
Ken terpatung di tempatnya berdiri menatap mobil hitam yang Sasmita, Weva dan pak Walio tumpangi beranjak pergi meninggalkan Ken sendiri di tengah lapangan.
...****************...
Weva terdiam menatap ke arah luar jendela mobil dimana cahaya lampu jalan menerangi jalanan beraspal yang mobil ini lintasi serta berbagai jenis kendaraan yang berlalu lalang.
Weva merogoh tas sekolah hitamnya dan meraih handphone yang baru kali ini ia pegang setelah sekian lama ia tak hanya sibuk menghabiskan waktunya bersama Ken sejak sore tadi hingga malam hari. Yap, ini adalah salah satu peraturan dari Ken yang selalu melarang Weva untuk memegang handphone dengan alasan Weva tidak akan serius dalam olahraga, jika handphonenya aktif.
Weva terbelalak kaget mendapati notifikasi pada layar handphonenya yang sudah menyala itu.
"Aduh, kok Weva bisa lupa, sih?"
"Kenapa, Wev?" tanya Sasmita.
"Wiwi telfon Weva berkali-kali, tapi Weva nggak denger," jawab Weva.
"Loh, yah nggak apa-apa, dong. Lagian, kan kamu nggak denger, bukan disengaja. Tenang aja! Wiwi pasti ngerti. No problem, kan?"
"Aduh, Mommy. Masalahnya bukan itu."
"Terus?"
"Neneknya si Wiwi itu masuk rumah sakit."
"What?" kaget Sasmita.
"Pak Walio!" panggil Weva dengan wajah yang sudah khawatir.
"Iya, Non," sahut pak Walio cepat.
"Waktu terakhir kali Pak Walio liat Nenek Ratum, Nenek Ratum gimana? Dia baik-baik aja, kan?"
"Yang beta tahu calon mertua beta itu belum sadar Nona. Dia pingsang begjtu."
Weva mengkerutkan dahinya khawatir. Weva takut kalau Nenek Ratum sampai meninggal. Weva yakin jika hal itu sampai terjadi maka Wiwi pasti akan membencinya dan juga Tante Ina.
"Wait! Wait! Ini kok bisa ibunya Ina sampai masuk rumah saki?"
"Mungkin, Nona Weva yang punya badan itu timpa badan calon mertua beta sampai nyaris mati begitu," jelas Walio membuat Weva terbelalak dengan bibirnya yang menganga.
Sasmita ikut terkejut. Ia menoleh menatap Weva yang juga ikut menatanya.
"Astaga-"
"Ih bohong!" banta Weva cepat memotong ujaran Sasmita.
"Ah, pak Walio nggak tahu apa-apa."
"Yang bener Wev? You-"
"Nggak, Mommy! Ih Pak Walio bohong! Ih, ih ih." Kesal Weva sembari memukul lengan Walio yang malah tertawa.
"Tunggu! Tunggu! Jadi ini beneran ibunya Ina masuk rumah sakit?" tanya Sasmita dengan wajahnya yang serius.
__ADS_1
Weva terdiam dengan kembali ke posisi duduknya menyandarkan tubuhnya kesadaran kursi.
"Yang bener, Wev?" tanya Sasmita lagi.
Weva mengangguk perlahan dengan wajah sedihnya membuat Sasmita menggeleng pelan.
"Tapi, Weva nggak sengaja, Mommy. Weva sama Wiwi cuman peluk nenek Ratum terus-"
"Terus?"
"Te-terus, yah se-sesak nafas," jawab Weva pelan.
"Ya ampun Wev, Weva. You itu ada-ada aja, deh tiap hari kelakuan you itu."
Weva hanya mampu tertunduk dengan wajah yang sudah begitu sangat bersalah terlebih lagi dengan tante Ina jika Mommynya saja marah atas perbuatannya lalu bagaimana dengan a Ina, mungkin Tante Ina sudah benci dengan Weva.
"Pak walio!" panggil Sasmita.
"Iya Nyonya."
"Kita ke rumah sakit sekarang!" pinta Sasmita.
"Baik Nyonya."
...*******...
Suara langkah ketukan sepatu berbunyi ketika langkah Weva dan Sasmita yang melangkah di koridor rumah sakit menuju ruangan rawat nenek Ratum serta Pak Walio yang juga berjalan di belakang keduanya dengan langkah yang tergesa-gesa. Suasana rumah sakit kini telah sunyi dan sepi karena sekarang telah menunjukan pukul nyaris dua belas malam.
"Dimana, Pak?" tanya Sasmita menoleh menatap Walio.
"Di depan lagi Nyonya," jawabnya cepat sembari melangkah ke depan menjadi penunjuk jalan.
Walio menghentikan langkahnya lalu mengetuk pintu sebuah kamar setelah menelfon seseorang. Sudah pasti orang yang ditelpon Walio adalah Ina pasalnya, setelah Walio mengetuk pintu, Ina lah orang yang membukanya dan menyambut Walio dengan senyuman.
Sasmita dan pak Walio melangkah masuk meninggalkan Weva yang terdiam di bibir pintu. Rasanya Weva takut untuk memperlihatkan wajahnya pada Ina. Weva takut Tante Ina marah setelah membuat Nenek Ratum masuk rumah sakit.
"Ayo, Wev!" ajak Sasmita.
Ina dan pak Walio menghentikan langkahnya lalu ikut menoleh menatap Weva yang kini menjadi pusat perhatian mereka. Weva tertunduk tak berani untuk mengangkat pandangannya.
"We-we-weva diluar aja, deh," ujar Weva lalu melangkah pergi.
"Wev!" panggil Sasmita sembari melangkah berniat untuk mengejar kepergian Weva.
"Bu Sasmita!" panggil Ina membuat Sasmita menoleh.
"Biar saya saja."
Dari kejauhan nampak Weva sedang duduk di sebuah kursi panjang sambil tertunduk dan meremas jari-jari tangannya yang berkeringat. Ina melajukan langkahnya menghasilkan suara langkah yang membuat Weva dengan cepat bangkit dari kursi dan menatap Ina dengan wajah yang terlihat panik.
"Tan-"
"Nggak apa-apa! duduk aja!" ujar Ina memotong ujaran Weva.
__ADS_1
Weva tertunduk dan kembali duduk di tempatnya semula. Ina tersenyum walau tak dibalas oleh Weva dan perlahan ia duduk tepat di samping Weva.
"Kamu kenapa?"
"We-weva minta maaf, Tante," ujar Weva sembari menatap Ina yang rupanya sedari tadi menatap Weva. Weva kembali tertunduk. Rasanya sangat berat untuk melihat wajah Tante Ina.
"Kenapa harus minta maaf? Emangnya, Nak Weva salah apa sampai harus minta maaf sama Tante?"
Weva masih tertunduk dengan perasaan ragu untuk menjawab pertanyaan Ina.
"Emmmaaaaaa, We-va mi-minta maaf haaaa." Tangis Weva pecah.
Sudah sejak tadi ia berusaha untuk menahannya tapi tak bisa.
"Loh-loh? Kok nangis?" tanya Ina sembari merangkul bahu lebar Weva dan membawa kepala Weva dalam dekapannya.
"Ini salah Weva, Tante."
"Salah apa?"
"Ini salah Weva. Harusnya Weva nggak meluk Nenek Ratum jadikan Nenek Ratum seharusnya nggak masuk rumah sakit kayak gini," jelas Weva sembari terisak.
"Hey, hey, Wev!"
Ina menyentuh kedua pipi tembem Weva dan mengarahkan wajah Weva ke arah wajahnya hingga kedua sorot mata mereka bertemu.
"Kamu nggak salah, Nak. Nenek Ratum itu emang punya riwayat asma, jadi yang menyebabkan nenek Ratum masuk rumah sakit, yah karena dia sakit bukan karena dipeluk sama kamu," jelasnya.
"Tapi-"
"Wev, ingat! Semua yang terjadi di dunia ini itu sudah diatur sama yang di atas, jadi ini bukan kesalahan Weva."
Weva terdiam mencerna kalimat Tante Ina dengan suaranya yang begitu lembut membuat hati Weva menjadi tenang.
"Terus nenek Ratum udah sadar?"
"Emmm, belum."
"Ih tuuuu, kan belum sadar aaaaaa," Tangis Weva lagi.
Tante Ina tertawa sembari mengusap air mata weva yang sudah membasahi kedua pipinya.
"Udah, Wev! Ini mungkin cara agar nenek Ratum bisa istirahat lagian, kan nenek Ratum akhir-akhir ini sering begadang gara-gara nonton BTS."
Tante Ina tertawa membuat Weva juga ikut tertawa. Tante Ina yang merasa jika Weva sudah lebih membaik dan membawanya dengan perlahan menariknya lalu melangkah menuju ruangan rawat.
"Wiwi mana?"
"Ada di dalam."
"Udah tidur, yah?"
"Udah."
__ADS_1