
11:00, siang
Ken menghentikan motornya lagi ketika ia melanjutkan jalan-jalannya yang ia penuh dengan beban. Bukan beban hidup, tapi kali ini beban pada perutnya rasakan penuh kekenyangan setelah memakan jatah Weva. Harus bagaimana lagi jika, ia tak melakukan hal itu maka berat badan Weva akan bertambah dan membuat perjuangan selama tujuh hari itu terlewat secara sia-sia.
"Ken! Kita kemana lagi sekarang?"
"Terserah yang penting nggak berhubungan sama yang namanya makanan!" jawab Ken membuat Weva mendecakkan bibirnya kesal.
Sebenarnya Weva baru saja kembali berfikir dan berniat untuk mengajak Ken ke warung soto, tapi belum apa-apa Ken sudah mengatakan hal peringatan ini lagi.
Rasanya juga percuma ia mampir ke warung bakso milik Mas Tono, toh ujung-ujungnya yang Weva dapat hanya kuah dan beberapa helai mi kuning. Siapa yang kenyang sekarang? Ken atau Weva? Sudah pasti pria itu yang kenyang.
Weva juga bahkan tak menyangka Ken bisa makan sebanyak itu. Ini sebuah kesedihan bagi Weva yang tak mampu merasakan nikmatnya bulatan bakso buatan Mas Tono yang telah lama ia rindui.
"Ken!"
Tak ada jawaban dari Ken walau sebenarnya ia bisa mendengar suara Weva yang masih terdengar walau beradu dengan suara kendaraan yang melintas.
"Kita jalan-jalan keliling Jakarta aja, yah? Perasaan dari tadi nggak berhenti-berhenti."
"Emang mau lo apa? Ini kan udah jalan-jalan namanya."
"Iya, sih jalan-jalan, tapi kalau cuman sekedar keliling Jakarta Weva udah bosan."
Ken menghela nafas berat.
"Kalau gitu lo maunya apa?"
"Em," jawab Weva.
"Aa?"
"Terserah Ken!!!" teriak Weva.
Motor kini melaju dengan kekuatan cepat menghasilkan asap yang membumbung hitam bersamaan dengan erangan suara motor Vespa. Weva memeluk Ken erat lewat lingkaran tangan di pinggang Ken yang terasa hangat.
Weva memejamkan kedua matanya yang tak kuasa melawan tiupan angin kasar yang menghantam wajahnya. Hari ini dengan bodohnya ia melepas kaca mata bulatnya dan lebih memilih menyimpannya di dalam tas.
Weva mencoba untuk membuka mata berusaha melihat jalanan yang di lintasi oleh Ken, tapi sayangnya yang Weva lihat hanyalah sebuah perkelahian angin yang menghalangi pandangannya. Mungkin kalau Tante Laila tahu Ken membawa motor dengan kecepatan yang seperti ini mungkin Laila sudah pingsang.
Weva tak mengerti. Mungkin pria ini berniat untuk mengerjai Weva dengan melajukan motornya atau Ken memang suka melakukan hal ini.
"Ken!!!" teriak Weva.
Ken tak mendengar teriakan Weva di belakang sana. Membuat Weva yang geram itu segera melepaskannya lingkaran tangannya dan menepuk kasar punggung Ken.
"Apa?!!" teriak Ken.
Motor kini menepi seiring Ken yang memelankan laju motornya. Ken mengangkat kaca helm dan menoleh menatap Weva.
"Lo kenapa, sih? Dari tadi nggak pernah diem? Bisa nggak lo duduk dan diem aja? Nggak usah berisik!"
"Ken, tuh yang kenapa? Malah nyalahin Weva lagi."
__ADS_1
"Ken sengaja, yah balap-balap terus kita jatuh dari motor terus mati, iya mau?"
"Weva ini mau langsung bukan mau mati. Kalau Ken yang mau mati, ya udah turunin Weva di sini aja terus Ken mulai, deh balapnya. Nggak usah ngajak Weva!" sambungnya.
Ken menatap heran. Ini bukan seperti apa yang ada di pikirannya. Memangnya siapa yang ingin mati.
"Iya, kan?"
"Nggak. Gue nggak ada niat kayak gitu. Otak lu aja, tuh yang selalu negatif."
"Terus apa?"
"Nggak ada. Lagian gue udah lama nggak ngetes motor gue."
"Yah, tapi nggak ngebut di jalan juga, dong! Apa lagi kan ada Weva. Ken mau Weva mati, ya,?"
Ken masih terdiam menatap Weva dengan wajah heran.
"Weva ini nggak mau mati. Kalau Weva mari Weva nggak bisa lagi ngeliat Brilyan."
Wajah heran itu mendadak berubah menjadi wajah tak suka lagi-lagi Weva menyebut nama pria itu.
"Oh gitu maksud lo. Ya udah kalau gitu lo aja yang bawa ni motor!"
Weva mendadak terdiam dengan apa yang baru saja Ken katakan. Dibonceng saja ketakutan, apa lagi kalau Weva sendiri yang menjalangkannya. Jujur Weva tak tahu melakukannya.
"Kenapa lo?"
Weva yang semula terdiam itu mendadak tersenyum dengan wajahnya yang terlihat bodoh.
Ken mendesis kesal setelah mendengar hal itu dan tak berselang lama senyum Ken muncul seiring Ken menatap ke arah Weva dengan tatapan yang penuh dengan rencana.
"Gue punya ide buat lo," bisik Ken serta tatapan jahilnya.
...****************...
"Fokus, Wev!" pinta Ken yang kini tengah berada di belakang motor sembari mendorong motor yang kini Weva tunggangi.
Bukan cara yang mudah untuk merayu Weva agar mau belajar mengendarai motor. Ken bahkan sampai berjanji membelikan Weva ice cream jika mau belajar.
Weva menelan ludahnya yang terasa kering di kerongkongan itu setelah sedari tadi berteriak ketakutan. Entah sudah berapa nama yang Weva sebut ketika ia merasa ketakutan. Dari nama Mommy sampai Nenek buyutnya, semuanya Weva sebut satu persatu.
"Digas Wev!!!"
Weva yang menunduk itu melirik kanan kiri dengan wajah pasang cemasnya.
"Yang mana?" tanya Weva panik.
"Masa lo lupa? Kan tadi gue udah kasih tau."
"Kan Weva lupa."
"Itu di tangan lo."
__ADS_1
"Yang mana?"
"Heh, ini di hidung gue!" Kesalnya sambil menunjuk ke arah hidungnya.
"Hidung siapa?" tanya Weva lalu ia menoleh menatap Ken yang sudah berkeringat.
"Heh, gendut! Itu di tangan lo!"
Kesal Ken tanpa pernah melepas bagian belakang motor yang sedari tadi dikendalikan oleh Weva dengan kakinya yang mendayung seperti anak kecil yang baru pertama kali ingin belajar mengayuh sepeda.
"Liat ke depan!"
Weva dengan cepat memutar kepalanya dan kembali menatap jalanan. Dimana dari sini terlihat banyak orang yang tengah menatapnya.
"Gas!"
"Yang mana?!!!" teriak Weva setengah menangis.
"Itu di tangan lo! Lo ngerti nama bagian anggota tubuh nggak, sih? Tangan lo!"
Weva mengerakkan bola matanya menatap kedua tangannya yang memegang stang motor.
"Yang ini?" tanya Weva mengetuk keras stang sebelah kiri.
"Yang kanan!"
Weva kembali melirik dengan wajah mempiasnya lalu mengetuk kembali stang motor sebelah kanan.
"Yang ini?"
"Iya, cepetan gas, tapi pelan-pelan aja!"
Weva mengangguk dan segera mengerakkan tangannya membuat laju motor itu meningkat. Motor itu melaju begitu sangat cepat meninggalkan Ken yang terbelalak di belakang sana dengan kedua bibir yang terbuka.
"Weva!!!" teriak Ken.
Bruak!!!
...****************...
Weva dan Ken kini terdiam menatap motor Vespa biru kesayangan ken yang sudah penyok di bagian depan dan kini tengah diperbaiki oleh seorang pria tua di sebuah bengkel terdekat yang tak jauh dari tempat dimana Weva jatuh.
Tak ada luka yang Weva dapatkan setelah kejadian tadi hanya saja Motor Vespa Ken yang kini menderita.
Weva melirik menatap Ken yang menatap sedih motornya. Harus bagaimana lagi, Weva tak sengaja melakukannya.
Ini ketidak sengajaan.
Weva yang mengusap jejari tangannya yang berkeringat itu kembali melirik Ken yang masih diam.
"Ken," panggil Weva dengan nada berbisik.
__ADS_1
"Diam lo!" pinta Ken tanpa menoleh menatap Weva yang kembali menunduk.
"Sorry, Ken," bisiknya lagi.