
"Woy!!!" teriak Wiwi.
"Aaa!!!" jerit Weva yang begitu sangat terkejut dan ia menoleh menatap Wiwi dengan tatapan tak senang.
"Wiwi kenapa, sih?"
"Ya, lo yang kenapa? Kok, lo ngeliat ke sana mulu?"
"Nggak, kok."
"Emmm, atau jangan-jangan lo kayak gini karena Ken?" tebaknya membuat kedua mata Weva terbelalak.
"E-enggak!"
"Ah, yang bener lo?" Tatapnya dengan goda sembari menunjuk ke arah wajah Weva yang nampak memerah.
"Apaan, sih, Wi?" Hempas Weva menghindar dari telunjuk Wiwi yang kini terasa mempusatkannya secara terang-terangan.
"Terus lo kenapa ngeliatin Ken kayak gitu?"
"Siapa yang ngeliatin si Ken? Orang, sih Ken nggak ada. Mana si Ken?Hem, mana? Nggak ada, kan?"
"Emang sekarang nggak ada. Lo kira gue buta terus nggak ngeliat lo dari tadi ngeliat bekas Ken lewat."
Weva terdiam, disusul Wiwi yang kini menatap Weva dengan tatapan penuh curiganya. Wiwi tersenyum sambil menunjuk Weva yang langsung mengernyit bingung.
"Apa, sih?"
"Lo sama Ken sekarang kenapa?"
"Kenapa?"
"Yah gue tanya sama lo, Wev. Masa lo nanya balik ke gue?"
Weva terdiam dan tak berselang lama ia melangkah masuk ke ruangan kelas lalu duduk dan membaringkan kepalanya di meja, Tempat duduk Weva yang sebenarnya.
"Lo kenapa, sih, Wev?" tanya Wiwi yang kini ikut duduk di samping Weva.
Weva tak menjawab. Ia diam seperti patung dengan tatapannya yang menatap Wiwi.
"Lo berantem, yah sama si Ken?"
Suasana hening menyisakan Wiwi yang terdiam menatap Weva dengan wajah penasarannya.
"Ayo, dong Wev dijawab!" suruh Wiwi sembari mengguncang tubuh gendut Weva.
"Aduh, apa?"
"Ish, kok apa, sih?"
"Yah, apa? Weva, kan nggak ngerti," tanya Weva yang kini menatap Wiwi yang nampak tersenyum.
"Lo sama Ken berantem, yah?"
Weva terdiam dengan wajah datarnya yang menatap ke arah Wiwi.
"Yah, soalnya gue liat lo sama Ken sekarang nggak berangkat sekolah barengan, duduk barengan dan-"
"Dan?" tanya Weva.
__ADS_1
"Dan nggak barengan lagi. Kan biasanya lo sama Ken apa-apa selalu barengan. Lo sama Ken kenapa, sih? Berantem beneran?"
Weva tertunduk menatap permukaan meja dengan diam diiringi hembusan nafas panjang yang ia lakukan.
"Weva udah mutusin kalau Weva nggak mau lagi minta bantuan Ken buat nurunin berat badan Weva," jelasnya dengan nada suaranya yang kini melemah.
Mendengar hal itu membuat Wiwi ikut tertundulk dengan wajah sedihnya.
"Ini karena gue, yah Wi?"
"Nggak," bantah Weva cepat.
"Iya, Wev, ini pasti karena gue yang udah marah kemarin sama lo."
"Nggak, kok Wi. Ini bukan karena Wiwi," bantah Weva sembari menyentuh punggung tangan Wiwi dengan lembut.
"Wev, gue beneran minta maaf dan masalah gue kemarin marah-marah sama lo, yah itu karena geng alay yang udah ngehasut gue," jelasnya.
"Geng alay?"
"Yah, masa lo nggak ngerti? Yah itu si mut-mut!" sorak Wiwi di akhir Kalimatnya mengikuti jeritan manja yang selalu dilakukan oleh geng Sangmut.
Weva mengangguk.
"Mereka ternyata sengaja ngehasut gue biar gue marah sama Lo dan ujung-ujungnya sekarang Lo nggak nurunin berat badan lo lagi."
"Wev."
"Emmm," sahutnya.
"Gue minta maaf, yah Wev."
"Loh? Terus apa, dong?"
Weva menghembuskan nafas panjang dan menatap ke arah ruangan kelas dengan tatapannya yang memastikan jika tak ada Ken di sana.
"Ken itu kalau ngomong suka nggak di kontrol," bisik Weva.
"Dia itu nggak punya hati, perasaan atau rasa peduli."
"Yang bener?" tanya Wiwi begitu antusias.
Weva mengangguk cepat meyakinkan Wiwi dengan tatapan antusiasnya.
"Tapi, jujur, sih Wev sekarang lo agak agak kurusan."
"Ah?"
"Iya, maksudnya lo nggak kayak dulu lagi yang gendut banget. Sekarang jujur, yah Wev, badan lo sekarang ada perubahan," ujarnya dengan wajah serius.
"Yang bener, Wi?"
"Iya, masa gue bohong sama lo."
Weva tersenyum kegirangan sembari menatap seluruh tubuhnya. Weva akui selama ia bersama Ken, Weva merasa jika tubuhnya terasa ringan. Berbeda sebelum ia bersama dengan Ken, rasanya tubuhnya terasa berat untuk di gerakkan bahkan berjalan sedikit pun terasa sangat sesak.
"Wev!" panggil Wiwi membuat Weva menoleh menatap Wiwi yang masih menatapnya dengan wajah penuh keseriusan.
"Gimana kalau lo minta bantuan lagi sama Ken."
__ADS_1
"Apa?"
"Iya, Wev. Nih, yah Wev. L dengerin gue! Lo baru beberapa hari ini nurunin berat badan lo sama si Ken. Coba Lo bayangin kalau Lo nurunin berat badan Lo sampai berbulan-bulan," bisik Wiwi penuh hasut.
"Tapi-"
"Lo bisa langsing Wev," ujarnya memotong ujaran Weva.
"Lo bisa langsing banget," tambah Wiwi lagi.
"Kayak lo?"
"Bahkan lebih dari itu."
"Kurus banget, dong itu namanya."
"Terserah, Wev, terserah! Yang penting lo itu nggak gendut kayak gini."
Weva terdiam berusaha untuk mencerna kalimat Wiwi yang terasa tergiang-ngiang di telinganya.
"Lo nggak inget apa? Apa yang Brilyan janjiin ke lo kalau lo langsing?"
Weva terdiam dengan bibirnya yang menganga serta tatapannya yang menatap ke langit-langit ruangan kelas.
"Brilyan-"
"Brilyan bakalan ngejer lo," bisik Wiwi.
"Brilyan bakalan ngejar Weva?"
"Iya Wev dan inget pak Ahmad," bisik Wiwi dengan nada berbksik.
"Pak Ahmad-"
"Iya Wev," potong Wiwi membuat Weva menoleh menatap Wiwi dengan tatapan yang terpesona.
"Pak Ahmad bakalan ngizinin lo buat.ikut olimpiade dan yang paling terpenting adalah-"
"Adalah?" tanya Weva penasaran.
"Geng Sangmut."
"Geng Sangmut?" Tatapnya heran.
"Iya geng Sangmut, kumpulan hewan aneh itu. Lo tahu nggak, sih? Mereka yang sok imut itu nggak mau ngeliat lo langsing makanya mereka ngehasut gue biar gue marah sama lo terus buat lo tertekan dan ujung-ujungnya lo nggak semangat buat nurunin berat badan lo," jelas Wiwi begitu lancar.
"Jadi gimana, dong, Wi?"
"Wev!" Sentuh Wiwi dengan erat di bahu Weva yang tersentak kaget.
"Gue pikir lo seharusnya minta bantuan lagi, deh sama si Ken," usul Wiwi.
"Tapi-"
"Udahlah Wev!" teriak Wiwi membuat beberapa murid yang tengah duduk di kursinya masing-masing langsung menoleh menatap Weva dan Wiwi yang kini saling bertatapan, yang satu dengan tatapan penuh hasut dan yang satu hanya menatap penuh kebingungan.
"Ini itu demi kebaikan lo juga," bisiknya lagi.
Weva kini terdiam dengan pikirannya yang mencerna kembali ujaran Wiwi yang kini benar-benar menghasutnya.
__ADS_1
"Gimana Wev? Lo mau, kan nurunin berar badan lo lagi?" tanya Wiwi sembari menggerakkan naik turun kedua alisnya.