Princess Endut

Princess Endut
177. Kejadian Di Bandara Part 2


__ADS_3

"Hah?!!" kagetnya lagi.


Ia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut gadis yang ada di hadapannya. Bagaimana bisa gadis berparas cantik dan bertubuh langsing ini mengaku adalah Weva.


"Yang bener ka-ka-mu Weva?" Tunjuk dengan jari tangannya gemetar.


"Ih, masa Weva bohong, sih Wi?"


"Tunggu! Tunggu! Ini nggak mungkin."


Wiwi melangkah membelakangi Weva sembari menampar-nampar wajahnya yang terasa panas seakan tak percaya jika wanita bertubuh langsing dan cantik ini adalah Weva.


"Ini nggak mungkin! Ini nggak mungkin! Gue pasti salah denger dan gue pasti salah liat!


"Sadar! Sadar, Wev! Sadar! Ini pasti mimpi!" Pukul Wiwi di kedua pipinya berusaha menyadarkannya.


Ini seperti mimpi, yah ini pasti adalah sebuah mimpi.


"Sadar! Sadar! Sadar!"


"Dia nggak mungkin Weva! Ini pasti mimpi! Ini mimpi!"


Wiwi menghentikan tamparannya dan dengan perlahan ia menoleh menatap Weva yang terlihat tersenyum di belakang sana.


"Aaaaa!!!" teriak Wiwi mendapati Weva yang masih ada di belakangnya.


"Aaaaa!!! Nggak mungkin! Nggak mungkin dia Weva! Nggak mungkin!!!" ujarnya sembari menampar wajahnya lagi.


Weva yang telah bosan mendengar hal tersebut dengan kesal memegang kedua bahu Wiwi dan mengguncangnya.


"Wi, sadar!!!" teriaknya.


"Aaaaa!!!!" teriaknya dengan suara yang lebih mirip kesetrum listrik disaat Weva mengguncangnya.


"Wi, masa Wiwi nggak percaya, sih kalau ini itu Weva. Ini itu Weva!"


"Masa?"


"Beneran, Wi. Ini itu Weva."


"Hah!" kagetnya membuat Weva ikut terkejut.


"Loh, kok kamu ngomongnya kayak Weva?"


Weva mendecapkan bibirnya setelah mendengar hal tersebut.


"Yah, emang aku, Weva, Wi!" ujarnya terus terang.


"Hah?!!" kagetnya lagi membuat Weva tersentak kaget.


"Bohong, lo yah?" Tunjuknya penuh curiga.


"Nggak!" bantahnya cepat.


Wiwi menelan ludah menatap ragu dari ujung kaki sampai ujung rambut Weva yang masih ia ragukan kebenarannya. Weva mengernyit bingung. Ia ikut menatap tubuhnya sendiri yang masih ditatap oleh Wiwi.


"Kenapa? Wiwi nggak percaya kalau ini Weva?"


Wiwi mengangguk dengan wajah pucatnya.  


"Nih, pegang tangan Weva!" pintanya sembari menjulurkan jari-jari tangannya yang lentik.


Wiwi mengigit bibir menatap jari-jari lentik yang Weva julurkan kepada Wiwi.


"Emang lo kira gue bakalan percaya sama lo. Lo pikir gue bakalan yakin kalau lo itu Weva setelah gue sentuh tangan lo? Heh dari sini aja gue bisa liat tangan Weva sama tangan lo itu beda."


"Tangan Weva itu gemuk, empuk nggak kayak gitu !" jelasnya lalu menunjuk tangan Weva dengan ujung bibirnya.


Weva mendecapkan bibirnya dan memilih untuk menyerah kali ini. Rasanya memang sulit untuk meyakinkan Wiwi jika dia memanglah Weva.

__ADS_1


Wiwi terdiam dengan tatapan selidiknya menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Weva lagi dan lagi.


"Apa benar gadis ini Weva?"


"Tapi, kok langsing?"


"Weva kan gendut. Pipinya juga gemuk sementara dia nggak."


"Dia cantik, langsing dan kayaknya dia nggak mungkin Weva, apalagi dia juga putih."


"Apa ini serius? Tapi kalau didengar-dengar suaranya juga mirip Weva."


Wiwi mengigit bibir menatap Weva dengan serius membiarkan batinnya berbicara kali ini.


"Yah, udah deh," pasrah Weva lalu membalikkan badannya membelakangi Wiwi dan melangkahkan kakinya mengulurkan jarak antara ia dan Wiwi.


Kali ini ia menyerah. Memang susah untuk meyakinkan Wiwi kalau dia benar adalah Weva.


"Tunggu!" teriak Wiwi membuat Weva menghentikan langkahnya.


Weva tersenyum bahagia setelah mendengar ujaran Wiwi. Apa mungkin Wiwi telah percaya.


"Apa? Wiwi udah percaya kalau ini Weva?" tanya Weva setelah menoleh menatap Wiwi.


"Nggak!"


"Terus?"


"Kalau emang bener lo, Weva. Lo harus jawab pertanyaan gue?"


"Em, yah udah apa? Weva siap."


Wiwi menarik nafas dalam-dalam dan berusaha untuk mencari pertanyaan sulit yang hanya diketahui oleh ia dan Weva saja.


"Emmm, makanan fopurit kita apa?"


"Hah?" kagetnya tak percaya.


"Nama tukang baksonya?"


"Mas Tono jalan merpati blok lima, porsi bakso jumbo dan kita selalu pesan bakso tiga mangkok di meja ke 20," jelasnya.


Wiwi menganga dengan wajahnya yang tak menyangka jika gadis di hadapannya itu tau dengan hal yang hanya mereka berdua ketahui. 


"Kok, lo tau?"


"Yah, aku Weva, Wi. Jadi Weva tau semua," ujarnya dengan nada yang geram.


"Ok, ok. Satu lagi dan ini pasti lo nggak bakalan tau."


Weva menghembuskan nafas panjang berusaha untuk bersabar kali ini.


"Apa?"


"Pas gue diaqiqah gue dipotongin apa?" tanya Wiwi sambil memperhatikan wajah Weva.


"Hah, pertanyaan apaan tuh?"


"Yah, kalau lo Weva pasti lo bisa jawab."


"Yah, masalahnya jawaban Weva sama Wiwi itu beda."


"Beda apanya?"


Weva mendecapkan bibirnya dan memilih untuk melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ayo jawab! Kalau lo beneran Weva lo pasti bisa jawab."


Weva kini terdiam membuat Wiwi tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa? Lo nggak bisa kan jawab?"


Weva masih terdiam.


"Lo nggak bisa, kan jawab? Yah, karena lo itu bukan Weva! Lo itu cuman penipu yang mau mencoba nipu gue dan setelah itu Lo bakalan ajak gue jalan-jalan dan ngebius gue lalu lo jual gue."


"Setelah lo jual, tubuh gue bakalan dicincang terus organ tubuh gue-"


"Sapi," jawab Weva membuat Wiwi menghentikan ocehannya.


Wiwi menganga tak menyangka jika gadis ini tau jika jawaban yang selalu Weva berikan kepadanya adalah sapi.


"Hah?"


"Sapi, kan? Dan Wiwi selalu jawab kerbau," jawabnya.


Wiwi terdiam sejenak lalu menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Weva dengan tatapan yang sama sekali tak menyangka.


"Aaaaaa!!!" jerit Wiwi kegirangan dan segera memeluk tubuh Weva.


Wiwi melompat-lompat kegirangan ketika ia telah percaya jika gadis langsing dan berparas cantik ini adalah Weva.


"Wev, lo dari mana aja nggak pernah ngasih kabar?" tanyanya setelah melepas pelukan.


"Dari Korea lah terus ke mana lagi?"


"Tapi, kok lo nggak pernah ngasih kabar, sih sama gue?" Tanya Wiwi sembari memegang kedua bahu Weva.


"Lo tau nggak, sih? Lo pergi selama satu tahun dan selama itu lo nggak ngasih kabar sama gue."


"Nomor handphone lo juga nggak bisa dihubungin dan semua akun sosial media lo udah nggak on lagi."


"Lo itu ngilang nggak ada kabar. Lo sengaja, ya buat kita semua jadi khawatir?"


"Dan sekarang lo udah langsing, nggak kayak dulu lagi."


Weva hanya tersenyum membuat Wiwi kini menatap ke segala arah membuat Weva menatap heran.


"Wiwi cari siapa?"


"Ken," jawab Wiwi tanpa henti menggerakkan kepalanya.


"Ken pasti seneng, Wev ngeliat lo udah pulang dari Korea," jelasnya.


"Wi, hussst!!!" Tahan Weva cepat sembari meletakkan jari telunjuknya di ujung bibirnya yang mungil.


"Kenapa, Wev?" 


"Weva, minta tolong, yah jangan kasi tau siapa-siapa dulu!"


"Loh, kenapa kalau semuanya tau? Ini kan bagus."


"Yah, nggak apa-apa, Wi tapi Weva cuman mau ngasih tau ke Ken langsung," jawabnya membuat Wiwi mengangguk.


Weva yang semula tersenyum itu kini mendadak terkejut mendapati Ken yang berada tak jauh dari posisi ia dan Wiwi.


"Wi, itu ada ken," bisiknya penuh hati-hati.


Weva dengan cepat menoleh menatap Ken yang terlihat masih melangkah dengan tatapannya yang masih merambah ke segala arah, sepertinya dia memang sedang mencari Wiwi.


"Wi, gue duluan, yah dan lo jangan kasi tau Ken atau siapapun itu kalau Weva udah pulang dari Korea!"


"Tapi-"


"Wi, Wiwi janji, yah sama Weva!" mintanya lalu melangkah mundur mengulurkan jarak antara ia dan Wiwi.


Wiwi tak menjawab apa-apa. Ia kini terdiam dengan wajahnya yang terlihat masih syok menatap kepergian Weva yang terus menatapnya dan semakin menjauh seiring waktu berjalan.   


Kedua matanya tak pernah berkedip sedikit pun menatap kepergian Weva hingga Ken datang.

__ADS_1


__ADS_2