Princess Endut

Princess Endut
25. Kabur


__ADS_3

"Udah, lah, Wev! Sekarang lo mau nurutin apa yang Nenek Ratum bilang dan lo mau jadi pengikut kayak Nenek Ratum?"


"Ya, nggak. Nenek Ratum aneh."


"Kalau gitu lo harus nurutin apa yang gue mau."


Weva menghela nafas lalu...


"Lari sekarang! Cepat!!!" teriak Wiwi membuat Weva tersentak kaget terlebih lagi disaat Wiwi yang langsung menariknya dan lari begitu saja meninggalkan Nenek Ratum yang terbelalak.


Apa yang Nenek Ratum inginkan belum terwujud.


"Wiwi! Weva!" teriak Nenek Ratum yang kini ikut berlari mengejar kepergian dua makhluk yang tengah mengihindar dari perintahnya itu.


Weva dan Wiwi dengan serentak menghentikan larinya lalu keduanya menoleh menatap Nenek Ratum yang terlihat berlari ke arahnya.


"Cepetan, Wev!" teriak Wiwi yang kembali menarik pergelangan tangan Weva membuat keduanya kembali berlari.


"Pak walio cepetan!" teriak Weva yang kini berlari menuju masuk ke dalam mobil.


Sementara Pak Walio yang sedari tadi asik mengobrol dan melontarkan kalimat gombalnya untuk Ina langsung mengernyit bingung.


Pak Walio tak mengerti mengapa Weva dan Wiwi itu harus berlarian seperti sedang dikejar anjing saja.


"Loh ini kalian semua kenapa?" tanya pak Walio.


Weva dan Wiwi tak menjawab, mereka berdua masih sibuk menutup pintu mobil dengan rapat.


Pak Walio menghela nafas. Seakan melupakan sosok kedua orang aneh itu, pak Walio menoleh menatap Ina dan tersenyum lebar.


"Biasalah Anak muda, hahaha."

__ADS_1


Ina ikut tertawa.


"Hah, Wiwi itu Anaknya baik sama persis seperti Ibunya yang begitu baik hatinya. Hah, kalau kita-"


"Heh, Papua!!!" teriak Nenek Ratum sembari menopang pinggang di teras rumah menatap pak Walio, makhluk yang paling ia benci di dunia ini sedang berdekatan dengan putri satu-satunya.  


Pak Walio yang mendengar suara membahayakan itu dibuat terbelalak karena kaget. Sepertinya suara itu tak asing lagi di telinganya hingga pak Walio bisa merasakan firasat buruk yang sepertinya akan segera menimpanya.


"Heh, Kau!!!"


Suara teriakan itu kembali terdengar membuat pak Walio menoleh. Pak Walio menelan ludah ketika ia bisa melihat sosok Nenek Ratum yang sedang berlari ke arahnya dengan kedua mata melotot nyaris keluar.


Sudah jelas jika pelototan itu untuknya. Jadi ini yang membuat Weva dan Wiwi berlari masuk ke dalam mobil. Rupanya ini sebuah bencana yang terlihat menakutkan.


Pak Walio mengusap rambutnya dengan jari gemetar disusul ia yang melangkah mundur sambil berusaha tersenyum ke arah Ina.


"Aduh, Aduk Ina sepertinya beta ini tidak boleh lama-lama di sini, eh."


"Ah, itu nanti dua orang itu bisa terlambat. beta pamit dulu, ya," ujar pak Walio lalu segera ikut berlari ke arah mobil.


"Heh, tunggu!!!" teriak nenek Ratum.


"Pak Walio, cepetan!!!"


"Cepetan, Pak!!!" teriak Weva dan Wiwi secara bergantian.


Pak Walio berteriak berusaha untuk lebih melanjukan larinya dan dengan cepat ia segera masuk ke dalam mobil.


"Ma, Mama mau ke mana?" tanya Ina ketika Nenek Ratum melintas di depannya.


Mobil hitam itu pun melaju cepat meninggalkan nenek Ratum yang kini berlari mendekati pinggir jalan raya yang terlihat masih sepi oleh kendaraan bermotor dan kendaraan beroda mobil.

__ADS_1


"Tunggu!!" teriak nenek Ratum yang kini berdiri di pinggir jalan sambil menopang pingganya dengan nafas ngos-ngosan.


"Bilang ini dulu dong!"


"Kim Namjoon!!!"


"Kim Seokjin!!!"


"Min Yoongi!!!".


"Jung Hoseok!!!"


"Park Jimin!!!"


"Kim Taehyung!!!"


"Jeon Jungkook!!!"


"BTS!!!" Sorak nenek Ratum.


Weva dan Wiwi membalikkan badannya ke arah depan setelah sejak tadi keduanya menatap Nenek Ratum yang sudah menjauh dan hilang dari pandangan.


"Untung kita bisa cepat larinya kalau nggak bisa mati kita."


"Iya, Wiwi. Wiwi bener, tapi Weva capek."


Wiwi melirik.


"Emang lo aja yang capek, gue juga tahu."


Weva kini hanya mampu terdiam dengan dadanya yang naik turun dengan beraturan. Sesekali ia mengusap keringat dari dahinya yang basah itu.

__ADS_1


__ADS_2