
"Ken!" panggil Weva sembari berlari kecil mengikuti langkah Ken.
Ken melirik menatap Weva yang mengikutinya seperti anak kerbau yang kehausan.
"Apa, sih?"
"Janji dulu sama Weva!" minta Weva sembari terus berlari kecil dan mengarahkan jari kelingkingnya.
"Iya gue, kan tadi udah bilang kalau gue itu janji."
Weva berlari lebih cepat lagi dan menghentikan larinya tepat di hadapan Ken yang langsung menghentikan langkahnya dan terdiam menatap Weva yang tersenyum lebar sambil menjulurkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Ken.
"Janji dulu sama Weva!"
Ken menghela nafas.
"Mau janji kayak gimana lagi, sih Endut? Hah?"
"Janji kayak gini, ini! Lihat nggak, sih jari kelingking Weva?" tanya Weva yang mulai kesal.
Ia menjulurkan jari kelingking kecilnya itu yang semakin mendekati hidung Ken membuat kedua iris mata Ken menjuling menatap jari kelingking Weva.
"Heh!" Geram Ken menghempas tangan Weva agar menyingkir dari hadapannya.
"Loh, kok gitu, sih, Ken?"
"Yah lagian lo ngapain? Lo mau nusuk mata gue?"
"Weva nggak bisa percaya sama janji orang kalau dia nggak nyentuh kelingking Weva. Ini syarat kesepakatan, kalau Ken nggak nyentuh kelingking Weva berarti Ken nggak janji," oceh Weva seperti anak kecil yang meminta kembalian disaat uangnya pas sementara Ken hanya diam dengan wajah datar.
__ADS_1
"Udah?" tanya Ken setelah Weva habis bicara panjang.
Weva mengangguk.
Tak berselang lama Ken tertawa, menurutnya ini tak penting setelah mendengar ujaran Weva membuat Weva hanya mampu memasang wajah datar sambil menatap Ken yang masih tertawa.
Ken menghentikan tawanya secara perlahan, sepertinya Weva serius. Ken menghela nafas. Ia menatap ke segala arah jalanan yang terlihat sepi dan hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu-lalang.
"Ayo, cepetan janji! Kalau Ken nggak mau janji, Weva nggak mau lari."
"Ok, gue janji," ujar Ken setelah melingkarkan jari kelingkingnya di jari mungil dan lembut Weva.
Ken terdiam sejenak menatap Weva yang terlihat sedang menatapnya begitu bahagia di lengkapi suasana sunyi malam ini.
"Yeeeeee!!!" sorak Weva bahagia membuat Ken tersentak kaget disusul Weva yang melepaskan lingkaran kelingkingnya dan berlari sambil berputar lalu merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang mendongak serta kedua matanya yang terpejam.
"Yeeee!!!"
"Kalau gitu Weva mau lari lagi dan setelah itu Weva bisa makan sepuasnya."
"Weva mau jalan-jalan keliling pasar dan makan yang banyak!!!"
"Setelah berat badan lo turun10 kg," potong Ken membuat kesenangan Weva terhenti.
"10 kg?" tanya Weva yang mengangkat sepuluh jari tangannya.
"Em, 10. Kalau berat badan lo nggak turun selama seminggu berarti lo nggak gue ajak jalan-jalan dan nggak bakalan ngizinin lo makan apa pun," jelasnya.
Weva berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
__ADS_1
"Ok, Weva setuju."
"Nah, gitu, dong. Sekarang lo lari sana! Usahain malam ini berat badan lo itu turun satu kilo."
"Satu kilo?"
"Em, cepetan lari!"
"Siap, Bos! Tapi janji, ya!"
"Iya."
Weva berpaling dan mulai berlari meninggalkan Ken yang diam berdiri namun, tak berselang lama Weva kembali menoleh dan berlari menghampiri Ken.
"Ini bukan tipuan, kan?" tanya Weva yang berlari di tempatnya.
Ken mendecakkan bibirnya.
"Kan tadi gue udah janji sama lo."
"Oh, iya yah."
Weva tertawa cengengesan lalu kembali berlari pergi.
"Tuhaaaan!!! Bantu Weva, ya!!! Weva mau makan banyak!!!"
Ken tertawa kecil setelah mendengar teriakan Weva yang terlihat mendongak menatap langit.
"Ide berhasil," ujar Ken.
__ADS_1