
"Mommy?" bisik Weva pelan.
"Yah ketangkep!" ujar Ken yang meraih pergelangan tangan Weva.
Ken menatap Weva keheranan membuatnya ikut menatap apa yang menyebabkan Weva terdiam dengan wajah yang terlihat tegang dan pucat.
Ken melepaskan tangannya yang memegang pergelangan tangan Weva dan ikut menatap ke arah dua makhluk yang tengah menatapnya. Ken tahu dengan pria berambut keriting dan berseragam hitam itu. Dia adalah supir pribadi Weva, tapi dengan wanita berparas cantik itu. Entahlah Ken tak tahu dia siapa.
Baru pertama kali Ken melihat wanita itu. Namun sepertinya ia terlihat begitu menakutkan di mata Weva.
Sasmita melangkah mendekati Weva dan Ken yang sama-sama menatapnya sangat serius.
Weva mengigit bibir dengan raut wajah gelisahnya. Mungkin, Mommynya akan memarahinya lagi setelah tak kunjung pulang di jam yang kini telah menunjukkan pukul sebelas malam.
Weva tak mau lagi berdebat dengan Sasmita. Rasanya itu sangat melelahkan.
Sasmita menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di hadapan Weva dan Ken yang masih diam. Sasmita menatap serius ke arah wajah kedua makhluk yang satu berwajah gelisah dan yang satu berwajah kebingungan.
"You-"
"Mommy, Weva minta maaf," ujar Weva cepat memotong ujaran Sasmita sebelum Sasmita benar-benar marah kepadanya.
Sasmita menatap heran membuat Weva tertunduk takut.
"Weva minta maaf, Mom. Weva minta maaf karena hari ini udah jam sebelas malam, tapi Weva belum pulang."
Weva merapikan kaca matanya dan kembali bicara, "Mommy, Weva minta maaf. Mommy jangan marah sama Weva!"
Ken melirik Weva dengan tatapannya yang tak menyangka jika Weva memanggil wanita berwajah cantik yang ada di hadapannya ini dengan sebutan Mommy. Apakah wanita cantik ini benar Ibu kandung dari Weva?
Sasmita tersenyum dan mengelus pipi tembem Weva membuat Weva terheran. Mommynya tidak marah malam ini seperti apa yang telah dilakukannnya di malam itu.
"Why, Weva? You Kenapa minta maaf segala sama Mommy?"
"Mommy kok-"
"Tuh kaca mata kamu kotor begini," potong Sasmita sembari menyentuh permukaan kaca mata Weva yang Weva kenakan.
Sasmita menggerakkan kepalanya menatap Ken yang tersenyum membalas senyuman yang Sasmita berikan kepadanya.
"Ini Ken, yah?" tunjuknya.
"Iya kak" ujar Ken ragu.
Sasmita tertawa setelah mendengar pria bertubuh tinggi dan berparas tampan ini memangilnya dengan sebutan Kakak.
"Loh, kok you manggil I kakak? Nggak usah panggil Kakak, dong! Aunty ini udah tua, loh."
"Oh ya?" Tatapnya tak percaya.
"Iya, dua bulan lalu Aunty udah ngerayain ulang tahun Aunty yang ke 48," jelas Sasmita memberitahu.
__ADS_1
"Hah? 48 Kak? Eh, maksudnya-"
"Aunty Sasmita."
"Ah, iya Aunty. Aku kira umur kakak, eh maksudnya Aunty baru 25 tahun."
"Masa? Aunty nggak semuda itu, loh."
"Wah pasti Kakak, eh maksudnya Aunty sering olahraga, yah?"
"Wow, seratus buat you dan yang paling terpenting perawatan, huhuy."
Ken tertawa menanggapi ujaran sasmita membuat Weva hanya terpatung di samping Ken seakan tak dianggap kehadirannya.
"Ehem."
Ken dan Sasmita menoleh menatap Weva yang terdiam dengan wajah datarnya.
"Asik banget, sih ngomong sampe lupa sama Weva?"
"Iya,deh sorry," balas Sasmita.
"Yuk, ah pulang!" ajak Weva sembari menarik pergelangan tangan Sasmita.
"Tunggu dulu, Wev! Mommy mau ngomong dulu sama Ken."
Weva mendecakkan bibirnya kesal dan segera melepas pegangan tangan Sasmita.
"Loh, Wev, Where are you going?!!" teriak Sasmita menatap Weva yang semakin menjauh.
"Neraka!" jawab Weva.
"Berati neraka itu beta, kah Nona?" canda pak Walio sembari membuka pintu mobil.
Weva tak menjawab melainkan ia hanya terdiam dan segera melangkah masuk ke dalam mobil.
Sasmita menggeleng dan menatap kembali Ken yang nampaknya sedari tadi menatap kepergian Weva.
"Ken," panggil Sasmita.
"Ya kak, eh maksudnya Aunty."
Sasmita tersenyum dengan suara tawa kecilnya.
"Terima kasih, yah."
Ken mengkerutkan dahinya heran.
"Terima kasih untuk apa Aunty?"
"Terima kasih untuk senyum dan tawa Weva," ujar Sasmita dengan nada lemahnya.
__ADS_1
"I tahu berat rasanya mengalami apa yang Weva rasakan."
"Jujur I nggak pernah dibully disaat I sekolah dan bahkan I yang selalu membully orang-orang di sekolah."
"Salah satu orang yang selalu I bully adalah temen sekolah I yang bertubuh sangat gendut mungkin ini karma untuk I yang selalu membully temen I sehingga anak I jadi gendut seperti itu."
Sasmita menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan lewat mulutnya.
"Mommy!!!" teriak Weva membuat Sasmita menoleh.
"Ayo, pulang!!!" teriaknya lagi.
"Tunggu!"
Sasmita kembali menoleh menatap Ken yang terdiam.
"Weva itu putri satu-satunya I."
Sasmita menghembuskan nafas panjang dengan tatapannya yang nampak begitu sangat sedih.
"I merasa kalau I nggak bisa kasih Weva kebahagian. I hanya selalu kasih Weva kesedihan."
"I secara tanpa sadar melupakan Weva. I nggak tahu kalau dengan cara I yang selalu menolak Weva untuk ikut ke acara keluarga atau sekedar jalan-jalan itu bisa membuat Weva jadi tertekan. Tapi, ini I lakukan demi kebahagiaan Weva."
"Ini demi kebahagiaan Weva. I cuman nggak mau kalau temen-temen I itu mengejek fisik Weva dan menertawakan Weva."
"I nggak mau."
Suasana kini kembali sunyi membuat Ken hanya mampu tertunduk hingga tak berselang lama Ken mengangkat pandangannya menatap Sasmita setelah mendengar isakkan tangis kecil dari bibir cantik milik Sasmita. Sudah jelas kalau Sasmita sekarang sedang menangis.
Ken paham apa yang Sasmita rasakan dan air mata itu menandakan jika, Sasmita sangat peduli dengan Weva.
"Baru pertama kali Aunty ngeliat Weva tersenyum dan ketawa kayak tadi."
"Ah, sorry. Aunty dari tadi ada di pinggir lapangan dan ngeliat kalian berdua."
"Seumur hidup Aunty, Aunty nggak pernah melihat Weva sebahagia ini. Dan you berhasil membawa kebahagian di hati Weva."
"Ken! I akui kalau hati Weva itu rapuh dan bahkan nyaris hancur, tapi untung ada you yang bisa membuat hati Weva jadi utuh lagi."
Sasmita tertawa setelah air matanya berhasil mentes membasah pipinya yang terlihat begitu mulus.
"Tuh, kan Aunty jadi nangis lagi," ujarnya sambil merogoh saku jas hitam yang ia kenakan dan mengeluarkan sapu tangan putih.
Sasmita mengusap pipinya yang basah itu sambil tersenyum menatap Ken yang ikut tersenyum.
"Sorry. I nangis di depan you."
"Nggak apa-apa, Aunty."
"Sekali lagi terima kasih, yah Ken. Aunty berharap banyak sama kamu," ujar Sasmita dan melangkah pergi menuju Weva.
__ADS_1
Ken terpatung di tempatnya berdiri menatap mobil hitam yang Sasmita, Weva dan pak Walio tumpangi beranjak pergi meninggalkan Ken sendiri di tengah lapangan.