
"Cepetan!!!" teriak Ken dengan nada kesalnya menatap Weva yang tengah berlari ke arahnya yang kini tengah berada di area parkiran sekolah dengan tergesa-gesa.
Bibir Weva terbuka berusaha untuk mencari pasokan udara ketika dadanya terasa sesak.
Suasana parkiran sekolah kini nampak ramai pasalnya kini merupakan waktunya jam pulang bagi siswa dan siswi Cendrawasih Internasional Scholl.
"Cepetan Endut!" kesal Ken.
"Sabar!!!" teriak Weva membuat semua orang yang berada di area parkiran menoleh menatapnya.
Sejak kapan mereka dua mahluk itu bisa akrab?
"Hah!!!" Weva bernafas lega sambil menopang lututnya yang terasa ngilu telah berlari, yah walau ini tak sebenarnya tak jauh.
Weva bangkit dan menatap Ken dengan wajah lelahnya yang ia buat-buat, semoga saja dengan wajah lelah ini Ken tak terlalu menyiksanya. Weva ini butuh istirahat.
"Kamu sudah mau pulang?"
Ken menoleh setelah mendengar suara pak Ahmad. Dari sini Ken bisa melihat sosok Bapaknya yang tengah menyentuh bahu Brilyan.
Brilyan terlihat tersenyum seakan begitu sangat bahagia berada di samping pak Ahmad.
Dari sini Ken bisa melihat jika pak Ahmad menatap Brilyan begitu penuh perhatian. Ken menghela nafas. Pandagan tak suka saat melihat dua orang itu yang terlihat berdiri di gerbang sekolah.
Ken tak mengerti mengapa banyak sekali yang menyayangi Brilyan. Cerdas, ya itu yang pria itu punya hingga berhasil merebut hati semua orang terutama Bapaknya.
"Besok, kita latihan lagi, ya untuk soal olimpiade."
"Iya, pak."
Mobil hitam dan mewah itu terhenti tepat di depan gerbang sekolah membuat Brilyan dan pak Ahmad menoleh.
Pintu mobil terbuka hingga seseorang terlihat turun dari mobil didahului dengan sepatu menghitam dan mengkilat yang menyentuh tanah.
Tuan Johan kini berdiri tegak dengan tatapannya yang kini menatap ke arah Brilyan dan pak Ahmad membuat Brilyan langsung tertunduk.
"Brilyan! Masuk ke dalam mobil!" pintanya membuat Brilyan melirik menatap Pak Ahmad yang sedang menatapnya.
"Saya izin pulang dulu, ya, pak."
"Iya, Nak," jawabnya lalu mengangkat tangannya berniat untuk mengusap kepala Brilyan namun, belum sempat jari tangan itu menyentuh permukaan rambut Brilyan, Brilyan melangkah pergi.
Brilyan menghentikan langkahnya ketika ia telah berada di samping Tuan Johan yang terlihat diam dengan sorot matanya yang menatap ke arah pak Ahmad.
Tak lama Tuan Johan memasang kaca mata hitamnya dan melangkah masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan area sekolah.
Pak Ahmad menghela nafas panjang. Ia berpaling hingga tatapannya kini menatap ke arah Ken yang terlihat masih menatapnya.
Ken yang menyadari hal tersebut dengan cepat mengalihkan pandangannya menatap ke arah Weva.
__ADS_1
"Nih!"
Lempar Ken ke arah Weva pada helm yang di sambut cepat menggunakan pelukan oleh Weva.
"Kasar banget, sih," kesal Weva.
"Emang gue pernah lembut sama lo?" sinis Ken sambil sesekali menatap ke arah pak Ahmad yang terlihat masih menatapnya.
"Yah, kan nggak gini juga, dong!" ujar Weva penuh tekanan sambil memasang helm ke kepalanya.
"Heh! Masih untung gue mau minjemin lo helm dari pada lo nggak pake helm dan entar kita jatuh terus kepala lo pecah gara-gara kepentok aspal, emang lo mau?"
Weva hanya mampu terdiam dengan bibirnya yang sedikit di majukan sedangkan Ken sibuk dengan motor vespanya.
Ken melirik menatap pak Ahmad yang sudah tidak ada di tempatnya, ya sepertinya dia telah pergi. Ken kembali menoleh menatap Weva yang masih diam di belakangnya
"Heh!!! Malah diem lagi lo. Cepetan naik!" putus Ken membuat Weva dengan cepat naik ke jok motor Vespa Ken yang telah di nyalakan itu.
...****...
Ban motor Vespa Ken kini berhenti tepat di depan rumah Ken yang nampak bersih, tak ada bedanya seperti hari kemarin, namun kali ini pintu utama rumah nampaknya tertutup rapat.
Ken mengkerutkan alisnya menatap heran pada Weva yang masih diam di belakang bahkan posisi kedua tangannya masih memegang tas hitam milik Ken. Weva memang selalu berpegangan di tas Ken agar tidak jatuh.
"Heh!" teriak Ken sembari mengguncang keras motor Vespanya membuat Weva tersentak kaget.
"Malah nanya lagi lo. Heh!!! Lo mau sampai kapan duduk di motor gue? Cepetan lo turun! Jangan sampai motor gue hancur gara-gara berar badan lo."
"Iya, iya nghina melulu, deh kerjaannya," kesal Weva dengan cepat melangkah turun dan menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat.
"Lo nggak usah ngarep bisa masuk ke dalam terus makan ayam, hari ini Mama gue nggak ada di rumah, jadi walaupun gue ngecekik lo nggak bakalan ada yang nolongin lo di sini."
Weva cemberut. Sadis sekali omongan pria itu.
"Duduk lo di teras!"
"Di teras?"
"Ya, iya lah. Terus lo mau duduk di atap rumah?"
Weva hanya menghela nafas. Memangnya bisa ia naik ke atas sana.
"Gue mau ganti baju olahraga dulu dan setelah itu kita lari, emm maksud gue lo yang lari bukan gue. Lo lari keliling kompleks," jelas Ken sembari melangkah ke arah pintu dengan kunci rumah yang sudah ada di tangannya.
"Ken!" panggil Weva membuat Ken menoleh.
"Masa Weva olahraga pakai seragam sekolah? Weva udah bawa baju olahraga, tapi masa weva tuker baju di sini?" tanya Weva membuat Ken terdiam.
"Yah udah tukar aja di situ!" pinta Ken lalu kembali melangkah dan mulai membuka pintu dengan kuncinya.
__ADS_1
"Tapi Ken-"
"Apa lagi, sih?"
"Weva kan juga perempuan-"
"Terus lo maunya apa? Lagian di sini nggak ada juga yang liat lo ganti baju."
Gong Gong Gong
Suara gongongan Pinky terdengar membuat Weva dan Ken menoleh menatap Pinky yang berada di teras rumah .
"Yah, kecuali si Pinky," tambah Ken.
Weva tetap diam dengan wajah cemberutnya.
"Udahlah lo tukar baju lo di situ aja!"
"Tapi nanti kalau Ken-"
Ken mengernyit.
"Lo pikir gue mau ngeliat badan lo? Heh! Lagian mau lo telanj*ng di situ, yah nggak bakalan buat gue atau pun orang jadi ngiler sama lo. Malahan dia enek."
Weva terdiam dan beralih menundukkan kepalanya sembari meremas jari-jari gendutnya.
Ken yang terdiam itu langsung menghela nafas sambil menopang kedua pinggangnya.
"Buka sepatu lo!"
"Buka?"
"CK, buka sepatu lo terus lo ikut gue ke atas! Lo mau ganti baju di sini?"
Mendengar hal itu membuat Weva dengan cepat membuka sepatunya dan berlari masuk mengejar Ken.
...****...
Ceklek
Pintu terbuka cukup lebar membuat Weva yang sedari tadi berdiri di depan pintu itu melangkah mundur saat Ken berdiri di pintu masuk dengan wajah datar.
"Ini kamar gue," ujar Ken sambil menoleh menatap Weva yang masih terdiam sambil memeluk tasnya.
"Cepetan masuk! Mumpung gue berniat baik mau numpangin lo tuker baju di kamar gue."
Weva masih terdiam di luar dengan tatapannya yang berusaha melihat suasana di dalam sana.
"Cepetan masuk! Jangan nyuri lo, yah!" Tunjuk Ken lalu melangkah pergi meninggalkan Weva yang melongo.
__ADS_1