
"Cantik," ujar Ken membuat Weva dengan cepat menoleh.
"Emm?" sahut Weva dengan cepat menoleh menatap Ken yang segera mengalihkan pandangannya kembali menatap langit.
"Ken ngomong apa?" tanya Weva walau ia tahu Ken baru saja mengatakan kata cantik.
"Nggak, itu langit malam ini cantik banget," ujar Ken.
Weva mendecakkan bibirnya dan menghembuskan nafas dengan kasar membuat Ken terheran. Ia melirik menatap Weva yang kembali diam.
"Idih, kenapa lo? Lo pasti kegeEran, ya ngira gue ngomong lo cantik. Iya, kan?" ujar Ken dengan tatapan menggodanya.
"Ih, siapa yang kegeEran, sih?"
"Lo."
"Nggak, enak aja. Weva nggak kegeeran tahu," bantahnya.
"Udahlah bilang aja kalau lo itu pasti udah kegeeran sama ucapan gue, iya, kan? Udah lah ngaku aja!"
"Nggak! Apaan, sih Ken? Maksa banget, deh dari tadi," kesal Weva membuat raut wajahnya cemberut.
Ken bangkit dan memiringkan tubuhnya sembari menopang kepalanya menatap Weva yang spontan ikut menatap Ken.
"Tapi jujur kok lo cantik," ujar Ken dengan nada suara yang terdengar pelan.
Weva terdiam menatap Ken yang nampak terdiam dengan wajah yang begitu serius menatapnya. Apakah Ken serius? Kini hal itu yang memenuhi pikiran Weva sekarang.
Ken menunduk dengan wajah sedihnya lalu perlahan ia kembali menatap Weva yang masih terdiam. Ken mendekatkan wajahnya ke arah wajah Weva membuat wajah tampannya itu begitu dekat dengan wajah Weva yang kini mempias.
Dug dug dug!!!
Detak jantung Weva kini berdetak sangat cepat membuat perasaannya kini jadi tidak karuan. Wajah tampan Ken kini begitu sangat dekat membuat Weva menjadi sulit untuk bernafas. Rasanya ini aneh, benar-benar aneh.
"*Apa ini?"
"Apa yang bakalan terjadi? Apa Ken mau cium Weva*?"
"Apa ini serius?"
"Sosok Ken mau cium gadis gendut kayak Weva? Yang benar saja."
"Sekarang?"
"Weva belum siap."
Weva menelan ludah membiarkan Ken semakin mendekatkan wajahnya yang kini berjarak beberapa centi. Ken membuka bibirnya perlahan namunnpasti membuat wajah Weva mempias kehabisan nafas.
Ken semakin membuka mulutnya membiarkan hembusan nafas membelai wajah Weva dan...
"Aaaaaaa,Tapi boong!!!" teriak Ken lalu tertawa dan berlari meninggalkan Weva yang sontak memejamkan kedua matanya karena terkejut.
"Dasar GeEr lo, Endut!!!" teriaknya membuat Weva mendeckkan bibirnya kesal dan segera bangkit dari rerumputan.
"Kampret lo, Ken!!!" teriak Weva kesal dan begitu sangat-sangat marah.
__ADS_1
Ken menghentikan larinya dan tertawa terpingkal-pingkal menatap wajah kesal yang Weva perlihatkan. Rasanya tak ada yang lebih lucu dibandingkan hal ini.
"Apa lo, hah? Hahahaha," Ken kembali tertawa sembari menyentuh perutnya seakan tak kuasa untuk menahan gelak tawa.
Weva menghempas-hempaskan kedua kakinya bergantian menyuarakan rasa kekesalannya. Weva yang salah kali ini. Entah mengapa pikiran bodoh itu datang dan mengira kalau Ken akan menciumnya.
Memangnya siapa yang ingin mencium gadis gendut seperti dirinya. Malu atau marah? Weva bahkan tak tahu harus melakukan apa.
"Hahahaha," tawa Ken terdengar lagi membuat Weva menatapnya tajam.
"Apa lo?" tanya Ken diiringi wajahnya yang begitu sumringah setelah menjahili Weva.
"Apaan, sih lo? Nggak lucu tahu nggak!!!" teriak Weva dengan nada kesal.
"Hahaha. Udah ngaku aja! Lo pasti ngira gue mau cium lo, kan? Iya, kan?"
"Nggak! Apaan, sih?"
"Waaaaa, udahlah ngaku aja! Lo GeEr, kan ngira gue mau cium lo?" Tunjuk Ken dengan wajah pasang menyebalkan membuat Weva semakin malu.
"Nggak!"
"Lo GeEr pasti."
"Apaan, sih? Udah Weva bilangin Weva nggak GeEr!!!" teriak Weva sembari menatap Ken yang berada agak jauh darinya.
"Hahaha, dasar GeEr."
"Nggak lucu!!!"
"Nih sini, nih biar gue cium! Umwaaaaaa, bweeee," ejek Ken sembari menjulurkan lidahnya dan menggerakkan bokongnya kanan, kiri membuat Weva mendengus kesal.
"Apa? Sini lo kalau lo berani!" tantang Ken.
Dengan rasa kesal Weva berlari mengejar Ken yang kini ikut berlari menjauhi Weva diiringi suara tawa oleh Ken yang membuat Weva semakin mengamuk dan melajukan larinya.
Ken tetaplah Ken, pria yang memiliki perut yang sixpack itu mempunyai lari yang cukup cepat membuat Weva kewalahan untuk mengejarnya.
"Ayo! Nih, nih tangkap gue!" Canda Ken menghentikan larinya dan berdiri menghadap Weva yang masih berlari.
Weva menatap tajam Ken yang kini nampak mengejeknya dengan sengaja menghentikan larinya dan berdiri. Weva semakin melajukan larinya mengikiskan jarak antara ia dan Ken.
"Apa? Sini lo, Endut! Ayo sini!"
Weva terdiam. Bibirnya mengerucut kesal dan dadanya terlihat kembang kempis dengan cepat.
"Sini cepetan!" ejek Ken lalu tertawa.
"Aaaaaa!!!" teriak Weva disaat ia benar-benar telah dekat dengan Ken.
Ken dengan cepat menyingkir membuat Weva yang tak siap dengan hal itu tanpa sengaja terjatuh membuat tubuhnya tersungkur keras dipermukaan rerumputan.
Ken menoleh menatap Weva yang terlihat meringis kesakitan membuat Ken meledakkan tawanya.
__ADS_1
"Hahahaha, kenapa lo? Gue di sini, nih bukan di situ? Mau nangkap udang lo di situ?" ledek Ken dan kembali tertawa.
Weva membalikkan tubuhnya dan menatap Ken yang masih tertawa begitu jahat. Wajah Weva cemberut dan beralih untuk menatap tubuhnya yang bisa saja terluka setelah terjatuh tadi.
Ken yang sedari tadi hanya sibuk tertawa kini perlahan suara tawanya memelan menyisakan suasana sunyi.
Ken yang masih terdiam itu perlahan menundukkan kepalanya sembari menopang kedua lututnya menatap Weva yang terlihat cemberut.
"Kenapa lo?"
Tak ada jawaban dari Weva. Ia diam sambil mengusap sikunya.
"Lo marah, yah?"
Weva mengangkat pandangannya dan menatap Ken dengan sinis. Pertanyaan bodoh apa yang Ken tanyakan untuknya. Sudah jelas ia marah kepada Ken dan salah satu yang membuat Weva marah adalah alasan ia jatuh tersungkur di sini.
"Lo marah?"
Weva kembali tertunduk menolak dirinya untuk ditatap oleh Ken. Ken mengangguk seakan telah mendapatkan jawaban dari Weva.
Ken yang masih terdiam itu dengan pelan jongkok di depan Weva yang masih cemberut.
"Lo-"
Plak!!!
Suara tamparan kecil terdengar disusul Weva yang berlari sambil tertawa meninggalkan Ken yang awalnya ingin berujar langsung terbelalak kaget sambil menyentuh pipinya yang telah ditampar. Ken yang masih syok itu segera menoleh menatap kepergian Weva.
Weva menghentikan larinya dan menoleh menatap Ken yang hanya mampu terdiam dengan wajah tak menyangkanya.
"Emang enak ditampar? Yahahaha!!?" ejek Weva.
"Ayo sini kejar Weva! Bweeee!!!" teriaknya dan menjulurkan lidahnya persis seperti apa yang Ken tadi lakukan kepada Weva.
"Tunggu lo!!!" teriak Ken kesal lalu bangkit dan mengejar Weva yang kini terbelalak kaget.
"Aaaaaa!!! Jangan kejar Weva!!!" teriak Weva sembari berlari menjauhi Ken yang masih mengejarnya.
"Berhenti lo, Eendut!!" teriak Ken.
"Nggak!!!!" Balas Weva.
"Berhenti nggak lo!!!"
"Aaaa!!! Jangan kejar Weva, Ken. Ampuuun!!!"
"Jangan lari!!!"
"Weva minta maaf!!!"
"Maaf lo gue tolak!!!"
"Jangan-"
__ADS_1
Lari Weva mendadak terhenti setelah dari kejauhan ia menatap wanita dengan jas hitam serta pria yang sudah tak asing lagi bagi Weva. Walio, yah dia adalah pak Walio dan wanita disampingnya adalah Sasmita, Mommy dari Weva yang terlihat berdiri sambil menatapnya dingin.
"Mommy?" bisik Weva pelan.