Princess Endut

Princess Endut
109. Berubah


__ADS_3

Ken membaringkan tubuhnya itu ke atas permukaan kasur dengan helaan nafas panjang.


Kedua matanya kini menatap ke arah langit-langit kamarnya. Tak berselang lama ia kembali bangkit dan memutuskan untuk duduk di pinggir kasurnya.


Ia mengusap rambutnya itu hingga ke wajahnya.


"Gimana sekarang?"


"Gue nggak tahu lagi mau ngapain?"


"Apa gue udah buat salah sama Weva? Apa yang selama gue lakuin ini salah atau Weva yang terlalu lebay."


"Gue ini cuman berniat baik. Gue ini udah serius mau bantu dia, tapi kenapa dia nganggapnya sebagai siksaan, sih?"


"Gue nggak nyiksa! Gue cuman mau bantu."


"Emangnya gue salah apa?"


Ken mendengus kesal dan merebahkan kembali tubuhnya.


"Gue yakin si Weva pasti akan berubah besok dan nggak bakalan marah-marah lagi kayak tadi."


"Emangnya dia bisa apa nurunin berat badannya tanpa gue?"


"Hem, liat aja besok! Besok pasti dia bakalan nyamperin gue dan minta maaf. Oky, kita liat aja!"


...****************...


Cendrawasih internasional School


Pukul  6:40


Suasana ruangan kelas kini menjadi berisik dimana sekolah yang sudah ramai dengan kehadiran murid-murid yang sudah berdatangan.


Weva melangkah turun dari mobil setelah pak Walio membuka pintu mobil.


"Terima kasih, pak Walio."


"Sama-sama, Non Weva," jawab pak Walio.

__ADS_1


"Entar tolong jemput Weva, ya!"


"Jemput? Bukanya, Non Weva pulangnya sama cowok yang naik vespa itu, ya?"


"Udah nggak lagi," jawab Weva lalu ia melangkah pergi.


Pak Walio terdiam sejenak dengan wajah bingungnya sembari terus menatap Weva yang melangkah pergi.


"Non Weva berantem?"


Weva tak menjawab. Ia tetap saja melangkah pergi tanpa memperdulikan pertanyaan dari Pak Walio.


...****************...


Ken duduk sembari mengangguk-anggukan kepalanya yang tengah asik mendengarkan musik rock dari handset yang terpasang di telinganya. tangan Ken bergerak-gerak seakan sedang asik bermain drum dengan lihainya. 


Gerakan tangan Ken terhenti seketika ketika ia berhasil menatap Weva yang berdiri di bibir pintu dengan wajahnya yang nampak canggung menatapnya.


"Nah, itu dia si gendut, pasti setelah ini dia bakalan minta maaf sama gue," ujar Ken pelan dengan nada yang berbisik yang nyaris tak terdengar.


Weva menghela nafas panjang berusaha untuk mengatur nafasnya yang saat ini sedang gundah.


Weva memejamkan kedua matanya dengan erat.


"Ayo, Wev! Buat Ken sadar kalau Weva itu benar-benar marah sama Ken!" batin Weva.


Weva kembali menatap Ken dan meliriknya  begitu sinis. Entah mengapa tapi, rasanya Weva hanya ingin memberi tahu jika ia benar-benar telah menghentikan niatnya untuk menurunkan berat badan ini.


Ken membulatkan matanya karena terkejut setelah melihat tatapan sinis dari Weva namun, Ken berusaha untuk bersikap tak masalah dengan hal itu.


Ken ikut membalas tatapan sinis Weva lalu kembali menggerak-gerakkan kepalanya serta menggerakkan kedua tangannya yang memegang dua buah pulpen seakan-akan ia sedang memainkan drum dengan santainya.


Apa tatapan sinis itu untuk dia? Benar untuk dia? Hah, bahkan ia baru menyadari hal ini. Seorang Weva, si gadis gendut itu melirik Ken dengan sinis. Yang benar saja.


Weva benar-benar telah berubah, ini yang Ken rasakan saat ini.


Weva melangkah dan duduk di kursi paling belakang. Tempat kursi kosong yang jarang orang tempati duduk, terakhir kali dihuni oleh murid baru dan kemudian murid tersebut pindah sekolah lagi. Hanya ada satu kursi dan meja di sana dan itu membuat Weva terasa asing persis seperti murid baru yang tak tahu apa-apa.  


Wiwi yang baru saja telah tiba di dalam kelas mulai memelankan langkahnya. Wiwi menatap Weva dan Ken secara bergantian. Baru kali ini keduanya tidak duduk di satu meja yang sama. Mereka juga nampak bersikap biasa-biasa saja. Sikap Ken mendadak seakan tak mengenal Weva dan begitu pun sebaliknya.

__ADS_1


Kini yang muncul dipikiran Wiwi adalah, apakah mereka bertengkar sehingga bersikap aneh seperti itu. Mereka seperti orang asin yang tak saling mengenal.


Nampaknya bukan hanya Wiwi yang menyadari hal tersebut tapi, semuanya. Semua murid-murid kini nampak menoleh  menatap Ken dan Weva secara bergantian lalu mereka semua saling berbisik, ini sudah jelas jika mereka tengah membicarakan hubungan Weva dan Ken yang tiba-tiba saja berubah.   


Tak berselang lama beberapa murid yang sedang asik bercanda gurau di luar kelas dengan tergesa-gesa berlari masuk ke dalam kelas setelah melihat kedatangan Bu Yungmi yang datang secara tiba-tiba sembari mengibas-ngibaskan kipas pink-nya.


Suara gemuruh kursi yang bergesekan di lantai membuat murid-murid lainnya nampak merapikan posisi duduknya seakan siap untuk menyambut kedatangan Bu Yungmi.


Pelajaran kini berjalan seperti biasanya dimana kali ini Bu Yungmi kembali bernyanyi ampar-ampar pisang sembari mengayun-ayunkan kedua tangannya.


 


...****************...


Weva duduk termenung sembari menopang dagunya dengan rasa bosan disaat jam istirahat. Suasana ruangan kelas kini menjadi sunyi pasalnya hanya ada Weva di kelas ini, yah rasanya semuanya telah melupakan sosok gadis gendut ini.


Weva membaringkan kepalanya ke atas meja dan memejamkan kedua matanya yang menolak untuk menatap suasana kelas yang sunyi dan hening.


Tiba-tiba Weva teringat sesuatu membuatnya dengan cepat bangkit dari meja dengan kedua matanya yang terbuka sempurna.


"Brilyan," ujar Weva dengan raut wajah bahagianya.


Perpustakaan


Weva menurungkan buku dari pandangannya yang menatap bahagia Brilyan yang dari kejauhan tengah sibuk membaca dan sesekali menulis di bukunya.


Itu buku catatan yang Brilyan beli di toko alat tulis yang berada di depan di taman pasar malam tempat hiburan. Yah, Weva tahu semua itu. Apa, sih yang Weva tak tahu mengenai Brilyan si pujaan hati Weva.


Weva tersenyum bahagia. Rasanya ia seperti segar dan bugar setelah melihat Brilyan seperti ini. Sudah lima hari Weva tak melihat Brilyan dan mengikutinya seperti polisi yang menyamar menjadi orang biasa hanya untuk mengikuti seorang boranan.


Weva tersenyum dan menopang dagunya. Jika saja ada mata yang bisa berbunga-bunga karena bahagia mungkin, ruangan perpustakaan yang bertingkat ini sudah penuh dengan bunga-bunga dan penyebabnya adalah Weva.


Weva tak pernah berfikir entah sampai kapan ia akan melakukan hal ini dan menjadi pengagum Brilyan. Weva sangat suka dan akan melakukan hal ini sampai kapan pun.


"Liat aja terus sampai mampus."


Weva menoleh mencari seseorang yang suaranya tak asing lagi di telinga Weva. Senyum indahnya merekah membalas senyum yang dia berikan.


"Wiwi!" kaget Weva dengan gerakan tubuhnya yang berniat untuk bangkit namun, dengan cepat Wiwi menahannya dan beralih untuk duduk di sebelah Weva.

__ADS_1


__ADS_2