
Laila mengeluarkan kue brownis dari oven membuat Weva menganga dengan wajah kagumnya.
Wangi coklat dengan hawa panas yang membawanya tercium memenuhi keseluruhan ruangan dapur.
"Wangi banget yah, Ma?"
Tante Laila mengangguk dengan senyum yang terbias indah di bibirnya.
"Ini pasti enak. Udah ketebak dari baunya."
"Iya, nanti kalau mau kamu juga bisa coba buat kue di rumah kalau lagi nggak ngapa-ngapain. Kamu juga udah tau, kan resepnya apa aja."
"Udah, Ma. Nanti Weva lupa, Weva bakalan telpon."
Tante Laila meraih kotak bekal hellokitty dan memotong kue brownis tersebut beberapa bagian dan meletakkannya ke dalam kotak bekal hellokitty.
"Itu buat siapa?" tanya Weva sembari menopang dagunya di meja.
"Buat kamu sama Keken. Nanti makannya pas kamu sama Keken jalan-jalan, yah."
Weva mengangguk.
"Heh, gendut! Yuk berangkat!" ajak Ken yang muncul dari pintu melangkah masuk ke dapur.
Weva dan Laila menoleh menatap Ken yang terlihat mengenakan celana hitam, kaus putih dan jaket jeans.
"Wah, ganteng banget anak kesayangan Mama dan Bapak," sambut Laila.
Ken tersenyum dan menaik turun kan kedua alisnya seakan ingin memperlihatkan kepada Weva jika ia sangat tampan menurut Mamanya. Weva menatap sinis membuat Ken berdesis kesal.
...****************...
"Hati-hati, yah Keken!!!" teriak Laila sembari melambaikan tangannya.
"Dadada, Mama!!!" teriak Weva yang ikut melambai.
Ken menoleh. Ia terkejut saat ia mendengar Weva menyebut Mamanya itu dengan panggilan Mama.
"Apa lo bilang?"
"Apa?"
"Jangan pikir gue nggak denger, ya!"
"Idih, apaan, sih? Orang Mama Laila yang nyuruh Weva manggil Mama."
"Sotoy lu. Itu Mama gue."
"Enak, aja. Kata Mama Laila, Mama Ken, ya Mama Weva juga."
"Aduh, berantem melulu, nih anak. Udah cepetan berangkat! Jangan pulang tengah malam, ya!"
Wajah Weva yang sejak tadi menampakan wajah kesal langsung tersenyum disaat ia menoleh menatap Tante Laila.
__ADS_1
"Siap, Mama Laila."
"Keken!" panggil Tante Laila membuat Ken yang sedang menstrarter motornya itu menoleh.
"Jangan ngebut-ngebut, ya! Jaga si Weva!"
"Nggak mau Ken mau balap yang kenceng biar Weva terbang terus ke neraka!"
"Keken!" tegur Tante Laila tetap dengan nada lembutnya.
Bruam!!!!
"Mama Lailaaaaaa!!!" teriak Weva yang tersentak ke belakang.
Kedua tangan Weva dengan cepat berpegangan pada jaket Ken saat motor itu dilajukan dengan tiba-tiba.
Tante Laila terdiam dengan wajah syok menatap kepergian Ken dan Weva yang sudah melaju cukup jauh.
"Keken, Keken. Dari kecil sampai sekarang nggak berhenti jahilnya."
...****************...
Motor vespa Ken kini melaju dengan kecepatan sedang di pagi hari yang begitu sangat cerah. Weva hanya tersenyum menghirup udara segar kota Jakarta yang sudah dipadati oleh kendaraan dari berbagai jenis.
Sebuah tas hellokitty titipan Laila yang berisi kotak bekal hellokitty berada di kedua punggung Weva yang lebar. Sebenarnya Ken sedari tadi menolak untuk membawa bekal hellokitty ini tetapi Weva malah setuju dan memilih untuk membawanya.
Tas kecil hellokitty yang berada di punggung ini sepertinya cocok untuk usia anak lima tahun dan nampak aneh saat digunakan oleh Weva.
Motor Ken berhenti ketika mendapati lampu merah yang menyala membuat Weva menaikkan kaca helm hitamnya dan mendongak menatap lampu merah. Para kendaraan dari berbagai jenis berjejer rapi menanti lampu hijau menyala.
Weva hanya terdiam mendengarkan hal tersebut. Sudah jelas itu gunjingan untuknya lalu untuk siapa lagi kalau bukan dia. Lihat saja! Dari sekian banyak kendaraan cuman Weva yang punya tubuh gendut.
"Iya, yah. Mana ganteng banget lagi cowoknya," bisik gadis yang satu lagi ketika berhasil melihat wajah Ken di pantulan kaca spion motor Vespa.
Gadis-gadis itu tertawa membuat Weva merasa ingin menghilang dari atas motor vespa ini. Apakah serendah itu makhluk gendut di hadapan mereka. Mereka seharusnya tahu jika mereka sama dengan Weva. Weva juga manusia, sama seperti mereka, hanya saja waktu ini menunjukkan jika fisiknya belum berubah.
Tunggu saja kalau Weva sudah berubah. Weva yakin ia akan lebih cantik daripada mereka semua.
Lampu yang semula berwarna merah kini berubah menjadi warna hijau membuat Ken melajukan motornya secara tiba-tiba membuat Weva yang tak siap itu tersentak ke belakang dan nyaris terjatuh.
"Ken!!!" teriak Weva sembari dengan cepat memegang jaket yang Ken kenakan.
Ken yang menyadari hal itu segera menghentikan laju motornya setelah mendengar teriakan Weva.
Wajah Weva terhempas dan mendarat di punggung Ken yang terasa wangi. Walau rasanya sedikit sakit, tapi Weva tak menyesal melakukan hal yang tidak di sengaja itu.
Ken menoleh menatap Weva yang dengan cepat menjauhkan wajahnya dengan ujung hidung yang nampak memerah setelah terbentur.
"Lo kenapa, sih?"
"We-eva hampir jatuh."
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Yah, Ken nggak bilang kalau mau nge-gas motor jadi kan Weva hampir jatuh," jelasnya.
Ken mendengus dan diam beberapa saat seakan sedang memikirkan sesuatu.
Tanpa sepatah kata Ken meraih kedua pergelangan tangan Weva dan melingkarkan di pinggangnya membuat Weva membulatkan kedua matanya.
Rasanya di detik ini Weva berhenti untuk bernafas membiarkan jantungnya berdetak sangat cepat bahkan rasanya seluruh tubuhnya terasa dingin mengigil.
"Jangan dilepas, yah! Gue takut lo jatuh," ujar Ken sembari menatap Weva 45 derajat.
Weva menganga menatap sebelah wajah Ken dengan hidung mancungnya yang terpampang jelas. Weva tak menjawab rasanya kedua bibirnya seakan kaku dan suaranya seakan sulit untuk berujar mengatakan sesuatu.
Jari-jari Weva tak bergerak sedikit pun. Rasanya kaku sehingga sukar untuk digerakkan. Mungkin kalau ada serangga yang mengigitnya Weva tak akan merasakannya.
Weva meneguk salivanya dengan bibir yang bergetar. Ia bahkan tak bisa bernafas sekarang.
Motor Vespa Ken kini melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalanan beraspal yang begitu padat oleh kendaraan. Hari ini hari minggu, jadi tak heran kalau kendaran lebih banyak yang berlalu-lalang untuk liburan.
"Kita kemana?" tanya Ken.
Weva tak menjawab pertanyaan Ken, sejujurnya ia kini sibuk mengatur nafasnya yang terasa sesak itu.
"Woy gendut!!!" teriak Ken membuat Weva tersadar.
"Apa, sih?"
"Lo tidur, yah?"
"Aa?"
"Lo tidur? Ah? Kenapa lo tidur?"
"Nggak! Weva nggak tidur?"
"Terus kenapa lo nggak ngejawab?"
"Apa? Weva nggak denger?"
"Apa? Lo ngomong apa, sih?"
Weva melongo. Apa yang Ken katakan?
"Iya," jawab Weva asal-asalan.
"Lo mau kemana, gue tanya?"
"Apa?"
"Oh."
"Apa, sih?" tanya Weva.
__ADS_1
Ken mengkerutkan dahinya dan segera menepikan motornya di tepi jalan. Ken menoleh menatap Weva yang menggerakkan tubuhnya untuk melihat wajah Ken
"Kok berhenti?"