
Ken semakin melajukan kecepatan motor vespanya yang telah mengeluarkan asap hitam pada lobang kanlpot. Ken tak mengerti apa yang akan terjadi pada motornya jika ia terlalu memaksanya untuk melaju kencang, yang Ken inginkan adalah ia harus tiba di sana.
Ken mengernyitkan keningnya disaat motornya tersentak-sentak diiringi hilangnya suara mesin motor vespa milik Ken. Ken menepi di siring jalan menatap motornya itu dengan bingung.
"Duh, lo kenapa lagi, sih?"
Ken melangkah turun. Menstrarter motor vespanya itu dengan cepat dan terburu-buru namun, tak berhasil membuat mesin motor itu kembali menyala.
"Aduh!" kesal Ken.
Ia mengusap rambutnya dengan kesal dan memukul jok motornya setelah ia melihat tangki motornya yang kosong
"Hah! Kenapa lo harus berhenti di sini, sih?"
"Disaat-saat seperti ini bensin lo malah habis. Brengsek," umpat Ken.
...***...
"Soal selanjutnya, apa nama sisa peradaban masa lalu berupa sampah dapur di sepanjang Pantai Timur Sumatra?"
Triing!!!
"Yap! SMA Bakti Negara!"
"Sultan Daeng Radja!"
"Salah!"
Triing!!!
"Cendrawasih Internasional School!"
"Kjokkenmodinger," jawab Brilyan setelah menekan bel.
"Benar!"
Johan tersenyum bangga. Ia menghembuskan nafas sesak pada dadanya. Ia sangat takut jika putranya itu tidak menang pada perlombaan ini.
"Bos, itu pasangan si Brilyan nggak pernah jawab! Sekali ngejawab jawabannya salah."
__ADS_1
"Cuman numpang nama aja kali tuh dia, bos," bisik bodyguard membuat Sasmita, Burhan, Wevo, Tante Ina, Wiwi, Nenek Ratum dan pak Walio menoleh menatap ke arah Johan dan dan dua bodyguard yang ada di sampingnya.
"Heh! Ko bilang apa tadi?!!" teriak pak Walio yang langsung bangkit dari kursi penonton dan menunjuk ke arah Johan.
"Woy! Apa urusan lo?!!" teriak salah satu bodyguard milik Johan yang juga ikut bangkit dari kursi sambil menopang pinggang.
"Ya, ini urusan beta. Perempuan yang di atas itu adalah Nona beta, tau?" geretaknya tak mau kalah.
Para penonton, juri dan panitia menoleh menatap ke arah kursi penonton membuat Wiwi kembali menutup wajahnya.
"Perhatian! Untuk para penonton diharapkan untuk duduk kembali dan tolong jangan membuat keributan di sini!"
Pak Walio kembali duduk setelah Wiwi menariknya untuk duduk ke kursi dan kembali memarahi Dadynya itu lalu sekali lagi menyuruhnya untuk berhenti mencari gara-gara.
Suasana kini mendadak sunyi. Salah satu juri kembali mendekatkan microfon ke arah mulutnya yang telah siap membaca pertanyaan berikutnya.
Brilyan memejamkan kedua matanya sejenak dengan erat. Ia kembali membukanya dan kembali meletakkan jemari tangannya itu di atas bel.
"Pertanyaan-"
"Semangat Nona Weva!!!" teriak pak Walio membuat semua orang tersentak kaget dan dengan serentak menoleh menatap pak Walio yang tersenyum lebar.
"Pak! Bapak yang punya rambut keriting! Bapak keluar saja, pak!" Tunjuk panitia dengan kedua mata yang melotot.
Ia menghembuskan nafas berat. Menopang pinggang sambil menatap ke arah jalan raya.
"Pak!" teriak Ken yang melambaikan tangannya ke arah angkot merah yang mendekat.
Angkot merah itu terhenti membuat Ken sedikit membungkuk untuk bertemu pandang dengan sang supir.
"Mau ke stadion mini, pak?"
"Stadion mini?"
"Iya. Bapak mau ke sana nggak?"
"Iya mau."
"Antar saya ke sana, ya pak!"
__ADS_1
"Iya, iya! Naik!"
Mendengar hal itu membuat Ken dengan cepat menaiki angkot yang kini melaju dengan kecepatan sedang membuat Ken mendecapkkan bibirnya tak sabaran.
"Pak! Ini bisa cepetan dikit nggak, sih, pak?"
"Waduh, nggak bisa, dek. Nanti penumpang yang lain malah ketakutan kalau jalannya cepat. Belum lagi kalau ada penumpang yang mau naik, ya pasti kudu berhenti."
Belum lama pria itu bicara angkot yang Ken tumpangi itu berhenti menepi di siring jalan.
"Loh? Kok, berhenti, pak?"
"Yang kayak tadi saya bilang kalau ada penumpang yah pasti angkotnya berhenti," jelasnya.
Ken menoleh menatap ibu-ibu yang melangkah naik ke dalam angkot. Ken yang merasa kesal itu tanpa pikir panjang melangkah turun dari angkot dan memilih untuk berlari membuat para penumpang dan sopir itu menoleh menatap kepergian Ken.
"Dek! Mau kemana?!!"
Tak ada jawaban. Ken sudah cukup jauh pergi meninggalkan angkot. Pandangan Ken tajam menatap ke arah jalan. Para pedagang melongo setelah melihat Ken yang berlari melintasi para pedagang pinggir jalan.
Kali ini ia harus cepat sampai. Tak peduli pada semua orang yang sedang melihatnya. Lari Ken semakin kencang setelah melewati gerbang membuat kedua matanya yang terasa perih setelah terkena air keringat itu melihat bangunan stadion mini yang berada di depan sana.
Ken berlari masuk ke dalam pintu utama. Ia menyentuh permukaan pintu dengan nafas yang ngos-ngosan. Bibirnya terbuka berusaha untuk mengatur nafasnya yang begitu sesak. Wajahnya memerah karena kehabisan nafas.
Ken meneguk salivanya yang mengalir paksa pada permukaan tenggorokannya yang terasa mengering. Kedua matanya yang terasa panas itu menatap ke arah panggung mendapati sosok Weva yang terlihat mematung di atas panggung.
"Pertanyaan selanjutnya, 25 % jika diubah ke bentuk pecahan biasa menjadi?"
Triing!!!
"1⁄4," jawab Brilyan.
"Benar!!!"
Weva menghembuskan nafas berat. Kakinya seakan tak mampu lagi untuk bertahan di atas panggung ini. Ia benar-benar tak mampu berpikir sekaran.
Ken mengernyitkan dahinya. Ia menatap bingung pada raut wajah Weva yang terlihat sedih. Ken tau betul bagaimana dengan perasaan Weva sekarang.
Suka mengeluh. Yah, gadis gendut itu bisa saja berubah menjadi langsing sekarang tapi tidak akan pernah membuat sifatnya berubah.
__ADS_1
Weva tetap akan menjadi Weva gendut yang ia kenal dulu. Ken tak boleh tinggal diam, dia harus berbuat sesuatu.
"Weva!!!" teriak Ken.