
Weva duduk bersimpuh di atas rerumputan yang tak jauh dari tower tangki air dimana Ken selalu memanjat di atas sana, tapi entahlah Weva tak berniat untuk menoleh ke atas sana dan membenarkan apakah Ken benar-benar ada di atas sana atau ia sedang berada di lain tempat.
Weva kembali mengusap pipinya dan membungkam mulutnya yang terus mengeluarkan suara tangisan. Weva benar-benar bingung, rasanya memanglah di dunia ini tak ada yang peduli dengannya. Weva yang selalu merasa hidup bahagia dengan adanya sahabat pun telah sirna dengan perubahan sikap Wiwi kepadanya.
"Jahat! Aaaaaaaaa, ahhhhh," bisiknya dengan tangisannya yang lepas begitu saja.
Weva mengusap pipinya yang basah itu.
"Te-tega, tega Wiwi sama Weva. Emangnya Weva salah apa?"
"Weva ini nggak jahat, tapi kenapa semua orang jahat sama Weva?"
Bruk!!!
Sesuatu dengan suara keras terdengar membuat Weva menoleh menatap Ken yang ternyata telah mendarat di sampingnya setelah melompat dari atas tower tangki.
"Ken?"
"Ehehehe," cengenges Ken lalu segera duduk di samping Weva yang kini kembali pada posisi awalnya yakni kembali tertunduk seakan mengabaikan Ken yang telah berada di sampingnya.
Ken terdiam. Beberapa kali ia melirik menatap Weva yang masih menangis sesegukan.
"Lo nangis, yah?"
Weva menoleh cepat menatap Ken yang nampak mencengirkan senyum bodohnya.
"Enggak!" bantahnya berbohong sembari mengusap pipinya yang basah.
"Gue tahu, kok."
"Tau-uhhh aaaa-a-apa?" ujarnya terisak.
"Yah gue, kan denger hehehe," ujarnya sembari menyentuh handsfree pada telinganya.
Suasana kembali menjadi sunyi diiringi suara isakan tangis Weva membuat Ken sesekali berusaha mencuri-curi pandang untuk melihat Weva.
"Udah lah! Nggak usah nangis! Nanti air mata lo habis."
Weva tak menghiraukan. Ia mengusap pipinya dan beralih menatap ke arah lain.
"Lo jelek kalau nangis?"
Weva hanya terdiam. Bahkan ia tak menoleh sedikit pun.
"Kayak hantu," sambung Ken membuat Weva melirik tajam.
"Lo mau ikut gue enggak?" tanya Ken dengan wajah seriusnya.
"Nggak."
__ADS_1
"Apaan, sih? Ngebantah melulu lo."
Weva menghela nafas panjang.
"Emang Ken mau ke mana?"
...*****...
Pijakan kaki Weva yang mendarat kuat pada salah satu besi tower tangki yang setengah berkarat namun, masih kuat untuk menampung beban berat. Weva mengigit bibir berusaha mengeluarkan seluruh tenaganya untuk bertahan serta berpegangan pada besi.
"Cepetan, Wev!" teriak Ken yang telah tiba di atas sana sembari menatap Weva yang masih mati-matian untuk sampai ke tujuan.
Weva mendecakkan bibirnya kesal. Ini semua karena Ken, jika Ken tak menyuruhnya untuk mengikutinya mungkin ia tak akan bodoh memanjat seperti ini.
Tuhan, ia pun sudah tidak sadar jika ia telah mirip seperti Ken yang selalu Weva juluki dengan kata monyet. Lalu bagaimana dengan Weva? Jika Ken adalah monyet maka Weva adalah kingkong.
"Cepetan!!!"
"Tunggu!" ujar Weva lelah.
Weva menarik nafas panjang ketika ia telah berhasil menyentuh pinggiran papan yang menjadi tempat tujuannya memanjat di tower tangki air ini.
"Pegang tangan gue!" pinta Ken sambil menjulurkan jari-jari tangannya.
Weva membulatkan kedua matanya dan mendongak menatap juluran tangan Ken hingga ia berhasil menatap wajah tampan Ken yang menghalangi panasnya terik matahari.
Dari bawah sini Weva bisa melihat wajah tampan Ken yang terpampang jelas di atas sana. Rambutnya terlihat bergerak indah ketika ditiup oleh angin yang berhembus.
Ada sesuatu yang salah di sini. Mengapa jantung Weva berdetak seperti ini? Ini salah!
Kaki kanan Weva yang semula menjadi penopang seketika tergelincir membuat tubuhnya merendah dari permukaan papan dan nyaris terjatuh ke bawah sana.
"Aaaaa!!!" teriak Weva.
Weva memejamkan kedua matanya seakan pasrah jika ia nantinya ia akan jatuh ke bawah sana. lagi pula jika ia mati tak ada yang peduli juga dengan dirinya itu
"Lo enggak apa-apa?" tanya Ken membuat Weva membuka matanya cepat dan menatap Ken yang ternyata telah menggengam pergelangan tangannya.
"Cepetan naik!" pinta Ken sembari menarik pergelangan tangan Weva dengan kuat dan segera menarik Weva dengan kuat untuk naik ke tempat yang menjadi tempat penenang bagi Ken. Yah, tempat penenang yang hanya berupa sebuah papan yang di sanggah oleh salah satu besi tower tangki.
Bruk!!!
Tubuh Weva ambruk di atas papan tak jauh dari Ken yang tertawa menatap Weva yang telah tiba dengan wajah yang telah dicucuri dengan keringat.
"Ah, malah ketawa lagi," kesal Weva dengan wajah cemberutnya namun, ketika Weva menolah untuk menatap Ken, ia secara tiba-tiba melongo menatap pemandangan kota yang begitu sangat indah dari atas sini.
"Wah," kagum Weva.
Weva menatap Ken perlahan yang kini nampak duduk terdiam menatap indahnya kota Jakarta. Weva melangkah dengan hati-hati lalu ikut duduk di samping Ken dengan senyumnya yang merekah indah.
__ADS_1
"Wah, ini keren banget. Wah! Bangunan tinggi pencakar langit. I-itu jalan besar, ada banyak mobil, wah, ternyata kita bisa liat dari sini, ya?"
"Em," sahut Ken singkat.
"Itu juga taman! Oh, di sana bioskop. Wah!!! Ternyata kita bisa liat dari sini?"
Ken melirik aneh menatap Weva yang kedua matanya nampak berbinar.
Suasana kini menjadi sunyi, tak ada lagi percakapan yang terjadi diantara mereka. Sejak tadi Weva hanya tersenyum tanpa henti. Ia menatap ke segala arah menatap pemandangan kota Jakarta.
"Gue suka banget di sini."
Weva menatap Ken setelah kalimat itu terujar dan tak berselang lama Ken menggerakkan kepalanya menatap Weva.
"Di sini gue selalu merasa tenang, aman dan damai."
"Aman?" tanya Weva heran.
Ken tersenyum lirih dan beralih untuk kembali menatap pemandangan kota yang nampak terpampang indah.
"Kalau menurut Weva tempat ini itu enggak aman, sih."
"Gue nggak tahu tempat ini aman atau enggak, yah. Tapi yang gue tahu tempat ini nyaman menurut gue."
"Dari sini gue bisa damai dan nggak ada yang gangguin gue."
Suasana kini kembali hening setelah kalimat Ken terujar. Ken yang teringat dengan bekal pemberian Laila dengan cepat merogoh tasnya dan mengeluarkan bekal pink yang kini telah berada di pangkuannya.
"Mau?" tanya Ken sembari menjulurkan bekal pink berisi potongan roti yang telah dihias persis dengan karakter hello Kitty.
Weva yang melihat penampilan roti pada bekal Ken langsung tertawa membuat Ken juga ikut tertawa. Ken tahu apa yang baru saja Weva tertawakan.
"Lo kenapa ketawa?" tanya Ken yang juga ikut tertawa.
"Ken, Ken tahu enggak? I-ini itu mirip makanan anak TK tahu nggak."
"Ah, udah lah. Lo nggak ngomong kayak gini gue juga tahu. Ini semua karena Mama gue yang bikin kayak gini dan alasan gue selalu ada di atas sini, yah ini."
"Setiap kali gue makan makanan Mama dan gue nggak mau sahabat gue tahu gue punya makanan kayak anak kecil, yah, maksud gue mantan sahabat gue, yah, kan? Gue selalu ngejauh."
"Kenapa?"
"Yah, gue malu lah."
"Kenapa harus malu? Yah, Ken harusnya seneng punya Mama yang perhatian kayak Tante Laila. Sedangkan Mommy Weva yang lebih sibuk ngurusin pekerjaan dan ngebela keponakan koreanya itu."
"Oh, ya?"
Weva mengangguk.
__ADS_1
"Ken beruntung karena Mama Ken sayang sama Ken. Nggak kayak Mommy Weva yang nggak pernah sayang sama Weva."
Ken diam seperti patung. Ia percaya dengan apa yang Weva katakan.