
Ken terdiam menatap layar handphonenya di sebuah meja yang menjadi pondasi penopang dagunya. Layar handphone yang selalu ia tatap di setiap ada kesempatan menanti Weva menelponnya.
Penantian selama setahun, itu bukan hak yang mudah. Ken seakan dibuat gila olehnya.
Para trainer yang sedang berkumpul itu kini menatap Ken dengan serius.
"Kenapa, yah si bos dari dulu nggak pernah berhenti ngeliat handphonenya?" tanya salah satu dari mereka membuat para trainer yang lain menatap ke arah Ken.
"Mungkin dia nunggu kabar dari seseorang," tebak trainer lain.
"Oh, iya temen bos yang gendut itu kayaknya nggak pernah datang lagi, yah di tempat gym ini."
"Oh, iya yah. Kok gue baru kepikiran, yah?"
"Sekarang si gendut itu kemana? Kok nggak pernah muncul lagi?"
Para trainer lainnya menggeleng tak tahu. Sepetinya kehadiran Weva yang datang tiba-tiba dan lenyap juga dengan tiba-tiba, dia seakan hilang tanpa meninggalkan jejak.
Pria yang sedang meneguk air dari botol dingin yang ia pegang itu duduk di atas lantai. Meneguk beberapa air dan bicara, "Kayaknya selama kepergian gadis gendut itu bos Ken kayaknya berubah."
Ketiga sahabatnya itu menoleh. Mereka juga menyadari hal itu.
"Bener tuh. Dulu bos Ken itu periang, suka bercanda tapi sekarang udah nggak."
"Apa jangan-jangan-"
Ketiga sahabatnya itu ikut menoleh menatap satu sahabatnya yang tak melanjutkan ujarannya.
"Bos Ken suka sama si gendut itu," tebaknya.
"Hust! Jangan ngaur kamu. Bos Ken mana suka sama cewek gendut kayak gitu."
__ADS_1
"Bener juga, sih. Kalau diliat-liat bos Ken dan si gendut itu nggak cocok."
Ketiganya mengangguk tanda setuju.
...****************...
Suara kicauan burung terdengar merdu mengiringi terbitnya sang matahari pagi yang menyinari bumi pertiwi. Pagi ini begitu cerah seperti biasanya.
Wiwi melangkah melewati koridor sekolah sendirian. Yah, ini telah menjadi kebiasaan bagi Wiwi setelah Weva tidak ada. Hal ini sudah tak menjadi masalah bagi dirinya. Sendiri dan menyendiri telah menjadi teman baginya.
"Wi!!!" teriak seseorang membuat Wiwi menghentikan langkahnya dan menoleh mendapati Ken yang berlari menghampirinya.
"Kenapa lo?"
"Nggak," jawab Ken sederhana membuat Wiwi kembali melangkah disusul Ken yang ikut melangkah di samping Weva.
"Terus?"
"Lo udah dapat kabar dari Weva?"
"Belum juga," jawabnya sedih.
Keduanya kini terdiam sembari melangkahkan kakinya pelan melewati koridor menuju ruangan kelas.
"Hai Kak Ken!"
"Hai, Kak!"
"Selamat pagi!"
Suara sapaan dari adik-adik kelasnya kini kembali Ken dengar membuat Ken hanya membalasnya lewat senyum membuat adik-adik kelas yang berkumpul di bibir pintu masuk kelas itu menjerit.
__ADS_1
Hampir disetiap pintu ruangan kelas ada segerombolan siswi-siswi yang berkumpul untuk melihat atau menyapa idolanya itu secara langsung. Dulu Ken pernah mencoba untuk membalas semua sapaan mereka dan alhasil suaranya mendadak serak dan tenggorokannya juga terasa sakit.
Bukan puluhan sapaan yang Ken balas setiap pagi tapi ribuan. Berbeda lagi jika jam istirahat. Apalagi jika, Ken masuk ke kantin untuk makan disaat itulah Ken hanya mampu menganggukkan kepalanya membalas sapaan orang-orang seperti burung pengangguk.
Ken duduk di kursinya dan merogoh saku bajunya hingga ia meletakkan handphone ke atas permukaan mejanya setelah menyingkirkan ribuan bingkisan dari para fansnya. Yap, meja yang sama saat ia duduk di kelas tingkat 1.
Ken sengaja membawa kursi dan mejanya itu ke kelas 12 yang berada di lantai tiga. Ken hanya mau kalau sosok Weva selalu berada di sampingnya. Itulah mengapa Ken dengan susah payah membawa kursi dan mejanya di lantai tiga. Lagi pun Ken tak sendiri mengangkatnya ke lantai tiga. Yap, Wiwi siapa lagi gadis cerewet yang setahun belakangan ini menjadi sahabat akrabnya. Dia yang membantu Ken mengangkat meja ini.
Pelajaran dimulai seperti biasa dan lancar-lancar saja kali ini hingga menjelang jam istirahat.
Wiwi duduk termenung di mejanya menatap Ken dari kejauhan yang tengah dikerumuni oleh puluhan siswi-siswi dari berbagai tingkatan kelas. Sekarang rasanya dunia terbalik. Dulu yang menjadi incaran para gadis-gadis di sekolah ini adalah Brilyan akan tetapi, sekarang yang menjelma menjadi pangeran sekolah adalah Ken.
Handphone Wiwi berdering dengan nada panggilan ciri khasnya membuatnya dengan cepat merogoh saku bajunya dan menatap layar handphonenya.
Dady Walio
Yap, nama itu yang tertera di sana membuat Wiwi menghela nafas berat. Tuhan, Dadynya ini kembali menghubunginya.
"Halo, Dady."
Suara dari sebrang terdengar membuat Wiwi terbelalak kaget tak menyangka. Kedua bibirnya secara otomatis terbuka.
"Beneran?" tanyanya dengan wajah syok berat.
Wiwi bangkit dari mejanya dengan wajah yang masih syok seakan tak menyangka dengan apa yang pak Walio katakan lewat telfon.
Ini serius?
Apa ini serius?
"Ken!!!" teriak Wiwi membuat Ken yang tengah menandatangani sebuah buku harian salah satu milik fansnya menoleh cepat.
__ADS_1
Bukan hanya Ken yang menoleh, tetapi semua para fans Ken ikut menoleh. Semuanya terdiam, tak ada yang bicara. Mereka fokus menatap Wiwi yang terlihat bergetar di tempatnya berdiri.
"Kak Wevo udah balik dari Korea!!!" teriak Wiwi.