Princess Endut

Princess Endut
182. Alasan Aku Mulai Menyukainya


__ADS_3

Wiwi mengangguk membuat Weva kembali meletakkan bingkai foto itu ke atas meja.


Ia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kedua matanya menatap tenang pada permukaan langit-langit kamar.


"Wev!"


"Em?"


"Sekarang rencana lo apa?"


"Rencana?"


Wiwi menoleh. Ia bangkit dari lantai lalu merangkak ke atas kasur dan bertiarap di atas sana sambil menatap serius ke arah Weva yang juga melakukan hal yang sama.


"Rencana? Lo nggak ngerti maksud gue?"


"Nggak. Weva nggak ngerti."


"Wev! Sekarang gimana lagi? Orang-orang taunya lo itu Klorin bukannya Weva. Sampai kapan lo mau sembunyiin identitas lo yang sebenarnya?"


"Lo nggak mungkin kan mau hidup dengan nama Klorin. Menurut gue lo kasih tau sama semua orang kalau lo itu adalah Weva, bukan Klorin yang seperti apa yang lo bilang."


"Tapi mereka pasti nggak akan percaya, Wi."


"Nggak coba nggak bakalan tau. Lo coba aja dulu."


Weva terdiam. Apa ini ada benarnya? Tak berselang lama Weva kembali menoleh menatap Wiwi yang masih serius menatapnya.


"Wi! Tau nggak?"


Weva duduk di atas kasur. Ia memperolok posisi duduknya membuat Wiwi ikut duduk. Sepertinya ini akan menjadi hal yang begitu serius.


"Tadi Weva ketemu sama Brilyan."


"Brilyan? Kapan lo ketemu?"


"Tadi waktu Weva ke perpustakaan. Tau nggak, Wi? Brilyan ngajak Weva kenalan."


"Ah? Yang bener lo?"


Weva mengangguk cepat sambil tersenyum.


"Jangan mau! Lo harus jual mahal!"

__ADS_1


"Iya gue udah ngelakuin itu. Weva senang banget ternyata Brilyan kayaknya tertarik sama Weva."


"Hah, kalau masalah tertarik mah pasti. Lo sadar nggak, sih kalau lo itu cantik banget."


Weva tersenyum malu. Rasanya ia selalu mendapat pujian oleh orang banyak.


"Jadi sekarang rencana lo apa, Wev?"


Weva terdiam. Ia menopang dagu dan mengetuk-ngetuk pipinya berpikir.


"Rencana, ya Weva punya Rencana."


Mendengar hal itu membuat Wiwi tersenyum bahagia. Ia mendekatkan tubuhnya mendekati Weva yang sedikit bergerak karena gerakan kasur saat Wiwi bergerak.


"Apa rencana lo?"


...****************...


Malam hening menemani sosok Brilyan yang terlihat duduk di atas kursi kayu yang ada di balkon. Ia menutup buku hitamnya rapat-rapat dan beralih untuk menatap kerlap-kerlip bintang yang menguasai langit.


Brilyan tersenyum kecil ketika di pikirannya terlintas sosok gadis cantik yang ia temui di perpustakaan.


Brilyan membuka buku catatan kecilnya menatap sebuah foto tua yang memperlihatkan sosok gadis cantik yang berwajah mirip dengan Klorin, yah gadis yang ia temui di perpustakaan tadi.


"Siapa gadis itu?"


"Siapa namanya dan dimana dia tinggal? Aku harus tau siapa dia."


Brilyan tersenyum kecil. Ia mengangkat foto itu mensejajarkannya pada deretan bintang di atas sana.


"Ibu, aku sepertinya telah menemukan wanita yang mirip dengan Ibu. Apa itu ibu atau orang yang sengaja membuat wajahnya mirip dengan Ibu."


"Apa pun itu tapi aku akan berjuang untuk mendapatkan dia."


"Setidaknya aku bisa kembali merasakan sosok ibu di dalam kehidupan aku."


"Saat aku melihat wajahnya, aku teringat dengan ibu. Wajahnya, tatapannya dan senyumnya semuanya sangat sama dengan Ibu."


"Ibu, sepertinya aku telah menyukai dia."


Brilyan memejamkan kedua matanya. Wajahnya dibiarkan mendongak menatap langit sambil menyadarkan tubuhnya ke sandaran kursi begitu tenang sembari meletakkan foto tua itu ke atas dadanya.


...****************...

__ADS_1


Weva melangkah bersama dengan Wiwi di koridor menuju ruangan kelasnya. Para siswa dan siswi menoleh, mereka tak henti-hentinya kagum pada kecantikan Weva.


Namun, ada yang membuat mereka merasa kebingungan yakni kedekatan antara Wiwi dan Weva yang mereka kenal sebagai Klorin. Baru kemarin siswi baru itu masuk tapi ia sudah akrab dengan Wiwi bahkan mereka datang ke sekolah secara bersamaan.


Wiwi yang sejak tadi asik melangkah itu menoleh ke belakang menatap sosok Brilyan yang sedang berjalan.


"Wev! Di belakang ada Brilyan."


"Oh, ya?"


"iya. Gue serius. Pokoknya lo harus jual mahal dulu!"


Weva mengangguk. Kali ini ia harus menurut apa yang Wiwi katakan.


"Hai! Tunggu!!!" teriak Brilyan memanggil.


Ia berlari dan berdiri di depan Weva yang dengan cepat menghentikan langkahnya. Ia menatap gugup pada sosok Brilyan yang tersenyum manis di depannya. Weva ingin ikut tersenyum namun, dengan cepat Wiwi menyikutnya membuat niat Weva tersenyum tertahan.


"Selamat pagi. Aku Brilyan, kamu masih kenal aku, kan?"


"Em, iya. Aku masih ingat."


Brilyan tersenyum. Ia begitu bahagia sekarang.


"Aduh, maaf ya kayaknya kita harus ke kelas, deh. Iya kan Rin?"


"Em?" tanya Weva tak mengerti.


"Iya, kan?" Wiwi membulatkan kedua matanya membuat Weva mengerti.


"Oh iya. Em, aku duluan, ya."


Tanpa menunggu jawaban dari Brilyan, Weva langsung melangkah bersama dengan Wiwi mengulurkan jarak antara ia dan Brilyan.


"Tunggu!"


Langkah Wiwi dan Weva terhenti. Kedua mata Weva membulat. Sejujurnya ia takut jika Brilyan curiga siapa dia yang sebenarnya.


"Kamu belum memberitahu aku siapa nama kamu."


Weva tersenyum tipis. Ia menoleh menatap Brilyan yang masih berdiri di sana.


"Aku punya dua nama tapi untuk saat ini panggil saja aku Klorin!"

__ADS_1


Brilyan tersenyum lalu mengangguk. Ia berniat untuk bicara lagi, tetapi Wiwi lebih dulu menarik pergelangan tangan Weva dan membawanya pergi.


__ADS_2