Princess Endut

Princess Endut
158. Welcome To Korea


__ADS_3

Seoul Incheon internasional, Korea.


Weva menatap ke seluruh penjuru arah sembari mendorong trolley dimana beberapa kopernya ada di sina. Kini ia telah tiba di bandara setelah melewati 7 jam perjalananan penerbangan dari bandara Soekarno-Hatta menuju Korea.


Weva mendongak menatap sebuah tulisan Korea yang sama sekali ia tak mengerti. Yah, walaupun Mommynya merupakan orang Korea dan ia juga masih memiliki darah keturunan Korea tapi Weva tak mau belajar bahasa Korea. Weva tak suka mengenai hal yang berhubungan dengan sepupunya itu. Siapa lagi jika bukan A-yeong.


Menurut Weva karena gadis itulah ia selalu dibanding-bandingkan seakan dilupakan dan A-yeong adalah gadis terpuji bagi Mommynya. 


Weva benci sepupunya itu.


Weva menoleh ke sekeliling menatap banyaknya orang yang tak terhitung jumlahnya tengah berlalu lalang melintasinya dengan langkah yang tergesa-gesa.


Weva yang masih mendorong trolley itu menghentikan langkahnya menatap setiap satu-persatu orang yang melintasimya. Gadis cantik dengan rok sebatas paha dengan tubuh langsing, hah, itu yang Weva inginkan selama ini. 


Di sini Weva mengamati dari berbagai bentuk pakaian dan style yang mereka miliki. Kulit putih bersih dengan mata sipit. Mereka saling mengobrol dengan bahasa Korea membuat Weva mendecapkan bibirnya kesal. Kini ia menyesal kabur saat ikut les bahasa Korea di rumah saat Mommynya yang sibuk kerja itu menyuruh guru les bahasa Korea untuk mengajarinya setiap hari sabtu.


Saat ini Weva merasa terasingkan di tempat yang terakhir kali ia pinjak saat masih kecil. Terasingkan, tak ada bedanya saat ia di Jakarta.


Weva menghela nafas panjang. Sekarang ja harus kemana? Dan mengapa belum ada suruhan Mommynya yang datang untuk menjemputnya.


Weva meraih handphone dari saku jaket dan menggeser layarnya pelan.


"Weba!!!" teriak seorang wanita dari belakang sana membuat Weva menoleh.


Seorang gadis bertubuh tinggi dan langsing serta kulit putih bersih, berambut panjang dengan poni tipis serta paras yang sangat cantik berlari dari kejauhan mendekati Weva.


Wanita cantik itu berlari sambil memegang sebuah kertas yang bertuliskan nama Weva di sana. 


Weva menatap serius gadis itu yang benar sangat-sangat cantik. Wajahnya bak artis yang selalu Weva tonton di drama Korea, tapi tunggu! Apa gadis itu mengenalnya?


"안녕하세요 / Annyeonghaseyo."


(Halo)


Sambutnya dengan wajah begitu ceria sembari membungkukkan tubuhnya memberi hormat ala korea.


"한국에 오신 것을 환영합니다 / Hangug-e osin geos-eul hwan-yeonghabnida."


(Selamat datang di Korea."


Weva melongo, jujur ia tak mengerti apa yang dikatakan oleh gadis berwajah cantik ini. Suaranya yang indah dan lembut membuat Weva terkesima.


"당신은 Weba 입니까? / dangsin-eun Webaibnikka?"


(Apa kamu Weba?)"


"Who are you?" tanya Weva gugup menanyakan siapa gadis cantik itu.


Gadis itu tersenyum begitu indah.

__ADS_1


"내 이름은 아영 / Nae ileum-eun A-Yeong."


(Nama saya A-Yeong)


Ujarnya sembari menjulurkan jari-jari lentiknya.


Weva kembali melongo, tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan gadis berparas cantik ini. Tak lama gadis itu menurunkan jari-jari tangannya dan kembali tersenyum seakan tak kecewa setelah Weva tak membalas uluran tangannya.


 


"Kamu siapa, sih? Weva tau kamu siapa."


"사스미타 이모가 데리러 오라고 했어 / Saseumita imoga delileo olago haess-eo."


(Tante Sasmita menyuruh aku untuk menjemput kamu."


Weva menganga, tak mengerti.


"Nggak ngerti bahasa Inggris Weva," ujar Weva lalu melangkah meninggalkan gadis berparas cantik itu yang kini membulatkan kedua matanya terkejut.


"Weba!!!" teriak gadis itu lalu berlari dan mencekal pergelangan tangan Weva.


Weva mau tak mau harus menghentikan langkahnya dan menoleh menatap gadis berparas cantik yang masih memegang pergelangan tangannya.


"어디 가세요? / Eodi gaseyo?"


(Kamu mau kemana?"


Sepertinya tubuh gendutnya inilah yang menjadi incaran gadis Korea iti. Setelah dia berhasil mencurinya, mungkin saja gadis ini akan mengambil lemaknya, menjual ginjalnya, jantungnya, hatinya dan semuanya. Huh, dasar psikopat.


"Lepasin!" panik Weva menghempas kan pergelangan tangannya.


Weva menyembunyikan ke dua tangannya di belakang tubuhnya dan melangkah beberapa langkah ke belakang berusaha untuk memberi jarak antara ia dan gadis itu. 


Kali ini ia harus hati-hati!


"왜요?/ Waeyo?"


(Mengapa?)


"Heh! Weva itu nggak ngerti kamu ngomong apa. Kamu itu punya kuping nggak, sih?" kesal Weva dengan kedua matanya yang melotot tajam membuat gadis itu bungkam.


"Lo itu siapa, sih?"


"Kenal juga nggak."


"Main pegang-pegang lagi."


"Kamu jangan macam-macam, yah sama Weva! Kamu nggak liat badan Weva yang besar. Kalau Weva marah saya tindih kamu , yah!" ancamannya.

__ADS_1


Weva menghembuskan nafas panjangnya dengan wajah yang bersalah setelah memarahi gadis cantik itu. Weva membalikkan badannya dan mengusap dahinya penuh lelah.


"Weba!" panggil gadis itu.


Weva mendecapkkan bibirnya kesal karena gadis itu kembali bicara. Weva mengigit bibir dengan geram berniat untuk kembali memarahi gadis itu karena kembali bicara.


"Apa lagi, sih?!!" bentak Weva.


Gadis itu tersentak kaget mendapati bentakan dari Weva yang penuh dengan amarah.


"Wait!" ujarnya lalu meraih handphone dari saku celananya dan menyentuh permukaan layar dengan cepat.


Weva mendecappkan bibirnya kesal lalu kembali membalikkan badannya dan  melangkah meninggalkan gadis itu.


"Weba!!!"


Gadis itu berlari dan mencekal pergelangan tangan Weva lagi membuat Weva kembali menghempaskan tangannya dan menatap gadis itu syok.


Gadis ini melebihi penjahat.  


"What?" bentak Weva.


"Wait! I want to talk to you."


(Tunggu! Aku ingin bicara dengan kamu)


"Weva nggak mau!"


"Wait!"


Gadis itu tersenyum walau dari wajahnya ia terlihat panik mengenai hal ini. Weva cukup kasihan. Apa caranya marah agak berlebihan? Dengan gercap gadis cantik itu menyentuh layar handphonenya.


"Ehm, saya di perihntahkan oleh Tante saseumita untuk menjemput Weba," ujar gadis itu sembari membaca translate di handpone-nya.


"Weba? Weba siapa? Nama aku Weva bukan Weba!" tegur Weva.


"Im sorry."


Weva terdiam menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut gadis itu. Mungkin benar jika gadis ini diperintahkan oleh Mommynya untuk menjemputnya di bandara.


 


Tapi, gadis ini siapa dan apa hubungan gadis ini dengan Mommynya sampai Mommynya mau memberikan kepercayaan untuk menjemputnya.


Kedua mata Weva menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut gadis cantik itu. Dari penampilannya gadis ini tidak terlihat seperti pelayan atau orang yang bayar untuk menjemput dirinya.


"You believe what I say?"


(Kamu percaya apa yang saya katakan?"

__ADS_1


Gadis itu tersenyum memperlihatkan giginya yang putih bersih membuat Weva perlahan mengangguk.


__ADS_2