasuk bagian dari tindakan kekerasan.


"Malah nanya lagi lo."


"Siapa yang nyuruh lo pesan ice cream, hah?"


"Emang nggak boleh, ya?"


"Yah, nggak boleh lah, Maimunah."


Weva mendecapkan bibirnya kesal dan tertunduk setelah mendengar ujaran Ken. Maimunah, memangnya siapa itu Maimunah?


"Lo itu susah banget, sih dibilangin?".


"Ahhhh," kesal Ken dan kembali meremas dahinya yang telah lelah itu.


Weva hanya menghela nafas. Suka sekali pria ini marah-marah. Ken melirik sambil menopang pinggang.


"Minta maaf lo sekarang!"


"Sorry, Ken."


"Yang bagus!"


Weva mendengus kesal. "Weva minta maaf."


Ken hanya mengangguk. Perasaanya sudah cukup membaik.


"Lo tunggu di sini!" putus Ken lalu segera berlari menghiraukan Weva yang berteriak menanyakan kepergiannya.


"Ken!!! Ken mau kemana?!!"


Ken tak menjawab. Ia tetap berlari pergi meninggalkan Weva yang masih diam.


"Aneh banget, sih."


Weva menoleh menatap beberapa orang yang sedang menatapnya. Hah, rasanya ia jadi malu sendiri setelah keceplosan berteriak.


Lebih dari dua menit Weva duduk di pinggir jalan sembari ibdra penglihatannya yang tertuju pada arah jalan menanti Ken yang telah menyuruhnya untuk menunggu di sini.


Tak lama ken muncul dari kejauhan sambil  berlari ke arah Weva yang kini bangkit dari duduknya.    


"Ken dari mana aja? Kok, ninggalin Weva,?" tanya Weva setiba Ken di hadapan Weva.


"Dari rumah."


"Rumah? Kok, gitu, sih! Kalau Ken ninggalin Weva sendiri terus ada penculik yang mau culik Weva gimana?"


"Culik? Emang siapa yang mau culik lo? Lagian para penculik juga pilih-pilih."

__ADS_1


Weva hanya menghela nafas. Sadis sekali omongan Ken ini. Tak lama Ken mengeluarkan sebuah tali berukurang kecil lalu segera menarik pergelangan tangan Weva.


"Loh? Ken mau ngapain?" tanya Weva begitu histeris.


__ADS_2