
"Yah, udah. Cepetan ambil!" ujar Ken yang kini menjulurkan bekal itu ke arah Weva yang kini masih terdiam.
Ken menghembuskan nafas berat sambil menjulurkan bekal pink yang masih berada di tangannya. Gadis di depannya ini malah terdiam saat ia menjulurkan bekal itu.
"Malah diem, ini cepetan ambil!"
"Cepetan!"
"Ini ambil!" ujar Ken yang masih menjulurkan bekal itu dengan wajahnya yang nampak serius.
Weva terdiam dengan tatapannya yang masih curiga penuh selidik menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Ken. Apakah ini bukan tipuan bodoh Ken yang masih tetap akan mempermainkannya.
"Ayo ambil!" ujar Ken lagi.
Weva mendengus lalu, segera menggerakkan tangannya yang berniat untuk meraih bekal pink miliknya.
"Eits!"
Weva melongo. Sudah kubilang kan ini tipuan bodoh Ken yang kembali menarik bekal itu lalu Ken tertawa disusul decak tawa para penonton yang sedang menertawai Weva.
Menyedihkan sekali diri ini.
Ya Tuhan, bantu Weva mencekik leher Ken sekarang juga!
"Lo mau bekal ini? Hah?"
"Nggak semudah itu, Enduuuut."
Weva membulatkan matanya kesal. Ken kembali memanggilnya dengan nama itu.
"Nih, kalau lo mau," ujar Ken sembari menjulurkan bekal pink yang masih berada di tangannya.
Weva terdiam. Kali ini ia tak akan tertipu dengan apa yang dilakukan Ken olehnya. Ia tak boleh terpengaruh lagi dan jangan sampai dipermalukan yang kedua kalinya.
Ken tertawa lagi. Yah, wajah Weva lumayan lucu jika sedang kesal seperti ini.
"Lo mau bekal lo kan?"
Weva terdiam, jujur hatinya berteriak menginginkan bekalnya itu kembali, tapi ia tak ingin jika pria berandal ini kembali mempermalukannya.
"Nih!" ujar Ken sembari menjulurkan bekal itu.
Weva mengigit bibir, ragu. Apa ini serius? Dari segi wajah Ken, sepertinya ia serius. Dengan pelan Weva menggerakkan tangannya berniat untuk meraih bekalnya lagi.
"Eits!" Pancing Ken lalu tertawa cekikikan.
Yah Tuhan, sepertinya pria ini sudah tidak waras. Lihat saja wajahnya yang nampak begitu bahagia setelah mempermainkan Weva.
__ADS_1
Dia benar-benar gila!
"Kalau lo mau bekal ini, lo haruuuus joget!"
Weva melongo.
"Jo-joget?" Tatap Weva tak percaya.
Kedua matanya membulat dengan bibir yang menganga.
Semuanya tertawa, hiburan gratis apa lagi yang akan mereka saksikan di hari ini.
"Ayo joget!" pinta Ken.
"Lo mau bekal ini kan?"
Weva mengangguk.
"Ya, udah. Kalau lo mau bekal ini, sekarang juga lo harus joget! Cepetan joget!" pinta Ken.
"Ta-ta-tapi-"
"Heh, Wev!!! Ayo cepetan joget! Kayak gini nih," potong Roy lalu menggoyangkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan membuat semua orang tertawa, bahkan Wiwi yang mulutnya masih di tutup pun nampak tertawa walau terdengar samar.
"Joget!"
"Joget!"
"Joget!"
Weva menelan ludah. Ia menunduk sambil sesekali melirik ke arah kerumunan. Ia meremas jari-jari tangannya yang berkeringat dengan kedua ujung sepatunya yang saling beradu.
"Ayo cepetan! Kalau lo nggak mau, gue bakalan lempar bekal lo!" ancam Ken.
"Jangan!" tahan Weva cepat.
Ken tersenyum sinis, sepertinya ini akan berhasil.
"Ya, udah cepetan joget!"
Weva tertunduk sembari meremas roknya dengan perasaan bimbang. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Joget? Demi matahari yang suka ngeprank Ibu-ibu yang lagi jemuran kain yang katanya hujan, tapi nyatanya panas lagi. Weva benci dengan kalimat joget. Bagaimana bisa Weva joget di hadapan semuanya sedangkan Weva tak pernah melakukan hal bodoh itu.
Weva sangat malu untuk melakukan hal itu di hadapan semuanya, yah, Weva takut jika semuanya muntah setelah melihatnya berjoget seperti apa yang Weva rasakan.
Rasanya Weva ingin muntah setelah mencoba berjoget di depan cermin-nya. Jika cermin-nya boleh retak mungkin cermin-nya itu sudah retak.
"Ayo cepetan joget!" suruh Ken.
Weva menarik nafas berat lalu menghembuskannya dengan berat pula. Tuhan cobaan apa ini?
__ADS_1
Semuanya kini terdiam. Tatapan mereka fokus kepada Weva, mereka tak sabar melihat lemak Weva bergetar.
Weva menelan ludah lalu dengan rasa ragu ia menggerakkan bokongnya ke kiri dan kenan. Semuanya melongo. Goyangan macam apa ini? Ini tak ada bedanya dengan seekor gajah yang mengerakkan pantatnya karena gatal.
Beberapa detik kemudian suara ledakan tawa terdengar, yah, terdengar sangat nyaring untuk menertawai Weva. Weva menunduk malu, kali ini dia benar-benar bodoh.
Ken melipat bibirnya ke dalam, berusaha untuk menahan tawanya yang nyaris lepas begitu saja.
"Peeeep bhahahaha," tawa Ken akhirnya lepas membuat semuanya ikut tertawa.
Weva ingin menangis, tapi itu pasti akan membuat semuanya bahagia. Kesedihan Weva adalah kebahagiaan mereka semua. Apalagi yang bisa membuat mereka bahagia jika bukan karena membullynya.
"Cepat kembalikan bekal Weva!" minta Weva sambil menjulurkan tangannya ke arah Ken.
Ken tersenyum setelah menghentikan tawanya.
"Lo mau ini?" tanya Ken membuat Weva mengangguk.
Ken tersenyum lagi lalu mengangkat bekal itu, meninggikannya ke atas membuat Weva mendongak.
"Ambil sekarang! Kalau lo sampai?"
Kedua mata Weva yang mendongak menatap bekalnya itu dengan perlahan menoleh menatap kedua mata Ken yang menatapnya serius.
Weva menghela nafas lalu segera mengangkat kedua tangannya untuk meraih bekal itu membuat kedua kakinya berjinjit sekuat tenaga agar ia bisa meraih bekal itu.
Ken kembali tersenyum menatap Weva yang begitu sangat kesusahan hingga senyumnya tertahan ketika ia melihat gelang warna-warni yang ada di pergelangan tangan Weva.
Di satu sisi Wiwi nampak mematung menatap nanar sahabat tersayangnya itu. Sudah cukup! Wiwi sakit melihat ini membuatnya menghempas tangan Roy dan kevin.
Pegangan itu terlepas disusul Wiwi yang berlari lalu merampas bekal yang berada ditangan Ken tak lupa juga ia melepas kain yang telah menutup mulutnya.
Ken tersentak kaget melihat kelincahan gadis langsing dan super berisik itu yang tanpa sadar sudah berhasil memindah tangankan bekal pink yang sedari tadi dijadikan ancaman untuk Weva.
"Lari, Wev!" Panik Wiwi sembari menarik pergelangan tangan gemuk Weva dan membawanya pergi.
Weva hanya mampu mengikut, mengikuti setiap langkah Wiwi yang masih menariknya entah kemana. Terserah Wiwi, Weva hanya mengikut.
Bruk
Tubuh seseorang terhempas cukup keras ketika tubuh gemuk Weva berhasil menabrak 3 orang sekaligus yang telah menghalangi larinya.
Ya Tuhan, musibah apa lagi ini?
Lari Wiwi dan Weva terhenti lalu menoleh menatap 3 gadis yang nampak berserakan dilantai sambil meringis kesakitan.
Wiwi melongo menatap Weva yang ikut membelalakkan matanya. Demi dewa para Tapasya dan Ica di Uttaran, gadis gemuk ini selalu membawa bencana besar, yah, tak kalah besarnya dengan badan gendut Weva.
__ADS_1
Ini musibah yang nyata!