Princess Endut

Princess Endut
193. Perubahan


__ADS_3

"Weva!!!" teriak Ken.


Kedua mata Weva membulat setelah mendengar suara Ken yang entah sosoknya sedang berada di mana. Kedua matanya menatap ke segala arah mencari sosok pria yang sejak tadi ia nantikan.


Kedua iris mata itu berhenti bergerak setelah mendapati sosok tangan yang melambai. Senyum Weva merekah indah menatap bahagia pada Ken yang terlihat tersenyum lebar ke arahnya.


"Ken," bisik Weva.


Bibirnya bergetar menahan tangis. Rasanya ia ingin menangis sekarang juga. Ken mengernyitkan dahinya menatap raut wajah Weva yang terlihat sedih.


Ken tetap tersenyum tulus. Ia menunjuk ke arah mata kanannya lalu menggeleng pelan berusaha untuk memberitahu Weva untuk jangan menangis.


"Jangan nangis!"


"Semangat! Gue ada di sini buat lo," ujar Ken yang menggerakkan bibirnya pelan agar Weva bisa mengerti apa yang ia katakan.


Weva tersenyum. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Weva mengangguk. Ia meletakkan jemari tangannya di atas tangan Brilyan bersiap-siap untuk menekan bel.


Brilyan melirik menatap jemari tangan lembut Weva yang berada di atas jemari tangannya. Hal ini membuat Ken tertunduk sejenak namun, dengan cepat pula ia kembali menatap Weva sambil tersenyum. Ia tak ingin melibatkan rasa kecemburuannya pada situasi yang seperti ini.


"Soal selanjutnya, Apa beda suspensi dan koloid?"


Triing!!!


Brilyan tersentak kaget setelah Weva memukul punggung tangannya yang langsung memerah menghasilkan suara bel.


"Cendrawasih Internasional School!"


"Koloid bisa lolos dari membran tapi suspensi tidak dapat lolos," jawab Weva dengan satu kali tarikan nafas.


"Benar!"


"Yeeees!" girang Ken dengan gigi yang menggerutu.


Semuanya memberikan tepuk tangan dan kali ini pak Walio terlihat diam di tempat duduknya. Ia sejak tadi ingin bersorak tapi Wiwi malah mempelototinya.


Weva tersenyum bahagia setelah juri mengatakan jika timnya kembali mendapat satu poin.


"Pertanyaan selanjutnya, Apakah Efek Tyndall itu?"


Triing!!!


Weva kembali menekan bel dengan penuh semangat membuat Brilyan meringis merasakan sakit pada punggung tangannya yang dipukul oleh Weva. Entah sengaja atau memang ia terlalu bersemangat dalam menjawab.


"Suatu berkas sinar yang menghambur disebabkan oleh partikel koloid."


"Disebut apakal dispersi zat padal maupun zat cair di dalam gas?"


Triing!!!

__ADS_1


Brilyan dengan cepat menjauhkan tangannya yang telah memerah itu. mengelus punggung tangannya yang memerah sambil menatap bingung pada Weva.


"Disebut Aerosol."


"Beri contoh zat emulsi!"


Triing!!!


"Santan, minyak ikan dan susu."


Brilyan masih melirik menatap bingung pada sosok Weva yang tiba-tiba saja mampu menjawab semua pertanyaan yang diberikan bahkan tak memberi kesempatan peserta lain untuk menjawab. Bahkan para peserta lain terlihat melongo melihat kecepatan Weva dalam menjawab pertanyaan.


"Pertanyaan yang terakhir untuk para peserta. Diharapkan untuk mendengar pertanyaan tesebut dengan baik."


"Siap-siap untuk para peserta!"


"Pertanyaannya adalah Jika 10 mililiter larutan Ba(OH)2 sebesar 0,15 M direaksikan dengan 40 mililiter larutan CH3COOH, berapakah jumlah konsentrasi CH3COOH?"


Mendengar pertanyaan tersebut membuat semua peserta merangkumkan jawaban pada lembar kertas. Ada juga beberapa peserta yang terlihat berdiskusi untuk bertukar pikiran.


Weva memejamkan kedua matanya, dahinya terlihat bertaut memikirkan jawaban. Tak berselang lama di tengah keheningan membuat kedua mata Weva yang sejak tadi terpejam dengan cepat terbuka. Ia menatap Ken sejenak dan menekan bel.


Triiing!!!


Brilyan menghentikan gerakan tangannya yang menulis cakaran di lembar kertas. Ia menoleh menatap Weva yang masih menekan bel dan begitu juga para peserta yang lain terlihat diam menatap ke arah Weva.


"Silahkan! Tim Cendrawasih Internasional School!"


Para juri masih terdiam dan kali ini suasana menjadi sunyi dan sepi, tak ada satu pun orang yang bicara.


"Bagaimana para juri?" tanya salah-satu panitia.


Wanita setengah baya yang merupakan salah-satu juri itu mendekatkan bibirnya ke depan microphone yang siap untuk menentukan benar dan salah.


Weva terdiam, detak jantungnya berdetak sangat cepat menanti penentuan para juri. Di bangku para penonton pendukung Cendrawasih Internasional School juga terlihat gelisah menanti penentuan.


"Benar!!!" teriak juri membuat Weva tersenyum bahagia.


"Satu poin untuk tim Cendrawasih Internasional School! Baiklah, sekarang waktu istitahat dan berikan kesempatan kepada pata juri untuk menentukan siapa pemenangnya."


Weva bernafas lega. Ia berlari turun dari panggung dan menghampiri Ken yang terlihat tersenyum menyambut kedatangannya.


"Ken! Akhirnya Ken datang juga. Weva senang banget Ken datang."


Ken mengangguk dan menoleh disaat Wiwi berlari dan memeluk Weva.


"Aduh, dikit aja gue jantungan. Untung lo datang Ken. Lo tau nggak, sih Ken tadi pas lo nggak ada Weva nggak bisa ngejawab pertanyaan tapi pas lo datang Weva jadi semangat."


"Wiwi!" tegur Weva yang mendaratkan satu pukulan ke lengan Wiwi.

__ADS_1


"Apa, sih? Emang bener, kan?"


"Loh? Why? Kok pakai main pukul-pukul?" tanya Sasmita yang menghampiri putrinya dan merangkul bahu Weva yang tersenyum.


"Mommy."


"Yes, Baby. Mommy seneng banget. You bisa ngejawab pertanyaan dengan cepat tadi."


"Tapi Weva minta maaf kalau nanti Weva nggak menang."


"Weva!" ujar Burhan yang menyentuh pipi Weva yang tersenyum dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Menang dan kalah Weva tetap menjadi juara di hati Papi."


"Cieeeee," goda Wiwi dan Wevo kompak.


Kedua mata Burhan membulat. Ia melirik menatap Wevo dan Wiwi bergantian sementara Wevo dan Wiwi terlihat tersenyum gugup.


"Cieeee, kompak!" ejek Burhan yang langsung menunjuk ke arah dua mahluk yang terlihat malu memerah itu.


Wiwi yang masih tersenyum simpul itu dengan diam-diam melirik menatap Wevo yang rupanya juga ikut menatapnya sambil tersenyum malu.


"Nona Weva!!!" teriak pak Walio yang menghampiri membuat mereka menoleh.


"Ah, Nona Weva ini bagus sekali cara jawabannya. Ini semua itu karena berkat doa beta, Nona jadi Nona itu dimudahkan dalam menjawab soal, bukan begitu Mama mertua?" ujar pak Walio dengan bangga membuat Nenek Ratum mengangguk setuju.


"Idih, apaan, sih Dady? Bukan malah mudahin tapi bikin keributan. Dari tadi nggak pernah berhenti teriak," kesal Wiwi yang melipat kedua tangannya di depan dada membuat Tante Ina tertawa kecil sambil mengeleng.


"Ken!"


Ken yang sejak tadi terdiam langsung menoleh menatap sosok kedua orang tuanya yang melangkah menghampirinya.


"Kamu ternyata ke sini. Katanya tadi nggak mau."


Ken tersenyum kecil. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Sekarang ia tidak tau harus menjawab apa.


"Oh, ini orang tuanya Ken, ya?" Tunjuk Sasmita lalu menjulurkan tangan.


Laila tersenyum lalu ikut membalas uluran tangan Sasmita.


"Iya, saya Laila, Mamanya Ken."


"Wah, pantas aja Ken ganteng, orang Mamanya cantik begini."


"Siapa dulu, dong Bapaknya," sahut pak Ahmad bangga sambil menepuk bangga bahu Ken yang hanya bisa tertawa kecil.


"Oh, kalau yang ini orang tuanya Klorin, ya?"


Burhan dan Sasmita menatap bingung. Ia menoleh menatap ke arah tunjuk Laila yang menunjuk ke arah Weva yang begitu takut.

__ADS_1


"Klorin?" Tatap Sasmita tak mengerti.


__ADS_2