
"Liat ajah terus sampai mampus."
Weva menoleh mencari seseorang yang suaranya tak asing lagi di telinga Weva. Senyum indahnya merekah membalas senyum yang dia berikan.
"Wiwi!" Kaget Weva dengan gerakan tubuhnya yang berniat untuk bangkit namun, dengan cepat Wiwi menahannya dan beralih untuk duduk di sebelah Weva.
"Wiwi! Wiwi udah nggak marah, kan sama Weva?" tanya Weva dengan wajah cemasnya.
Wiwi tertunduk dan perlahan mengangguk. Ia sendiri sekarang merasa malu untuk kembali memperlihatkan wajahnya kepada Weva. Wiwi mengaku salah dalam hal ini, dimana kemarin ia marah besar kepada Weva tanpa ia sadari jika yang Weva ujarkan kepadanya kemarin itu benar.
Semuanya ini adalah salah Wiwi. Bisa-bisanya ia bisa pengaruhi oleh geng Sangmut yang jelas-jelas adalah orang yang jahat. Mana mungkin Weva yang sudah cukup Wiwi kenal akan meninggalkan seperti apa yang geng sangmut katakan.
Wiwi mengenal Weva bahkan lebih dari kedua orang tua Weva.
"Ih jangan gitu, dong, Wi? Bilang iya, kek ke Weva biar Weva senang."
"Iya, Wev."
"Aaaaah, Wiwi!!!" girang Weva dan segera memeluk erat tubuh Wiwi yang kini menggeliat.
"Wev, wev, wev!" tegur Wiwi yang terasa sesak sembari menepuk-nepuk punggung Weva dengan cepat.
"Kenapa, Wi?" tanya Weva yang masih memeluk tubuh Wiwi.
"Gue nggak bisa nafas," jawab Wiwi penuh tekanan.
Weva yang mendengar hal tersebut dengan cepat melepaskan pelukannya membuat Wiwi nampak menarik nafas begitu cepat.
"Kebiasaan banget, sih lo, Wev meluk gue kayak gitu."
"Kan rindu, Wi."
"Rindu, yah rindu, tapi nggak kayak gini juga, dong. Lo meluk atau mau ngebunuh gue, sih?"
"Hehehe, dua-duanya. Lagian Wiwi nggak rindu apa sama Weva?"
"Yah, rindu lah."
"Yeeee!!!"
Weva kembali memeluk Wiwi dengan erat sembari tertawa bahagia membuat Wiwi kembali menjerit-jerit.
"Yang di belakang kalau mau ribut nggak usah di sini!!!" tegur salah satu penjaga perpustakaan membuat Weva dan Wiwi menoleh.
"Kalau mau berisik mending kamu keluar!"
__ADS_1
Semua orang yang sedang sibuk membaca buku itu langsung menoleh menatap ke arah Wiwi dan Weva yang langsung terdiam kaku.
"Ma-maaf, pak," ujar Weva.
Ketika penjaga perpustakaan itu berpaling membelakangi Weva dan Wiwi, keduanya langsung tertawa kecil.
Weva yang masih tertawa kecil itu langsung menoleh menatap Brilyan yang terlihat menatap Weva namun, dengan cepat ia mengalihkan tatapannya.
Weva yang menyadari hal tersebut langsung tertunduk dan tersenyum kecil. Kali ini ia tak menyesal telah membuat penjaga perpustakaan itu marah karena hal ini membuat Brilyan menatapnya walau hanya sebentar.
...****************...
"Sekali lagi gue minta maaf, yah Wev," ujar Wiwi lembut sembari menyentuh jari-jari tangan Weva.
"Iya, kenapa, sih minta maaf mulu dari tadi?"
"Yah, soalnya gue udah marah sama lo kemarin dan Wev-"
"Em," sahut Weva.
"Gue ngerasa bersalah banget sama lo. Gue akuin Wev kalau ini gue salah," ujarnya penuh ketulusan.
Weva menghentikan langkahnya yang sedari tadi berjalan bersisian dengan Wiwi di koridor menuju ruangan kelas.
"Udahlah, Wi! Nggak usah dipikir!" ujar Weva lalu menggengam jari-jari Wiwi dan membawanya melangkah maju.
Rasanya nafas dan dada Weva terasa sesak. Entah mengapa ini terjadi namun inilah yang Weva rasakan dan sukar untuk dijelaskan.
"Wev," bisik Wiwi membuat Weva tersentak kaget.
"Itu Ken!" bisik Wiwi lagi.
"Hust! Weva tahu."
Weva menghela nafas dan segera memasang wajah datarnya lalu melangkah sembari tangganya yang masih menggenggam pergelangan tangan Wiwi. Weva berusaha untuk terus melangkah mengikiskan jarak antara ia dan Ken.
"Ayo Wev! Jangan sampai Ken menganggap jika Weva ini lemah dan amarah yang Weva bilang kemarin itu bener, itu bukan sebuah candaan."
Ken yang masih melangkah dengan gagahnya itu tersenyum sinis dan merapikan handset yang terpasang di telinganya. Ken kembali memasukkan kedua ujung jari-jari tangganya ke saku celananya sembari terus melangkah.
"Gue yakin si gendut itu pasti bakalan datang sama gue terus minta maaf dan memohon-mohon buat nerima dia buat nurunin berat badannya," batin Ken.
"Hah, Weva yakin pasti Ken sengaja lewat di sini biar bisa ketemu sama Weva dan setelah itu Ken bakalan minta maaf dan ngakuin kesalahannya kemarin," batin Weva penuh keyakinan.
Keduanya terus melangkah hingga jarak keduanya semakin dekat dan tersisa tiga langkah lagi. Rasanya detak jantung keduanya jadi tak karuan membuat keduanya menjadi cemas.
__ADS_1
Weva yang merasa gelisah itu tanpa sengaja jari-jari tangannya menjadi tegang membuat Wiwi meringis merasakan sakit pada pergelangan tangannya yang dipegang erat oleh Weva.
Jarak keduanya kini semakin dekat menyisakan beberapa detik lagi untuk keduanya benar-benar dekat.
Tiga
Dua
Sa-
"Loh, loh? Itu si gendut kenapa nggak manggil gue buat minta maaf dan ngajak buat nurunin berat badan dia lagi, sih?" batin Ken kesal.
"Hah! Dasar nggak punya perasaan! Masa Ken nggak bilang maaf ke Weva?" batin Weva yang ikut kesal.
"Ah, Wev!" jerit Wiwi yang dengan cepat melepas pegangan tangan Weva dari pergelangan tangannya yang kini terlihat memerah.
Weva menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Ken yang terlihat tak menoleh untuknya.
"Hah, dasar pria monyet pemanjat tower tangki yang tak punya hati," batin Weva kesal sembari menghempaskan kedua kakinya secara bergantian.
Weva kembali berpaling dan menarik Wiwi yang kini kembali menjerit merasakan cengkraman tangan Weva yang menjerat pergelangan tangannya.
Ken menghentikan langkahnya yang semula santai kini mendadak lambat. Ia menoleh menatap sosok Weva dari kejauhan yang melangkah sudah cukup jauh bersama dengan sahabat cerewetnya itu, Wiwi.
Ken menggeleng tak menyangka dengan apa yang ia lihat saat ini. Ken mendecakkan bibirnya kesal dan kembali melangkah jauh.
Ken tak menyangka jika Weva akan bersikap seperti itu.
"Ok gendut. Kita liat siapa yang bakalan nyerah! Lo atau gue," kesal Ken.
Ken menghela nafas dan kembali melanjutkan langkahnya pergi.
Weva terus menarik pergelangan tangan Wiwi hingga keduanya telah tiba di depan kelas membuat Wiwi dengan cepat menghempas tangannya yang sudah mati rasa itu.
"Lo kenapa, sih Wev?" tanya Wiwi sembari menyentuh pergelangan tangannya yang terasa sakit.
Weva terdiam dengan pandangannya yang menatap ke arah tempat dimana Ken tadi melintas.
"Woy, Wev!!!" teriak Wiwi.
"Apa, sih Wi?" ujarnya dengan wajah kesal.
"Yah, lo kenapa?"
Weva terdiam setelah mendengar pertanyaan Wiwi dan kembali menatap ke arah tempat dimana Ken melintas tadi. Wiwi mengernyit heran dan ikut menatap apa yang telah menjadi pusat perhatian Weva saat ini hingga mengabaikan pertanyaannya.
__ADS_1
"Woy!!!" teriak Wiwi.